Jabbar Ali Panggabean: Keterbatasan Bukan Jadi Penghalang

MEDAN, KabarMedan.com | Menjadi seorang Finalis Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Tingkat Nasional bukannlah suatu hal yang mudah untuk diraih. Perlu usaha dan kerja keras lebih dari biasanya, serta didorong dengan doa yang tiada henti dalam setiap kegigihan.

Siapa sangka Mawapres Universitas Sumatera Utara Tahun 2016 ini pernah mengalami kegagalan ketika hendak masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hal ini sempat membuat mimpinya tidak berwarna.

Beruntungnya, ia mendapatkan beasiswa sertifikasi dalam bidang mesin. Alhasil pria asal Kabupaten Langkat ini berhasil mewarnai mimpinya kembali. Pada tahun 2012, ia kembali mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi dan dinyatakan lulus di Jurusan Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara.

BACA JUGA

Ya, dialah Jabbar Ali Panggabean. Ia merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer Angkatan 2012 di Universitas Sumatera Utara (USU). Berhasil menyandang penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Teknik Informatika dan Ilmu Komputer menghantarkan Jabbar pada seleksi Mawapres USU.

Berlatarbelakang keluarga sederhana, Jabbar meyakinkan tekadnya untuk menuntut ilmu dengan menjulang prestasi guna menaikkan derajat keluarga. Semua itu ia mulai dari kegigihannya belajar. Tak urung, di awal perjuangannya sebagai mahasiswa perantauan tentu saja seorang Jabbar pernah merasakan masa minim kepercayaan diri.

Ia tahu sebelum benar-benar mengerti dunia perkuliahan, bahwa jurusan yang ia tekuni didominasi oleh kalangan orang-orang dengan finansial yang lebih dari cukup. Pada titik itu pula, seorang Jabbar menyadari satu hal yang salah dengan dirinya.

Rasa minder harusnya tidak perlu dipelihara dalam urusan pendidikan. Tanpa menunggu waktu lama, Jabbar memotivasi dirinya sendiri untuk berkembang dengan aktif berorganisasi. Hingga kini, rasa tidak percaya diri justru tergantikan dengan segudang prestasi yang telah ia raih.

Dimulai dari keberaniannya mengikuti seleksi Mawapres pada tahun 2016. Ia terus memupuk rasa optimis dalam dirinya dengan terus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Tidak hanya sekadar aktif berorganisasi, Jabbar pun menjadi candu mengikuti kompetesi-kompetisi yang ada. Telah tercatat, ada sekitar 250 kompetisi yang pernah ia ikuti. Tentunya, tidak semua kompetisi yang ia ikuti menjadikannya sebagai pemenang.

Sebagai bentuk aksi nyata, Jabbar beradaptasi dan terus berkarya. Hal pertama yang ia lakukan adalah meluncurkan sebuah website seputar informasi terkini mengenai perlombaan dan berkaitan dengan kemahasiswaan. Ya, lombalomba.comadalah website informasi yang dikelola oleh Jabbar.

“Website ini saya buat untuk memotivasi setiap anak muda agar terus berkarya dan berinovasi dan sebagai bentuk kontribusi saya kepada kampus sebagai mawapres,” katanya.

Di era digital seperti ini, beragam informasi yang diterima oleh masyarakat. Sehingga kehadiran website lombalomba.com diharapkan dapat berguna sebagai jembatan fasilitas masyarakat umum untuk mengetahui informasi seputar lomba-lomba yang ada di Indonesia. Hal ini juga menambah keingintahuan anak-anak bangsa dan meminimalisir ketinggalan informasi bagi mereka. Jadi, pengunjung website ini dapat memilih lomba-lomba apa saja yang ia akan ikuti sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Sejak kecil, Jabbar sudah menunjukkan prestasinya di bidang akademik. Terbukti saat duduk di bangku sekolah, ia sering mendapatkan peringkat kelas disekolah. Maka, tak heran jika semangat belajarnya pun kian menggunung hingga saat ini. Beberapa pencapaian yang diraih oleh Jabbar, antara lain Best Participant Youthpreneur Training Camp 2015,The Best Mobile Apps Concept For IAC 2015, Finalis 5thTopcoder UI/UX Competititon DI GlastonBurry 2016, Best Prototype Karya Inovasi Nasional UCC UNEJ, Gelar Microsoft Technology Associate Microsoft Corporation di USA 2016.

“Setiap orang punya jatah gagal masing-masing. Bahkan seorang Nabi dan Rasul juga punya jatah gagalnya. Apalagi kita manusia biasa.Tapi kita bisa memilih, mau kapan menghabiskan jatah gagal ini. Apakah ketika masih muda atau ketika sudah tua. Dan saya memilih menghabiskannya di usia muda, agar ketika tua nanti saya tinggal menikmati jatah keberhasilan saja,” pungkasnya. [KM-03]

Komentar Kamu

LEAVE A REPLY