Kelompok Yang Berpotensi Memecah Belah Bangsa Harus Dilawan

MEDAN, KabarMedan.com  | Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo menegaskan, saat ini yang paling membahayakan bagi kesatuan bangsa adalah masalah radikalisme dan terorisme. Untuk itu, keberadaan kelompok maupun organisasi masyarakat dan golongan yang berpotensi mengganggu ideologi negara dan memecah belah bangsa harus dilawan.

“Paling membahayakan adalah masalah radikalisme dan terorisme. Jika ada kelompok maupun ormas yang ingin mengubah dasar negara dan memecah belah bangsa ini harus dilawan,” katanya dalam Seminar Nasional Pendidikan Kebangsaan ‘Revitalisasi Nilai-nilai Pancasila Dalam Pendidikan Nasional’ yang digelar Alumni Universitas Katolik Santo Thomas Sumut bekerjasama dengan Universitas Katolik Santo Thomas Sumut di Medan, Sabtu (16/9/2017).

Tjahjo mengatakan, tidak boleh ada dakwah maupun khutbah yang dijadikan alat untuk mengubah ideologi dan dasar negara, serta merusak kemajemukan bangsa. Jika ada yang melakukan khutbah maupun dakwah dengan tujuan untuk mengganti dasar negara maka ini harus dibubarkan.

BACA JUGA

“Ini perintah dari bapak Jokowi. Kita harus berani melawan ini. Tidak bolah ada pembiaran karena di negara itu ada aturan, di organisasi ada aturan di perguruan tinggi ada aturan, bahkan hingga di rumah tangga juga ada aturan. Jadi kalau ada ancaman bagi negara kita harus kita lawan,” tegasnya.

Tjahjo mengungkapkan, negara tidak boleh kecolongan dan tidak boleh kalah dengan kelompok yang ingin memecah belah bangsa. Apalagi, katanya, urusan menangkal terorisme dan radikalisme ini bukan hanya tugas TNI-Polri dan inteligen melainkan juga tanggungjawab kita bersama.

“Inilah yang tidak boleh terjadi lagi. Negara kita memiliki aturan, untuk berhimpun, berkumpul membentuk kelompok itu harus mengikuti aturan yang ada sebagai negara yang punya ideologi,” ujarnya.

Tjahjo juga mengatakan, tantangan lainnya yang harus dihadapi bangsa Indonesia setelah 72 tahun merdeka adalah masalah sandang, pangan dan juga papan yang belum terpenuhi seluruhnya.

“Kalau masalah sandang memang kita sudah hampir selesai memenuhi ini, tapi masalah pangan kita masih banyak melakukan impor begitu juga masalah papan, masih banyak masyarakat yang belum memiliki rumah,” jelasnya.

Selain itu, masalah yang belum diselesaikan lainnya seperti ketimpangan sosial yang masih ada. Angka kematian ibu hamil yang tinggi, kanker serviks hingga pendidikan yang belum optimal.

“Di samping itu masih ada tantangan narkoba dan persoalan korupsi yang trennya terus naik,” pungkasnya. [KM-03]

Komentar Kamu

LEAVE A REPLY