Ini yang Perlu Dilakukan Agar Ekonomi Indonesia Segera Bangkit Pasca Pandemi COVID-19

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Al-Azhar Medan, Ahmad Muhajir.

MEDAN, KabarMedan.com | Pandemi COVID-19 dinilai membuat perekonomian di dunia, termasuk Indonesia mengalami kontraksi.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Al-Azhar Medan, Ahmad Muhajir mengatakan, lebih dari 90% negara di dunia telah menguras devisa untuk mengurangi sebaran COVID-19 dan mengcover basic need masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Kebanyakan ekonomi negara-negara di dunia terdisrupsi COVID-19. Bahkan economic growth mereka bisa turun menjadi minus. Misalnya, China yang tahun lalu ekonominya tumbuh 8% menurut saya tahun ini minus 5%. Sementara, Indonesia tahun lalu pertumbuhan ekonomi mencapai 5,02%, bisa saja tahun ini hanya tumbuh 2% jika COVID-19 berlangsung hingga akhir tahun,” katanya, Sabtu (9/5/2020).

Muhajir juga mengapresiasi langkah yang dilakukan pemerintah dalam upaya menekan maupun menghentikan penyebaran COVID-19.

Baca Juga:  Bobby Nasution Tinjau Jalan Rusak di Galang, Pastikan Perbaikan Segera Dimulai dan Galian C Ilegal Ditutup

“Saya yakin jika semua pihak disiplin dan mendukung pemerintah, Insya Allah pada Juli 2020 suasana dapat kembali normal,” ujarnya.

Muhajir mencatat, ada beberapa poin yang perlu dilakukan agar ekonomi Indonesia segera bangkit pasca pandemi COVID-19 mereda.

Pertama, membeli produk lokal buatan industri Indonesia. Kedua, kebutuhan industri termasuk industri makanan dan minuman harus dipenuhi dari bahan baku lokal.

Ketiga, banyaknya unicorn di Indonesia turut mendukung digital economi termasuk delivery system.

“Keempat, business scale sector industry saat ekonomi normal dalam kelompok besar hanya 0,14% dan skala menengah hanya 2,4%. Sedangkan 97% lebih mayoritas usaha mikro kecil menengah (UMKM),” ungkapnya.

Baca Juga:  PMT Perkuat Budaya Keselamatan Melalui Safety Down di Terminal Kuala Tanjung

Kelima, sektor UMKM sudah menikmati delay payment hingga 6 bulan untuk perpajakan. Selain itu, ada banyak stimulus ekonomi MBR, seperti bantuan langsung tunai (BLT), gratis dan diskon listrik, dan lain-lain.

“Keenam, pemberlakukan interest rate yang reasonable sekitar 7% hingga beberapa tahun ke depan oleh perbankan, sehingga ekonomi riil nyata bergerak,” jelasnya.

Ketujuh, sektor medis dan industri pertanian harus lebih digiatkan. Perusahaan-perusahaan harus menyiapkan business plan jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Saatnya kita bangkit kembali dan social decision harus dilaksanakan pengusaha dalam menjaga stabilitas lingkungan,” pungkasnya. [KM-03]