Peace Train Masa Depan Indonesia di Kalangan Milenial

JAKARTA, KabarMedan.com | Dua hari mengunjungi delapan rumah ibadah, para peserta “Peace Train 2: Jakarta-Surabaya” mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang keberagaman iman.

Tidak sedikit kejutan diperoleh peserta, yang rata-rata masih muda, karena baru mendapat informasi yang langsung dari sumbernya, yang tidak diketahui sebelumnya.

Peserta dari Jakarta Christian Sugiarto (15) mengatakan, pengakuan bahwa selama ini abai terhadap eksistensi penganut aliran kepercayaan di Indonesia, karena informasi yang didapatkan selama ini hanya 6 agama.

BACA JUGA

Sehingga, kehadirannya ke Sanggar Candi Busana tempat para penghayat Sapta Darma di Surabaya beribadah dan beraktivitas mempunyai arti tersendiri.

“Jujur saya baru belajar, ternyata keberagaman agama dan kepercayaan itu tidak hanya 6 agama yang diakui (negara), tetapi banyak sekali kepercayaan di Indonesia,” kata pelajar SMA Fons Vitae 1 Matraman Jakarta Timur, Minggu (5/11/2017).

Para peserta Peace Train 2, termasuk Christian, memperoleh berbagai informasi tentang keberagaman aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, terutama tentang sejarah, aktivitas ibadah dan filosofi agama lokal Sapta Darma.

Peserta Peace Train 2 yang berasal dari berbagai daerah, di antaranya Medan, Riau, Makassar, Sorong, Jabodetabek, Salatiga, Rembang, Malang, Lamongan dan Surabaya menempuh bersama-sama perjalanan keberagaman dan pergumulan iman, baik lahir maupun batin, dengan menggunakan kereta api. Mereka dilepas secara simbolis menuju Surabaya Jumat 3 Oktober 2017 di Stasiun Gambir oleh beberapa tokoh agama.

Pada Sabtu 4 Oktober 2017 dimulai dengan mengunjungi sanggar Sapta Darma, kemudian bergeser ke Pura Segara Kenjeran (Hindu), masjid Ahmadiyah dan malam Minggu berkumpul di Masjid Cheng Ho untuk melihat secara dekat bangunan rumah ibadah beragama Islam dengan arsitektur Tionghoa.

Di halaman masjid ini juga bersama-sama menggelar Pentas Budaya Bhinneka dan Narasi Lintas-iman yang melibatkan banyak pihak dan jaringan lintas iman.

Pada Minggu 5 Oktober 2017 mereka yang terdiri dari berbagai latar agama mengikuti ibadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gresik.

Beberapa peserta yang menggunakan jilbab maupun santri- santri yang memakai kain sarung, peci atau kopiah pun dengan khidmat dan tidak canggung bersama-sama menjalani prosesi ibadah.

Setelah itu mengunjungi Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Gresik, klenteng Tempat Ibadat Tri Dharma Gresik Kim Hin Kiong Gresik dan kembali menuju Surabaya ke Vihara Buddhayana Dharmawira Centre.

Dari kunjungan-kunjungan itulah selain untuk menimba informasi keagamaan juga menjadi ruang penggalian dan pengembangan nilai-nilai toleransi dan solidaritas lintas iman.

Perempuan berjilbab dari Pekanbaru Laras Olivia (21) sengaja ikut beribadah di GKI karena didorong rasa ingin tahu bagaimana prosesi ibadah dalam agama Kristen berlangsung.

“Sama sih seperti pengalaman saya ketika beribadah sesuai dengan syariat dalam agama saya. (Ada rasa) kedamaian,” ungkap Laras saat menyampaikan kesannya pertama kali masuk gereja dan mengikuti ibadah agama Kristen.

Mahasiswi Universitas Islam Riau ini menaruh harapan sangat besar terhadap program Peace Train agar menjadi jembatan isu-isu keberagaman. Motivasinya begabung dalam kegiatan ini karena ingin bersama-sama anak muda lainnya bertekad menjalin kerjasama antar-iman.

“Jangan takut duluan dengan perbedaan iman. Selagi muda jangan tertutup, tapi terbuka, agar tidak termakan hoax (SARA),” demikian pesan yang ia tekankan kepada kalangan milenial.

Sementara santri dari Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Muhammad Abdul Mujib (23) menyampaikan, motivasinya mengikuti Peace Train lantaran ingin memahami betul perbedaan agama dengan belajar langsung dari sumbernya.

Ia sama sekali tidak khawatir mengikuti program lintas-iman akan memengaruhi dan mengguyahkan keimanannya.

“Selama bragama sebaik-baiknya, tidak usah khawatir dan cemas dengan agama lain. Toh semua agama mengajarkan kasih dan cinta,” ucap Mujib yang selama mengikuti Peace Train 2 ini selalu memakai kain sarung dan peci putih.

Di hadapan jemaat GKI Gresik dan peserta Peace Train 2 Anick HT mewakili inisiator program menyampaikan bahwa selama dua kali berjalan (Peace Train sebelumnya digelar di Semarang, Jawa Tengah) ia menyaksikan anak-anak muda demikian senang belajar dan berkarya bersama untuk berproses menjadi duta perdamaian

Untuk itulah, dengan mengacu pada besarnya sambutan para peserta maupun komunitas agama atau kepercayaan yang dikunjungi serta jaringan kerja lintas-iman yang mendukungnya, Peace Train ke depannya akan dilakukan secara luas ke daerah-daerah di Indonesia.

“Sambutan luar biasa ini sangat membanggakan. Melaui Peace Train, Indonesia masih bisa diharapkan dari generasi milenial,” tegas Anick.

Meski demikian, Pemimpin Redaksi Inspirasi.co ini tidak mengabaikan betapa anak muda sekarang rentan sekali ketularan ujaran-ujaran kebencian di media sosial. Hal tersebut disebabkan karena ketidaktahuan, sehingga sesuatu yang kecil pun bisa memicu konflik yang demikian besar.

“Peace Train sangat relevan bagi generasi milenial sebagai ruang untuk mengenalkan rumah ibadah dan nilai-nilai keagamaanya kepada mereka dengan cara menularkan energi-energi yang baik,” pungkas Anick. [KM-03]

 

Komentar Kamu

LEAVE A REPLY