Ekonomi Blockchain yang Mengubah Dunia

Ketika artikel kami tulis, 5 September 2017, mayoritas mata uang virtual (MUV), termasuk bitcoin BTC) terjerembab, menyusul larangan Pemerintah Tiongkok terhadap penyelenggaraan Initial Coin Offering (ICO) oleh banyak perusahaan rintisan, pada Senin, 4 Agustus lalu. Sebelum pengumuman resmi itu, desas desus larangan itu, membuat harga Bitcoin sebenarnya terus merosot sejak 2 September, ketika sempat menyentuh 4.963 USD per BTC dan turun ke 4.161 USD per BTC tiga hari berikutnya. Sedangkan MUV lainnya turun rata-rata hingga 5 persen dalam 24 jam.

Itu adalah harga bitcoin tertinggi sepanjang masa, sejak diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto (bukan nama sebenarnya) pada akhir 2008. Selama satu tahun, harga bitcoin meningkat hingga 686 persen. Pada 5 September 2016, harga satu bitcoin hanya 606 USD.

Sikap pemerintah Tiongkok dan berikutnya Bank Sentral Rusia tidak diduga sebelumnya, terlebih-lebih ketika harga bitcoin sedang “menembus langit”. Namun pemerintah Tiongkok dan Rusia memiliki alasan rasional atas keputusan itu, pertama, sebab ICO, yang merupakan cara baru mengumpulkan dana dari publik dalam bentuk MUV, sejak awal tahun ini sebagian cenderung mengarah kepada penipuan (scam). Sebab, dengan memanfaatkan blockchain Ethereum atau NEO, setiap orang bisa membuat token (bakal MUV) sendiri dan dijual dalam penyelenggaraan ICO. Padahal proyek yang ditawarkan banyak yang baru sebatas gagasan dasar, produk sama sekali belum ada, karena masih dalam tahap awal. Karena belum ada regulasi, ICO berjalan sesuka hati dan tidak jaminan proyek berjalan mulus di masa depan. Dengan membeli token (biasanya dengan harga sangat murah, kurang dari 1 USD) para partisipan ICO berharap proyek yang akan dijalankan berjalan baik dan harga token naik ketika masuk di pasar. Intinya tidak ada kepastian dalam ICO, sekadar spekulasi.

BACA JUGA

Kedua, tidak sedikit startup yang bermarkas di Tiongkok sendiri yang bermain ICO seperti ini dan membungkusnya dengan metode multi level marketing. Di Indonesia juga semakin marak cara seperti ini. Asal tahu saja pasar MUV terbesar saat ini adalah di Tiongkok, selain Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan. Maka, tatkala pemerintah Tiongkok “menghadang” ICO dan nantinya berencana akan membuat semacam regulasi khusus terhadap itu, maka setidaknya memberikan rasa aman dan percaya kepada warga yang ingin berinvestasi di ICO ini.

Ketiga, Kepanikan pasar MUV adalah konsekuensi logis dari langkah pemerintah Tiongkok dan berimbas pada mata uang yang lain, sebab dalam ICO, praktis MUV yang digunakan adalah bitcoin atau ether (ETH). Situasi pun semakin tak pasti, karena pemerintah belum memastikan kapan akan mengeluarkan regulasi itu dan seperti apa kadarnya. Namun, bisa jadi pasar MUV akan bullish dalam waktu dekat dan mencetak momen-momen baru.

Situasi ini adalah titik terparah pasar MUV sejak peristiwa peretasan bitcoin di MtGox pada Juni 2011. Perusahaan yang berbasis di Jepang itu menyatakan diri bangkrut setelah peretas mencolong bitcoin yang setara dengan 460 juta USD, termasuk kasus website Silk Road yang menjual barang dan jasa haram dengan metode bayar bitcoin.

Keempat, pengelola negara (tak hanya Tiongkok) telah dapat memisahkan konsep antara MUV ataupun digital asset dengan blockchain sebagai sebuah teknologi baru. Bahwa blockchain adalah perangkat yang dimanfaatkan tidak hanya untuk membuat MUV, format digital bermanfaat lainnya. Teknologi blockchain memungkin kita membuat sistem yang jauh berbeda dengan apa yang kita rasakan saat ini. Yang utama tentu saja, biaya kirim uang antara negara secara global akan semakin murah dan cepat. Bayangkan berapa fee transaksi yang harus Anda bayarkan di Western Union, ketika Anda ingin mengirimkan uang dari Medan ke Pulau Pinang Malaysia. Ketika Anda menggunakan sistem bank biasa, syukur jikalau antar bank terintegrasi, sehingga transfer berlangsung instan. Bagaimana jikalau tidak, maka uang Anda setidaknya sampai dalam 2-3 hari dengan biaya yang tidak murah.

Nah, blockchain mengubah semua itu dalam hitungan menit saja, sebagaimana ketika sekarang banyak orang mengirimkan bitcoin. Blockchain tak ubahnya protokol baru di Internet. Jadi, mengirimkan bitcoin semudah Anda mengirimkan e-mail, sebab bitcoin sesungguhnya adalah data atau file, tetapi memiliki sematan kriptografi di dalamnya. Itu sekaligus membuat proses pengiriman lebih aman. Tidak diperlukan komputer server yang sentralistik, karena salinan aset dapat diakses oleh semua partisipan (peer-to-peer).

Organisasi keuangan, termasuk bank sejak 2016 juga sudah terlibat dalam riset dan pengembangan, termasuk ujicoba blockchain dalam sistem mereka. Setidaknya ada Konsorsium R3, yang anggotanya terdiri dari 70 lembaga keuangan dunia, di antaranya Citi, Barclays, UBS, Nasdaq, Goldman Sach, dan lain sebagainya. Beberapa lembaga ini pun telah berkolaborasi dengan perusahaan rintisan yang menyediakan jasa teknologi blockchain.

Blockchain juga bermanfaat untuk mengubah secara radikal manajemen rantai pasokan (supply chain management). Transaksi di dalam sistem disimpan secara permanen, lebih mudah diawasi dan transparan. Ini sekaligus menghemat waktu, biaya, jumlah pekerja dan lebih ramah lingkungan. Beberapa produk dapat diverifikasi derajat keasliannya, termasuk status fair trade yang digunakan Beberapa perusahaan menyediakan jasa ini, seperti Provenance, Fluent, Skuchain dan Blockverify.

Hari ini kita semakin akrab dengan big data dan kecerdasan buatan dalam konteks manajemen data. Blockchain memberikan rasa baru kepada kita dalam menyelenggarakan penelitian, berkonsultasi, analisa dan prediksi. Augur misalnya menyuguhkan sistem untuk melakukan prediksi pasar, mulai dari pasar saham, valuta, hingga sistem judi.

Samsung dan IBM berencana akan membuat jaringan Internet of Thing (IoT) yang terdesentralisasi menggunakan blockchain. Dalam sistem ini tidak ada lokasi pusat yang menjalankan proses komunikasi antar perangkat. Perangkat dapat berkomunikasi secara langsung, tanpa perantara untuk memutakhirkan data, manajemen bug, dan mengawasi penggunaan energi.

Dalam logika serupa, maka kita menerapkan blockchain dalam sistem pemilu dalam e-voting. Pemilih kelak dapat memilih di mana saja menggunakan perangkat mereka. Tentu saja tidak perlu TPS dan kertas suara. Hasil pemilihan pun dapat dilihat seketika itu juga. Data pun lebih aman, karena data tidak disimpan di dalam komputer server, tetapi di dalam jaringan blockhain.

Industri musik juga dapat menggunakan blockchain. Kelak musisi dapat menjual secara langsung karya-karya mereka kepada penggemarnya, tanpa melalui toko atau perusahaan rekaman. File musik atau video tidak dapat digandakan, karena metode peniadaan double spending sudah termaktub di dalam blockchain. Jadi, musik dijalankan secara langsung di jaringan blockchain. Di bidang ini ada startup Mycelia dan UjoMusic yang bermain. Entitas yang berperan di sini adalah sistem smart contract,  di mana seperangkat rules ditempatkan secara sistematis dan logis. Ini mirip seperti surat kontrak fisik yang konvensional, di mana beberapa pihak bersetuju dan menandatangani isi kontrak tersebut. Hanya saja di sini, smart contract tidak dapat dihilangkan alias permanen, apalagi diubah, setiap kali ditempatkan ke dalam sistem. [dari berbagai sumber/KM-02]

Komentar Kamu

LEAVE A REPLY