Ini Cara Perlis Menyapa Dunia

Putra Raja Perlis, Raja Muda Syed Faizuddin Putra Jamalullail (tengah berkaus hitam) berfoto bersama siswa sekolah dan staf humas Petronas di Perlis, sebelum melakukan aktivitas bersepeda keliling kampung.

“Boom!” Seketika suara itu membuatku terperanjat. Kuletakkan koran Utusan Malaysia yang kubaca, lalu berlari kecil ke arah suara itu. Kuhampiri sepasang pintu kaca besar yang terkunci. “Boom!” Pintu itu bergetar hebat. Ah, ternyata itu suara meriam, menyambut kedatangan Raja Perlis, Syed Sirajuddin Jamalullail di Istana Arau.

Suasana perayaan hari ulang tahun Raja Perlis di Istana Arau.

Pada 15-19 Mei lalu, saya bersama rekan-rekan wartawan dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand berkesempatan bertandang ke Perlis, negara bagian di ujung utara Malaysia, yang berbatasan dengan bagian Selatan Thailand. Acara utama kami adalah pertemuan tahunan, Forum Media IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle), sebagai bagian dari perayaan hari ulang tahun Raja Perlis yang ke-74 yang jatuh pada tanggal 17 Mei. Tentulah acara ini istimewa, karena hanya berlangsung setahun sekali dan kami menjadi saksi, bagaimana negeri kecil itu sangat percaya diri tampil di pentas dunia, memamerkan kebolehan dan potensi dirinya untuk maju.

Fika Rahma, Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, kedua dari kiri, sebagai narasumber dalam Forum Media IMT-GT, 16 Mei 2017 di Universitas Teknologi Mara (UiTM) Perlis, Malaysia.

Jikalau boleh berkata jujur, Perlis barangkali tidaklah setenar Pulau Pinang, Kuala Lumpur, atau negara-negara bagian lain di Malaysia, khususnya sebagai tujuan pariwisata. Namun Perlis mencapai banyak kemajuan yang sangat berarti. Infrastruktur beberapa objek wisata kian naiktaraf, pertumbuhan ekonomi yang diikuti kesejahteraan warga pun meningkat, mutu pendidikan tinggi juga diperhatikan, dan juga dampak dari program nasional Koridor Utara di Perlis sudah terasa. Di atas semua itu belanja barang-barang mudah di Padang Besar adalah pula keseronokan tersendiri, karena Anda perlu menyiapkan tas yang besar.

BACA JUGA

Putra Raja Perlis, Raja Muda Syed Faizuddin Putra Jamalullail (tengah berkaus hitam) berfoto bersama siswa sekolah dan staf humas Petronas di Perlis, sebelum melakukan aktivitas bersepeda keliling kampung.

Sambal belacan tak terlupakan

Usai Anda membaca tulisan ini dan berencana berkunjung ke Perlis, jangan lupa makan di restoran Komalaut, di Jalan Changlun, sekitar 700 meter dari Terminal Feri Kuala Perlis atau sekitar 18 menit perjalanan menggunakan mobil jikalau dari Istana Arau. Restoran ini menyediakan panganan laut khas Perlis. Berbanding Pulau Pinang, cita rasanya memang berbeda, mulai dari bumbu ikan bakarnya, tom yam yang aduhai, hingga cumi goreng yang sedap.

Tetapi ada satu yang sangat berkesan di antara hidangan itu, yakni sambal belacan. Ah, memang teramat sulit menggambarkan itu di tulisan ini. Yang pasti ada keberimbangan tepat antara pedas cabai, porsi belacan, dan rasa asam mangga muda, sesuatu yang tidak saya temukan di Indonesia. Saya celup cumi goreng ke dalamnya, lalu menghantarkannya ke dalam mulut. Sedapnye. Saking nikmatnya, rekan saya, Fika Rahma sampai menutup mata sambil setengah menggeleng. “Wow,” katanya.

“Sambal belacan ini adalah perpaduan antara sambal belacan Melayu dan Thailand. Rasa asam itu adalah khas Thailand,” kata jurnalis Utusan Malaysia di depanku.

Makan enak di Komalaut.

Meneguk nira di antara pohonnya

Selepas santap siang, bus kami melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya yang panas. Di kedua sisi jalan terbentang luas sawah penduduk. Berikutnya muncul pemandangan air laut Selat Malaka yang melompat-lompat. Suhu di Perlis memang panas, terlebih-lebih pada Februari atau Mei. Maka, untuk melawan dahaga, pemimpin rombongan membawa kami ke Ladang Nipah Kipli, salah satu tujuan wisata kuliner yang terkenal dengan air niranya. Posisinya terletak di daerah Sanglang, perbatasan antara Perlis dengan Kedah, sekitar 30 menit dari Kangar, ibukota Perlis.

Dari tepi jalan dekat persawahan, Ladang Nipah Kipli sekilas tak tampak seperti tempat berminum-santap. Hanya terlihat barisan pohon-pohon. Tetapi sesampainya di sana baru saya “ngeh”, di balik pohon itu ada kerumunan manusia sedang menyantap beraneka makanan, seperti laksa dan tentu air nira dingin.

Tempat itu memang sengaja dibuat menyatu dengan pohon-pohon nipah yang tumbuh di lingkungan hutan bakau , daerah pasang-surut dekat tepi laut. Jadi selain terlihat unik, tentu saja pohon nipah itu menjadi payuh teduh para pengunjung, belum lagi angin sejuk sepoi-sepoi.

Di antara pohon nipah.
Air nira Ladang Nipah Kipli.

Harummanis dan Padang Besar

Keindahan Perlis tiada duanya. Jikalau berkenan bolehlah juga datang ke Ladang Harummanis Bukit Bintang untuk merasakan kenikmatan mangga harum manis khas Perlis yang tiada tara. Musim mangga harum manis di Perlis biasanya ada pada April-Juni. Berada di Pusat Pertanian Bukit Bintang, Batu Pahat, Anda bisa menikmati mangga langsung dari pohonnya.

Padang Besar, di perbatasan antara Perlis dan bagian Selatan Thailand.

Nah, karena kami tahu kita semua suka berbelanja barang berharga murah, maka untuk mengakhiri perjalanan Anda di Perlis, Anda harus singgah di Padang Besar di wilayah perbatasan Thailand di sebelah Utara negeri. Jaraknya sekitar satu jam dari Ladang Nipah Kipli atau sekitar 45 menit dari ibukota Kangar. Aneka produk dapat Anda temui di sini, mulai dari pakaian, mainan anak, cinderamata dan panganan ringan. Jadi, siapkanlah tas berukuran besar untuk menampungnya. [KM-02]

Komentar Kamu

LEAVE A REPLY