Kesiapan Destinasi Wisata di Langkat Menjelang New Normal

MEDAN, KabarMedan.com | Gerimis baru saja reda pada Kamis (18/6/2020) pagi. Seorang pria dengan penutup wajah (face shield) memanggul alat penyemprot (knapsack sprayer).

Ia menyemprotkan cairan ke meja dan kursi di kantin tempat wisata arung jeram di Sungai Bingai, Bendungan Namu Sira-sira, Desa Durian Lingga, Kecamatan Bingai, Langkat yang dikelola Explore Sumatera Arung Jeram.

Penyemprotan juga dilakukan di musholla, kamar mandi, kafe, tempat penjamuan tamu di tengah hutan nipah.

Ia juga menyemprot peralatan arung jeram seperti dayung (paddle), pelampung (life jacket), boat, dan helm satu per satu yang diletakkan di tanah lapang di di dekat kantin.

Manajer operasional Explore Sumatera Arung Jeram, Muhammad Roni Surbakti mengatakan, di masa pandemi COVID-19 saat ini, pihaknya mempersiapkan diri untuk new normal.

Fasilitas umum dan semua peralatan yang digunakan disemprot dengan disinfektan untuk menghindari penyebaran virus.

Ia mengatakan, memang ada perubahan antara sebelum dan selama adanya pandemi Corona. Dulu, setelah pengarungan alat-alat langsung dijemur.

“Untuk sekarang, setelah pengarungan alat wajib kita cuci menggunakan air sabun. Lalu penyimpanannya di gudang harus lebih ekstra lagi,” katanya.

Di masa new normal, semua tamu sebelum masuk harus reservasi di kantor. Pihaknya akan menjelaskan protokol kesehatan dan aturan untuk bermain arung jeram.

Selain itu, juga dijelaskan peralatan yang wajib digunakan dan dibawa di lokasi permainan arung jeram.

Sejak Maret 2020, katanya, kegiatan di Explore Sumatera Arung Jeram ditutup hingga sekarang. Berhentinya kegiatan otomatis pada pemandu mengangggur.

Baca Juga:  Jemput Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari, Bobby Nasution Siapkan Extra Flight

Di masa normal, katanya, dalam sebulan ada 200-350 orang tamu. Paling banyak datang di bulan Agustus hingga Desember.

Tamu yang datang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintahan, swasta, sekolah dan umum. Tarif bermain arung jeram Rp 250.000 per orang dengan jarak tempuh 7 km atau sekitar 2 jam.
Dirinya berharap secepatnya bisa dibuka kembali. Ketika sudah diperbolehkan dibuka kembali, untuk awalnya akan menerima dari keluarga. Untuk sementara tamu dari kalangan perkantoran, belum.

“Dulu 1 perahu 6 orang tamu plus 1 guide. Sekarang 4 orang tamu plus 1 guide, itu supaya ada jarak tamu dengan guide,” katanya.

Tidak Bisa ‘Ujug-ujug’ Dibuka

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Langkat, Nur Elly Hariani Rambe mengatakan, langkat memiliki 51 obyek wisata. Karena adanya COVID-19 sampai saat ini masih ditutup.

Ia mengaku, untuk membuka kembali tempat wisata, memang ada di tangan pemerintah daerah, namun tidak bisa ‘ujug-ujug’.

“Untuk buka destinasi wisata tidak bisa ujug-ujug, ada aturannya. Kita tunggu dari pemerintah pusat baru nanti pak Bupati akan buka kembali. Karena ini ada urusannya dengan nyawa,” katanya.

Terkait hal tersebut, Dinas Pariswisata dan Kebudayaan kabupaten Langkat menuju new normal sudah menyiapkan standar operational procedure (SOP) yang nantinya akan diberikan kepada setiap pengelola agar dilaksanakan.

“Kita sudah buat aturan pengunjung di setiap destinasi, ada batasnya. Contoh Bahorok (Bukit Lawang) 1.000 orang per hari, Tangkahan 1.000, Sei Bingei 500. Jadi sudah ada kuotanya di masing-masing destinasi,” jelasnya.

Baca Juga:  Bobby Nasution Tegaskan Komitmen Tuntaskan Pembangunan Jalan Sipiongot

Dari 51 destinasi wisata, baru ada 4 titik yakni di Bukit Lawang, Tangkahan, Tangkal Namu Sira-sira, dan Batu Katak yang dikutip retribusi dan menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD).

Mengenai kesiapan menjelang new normal di destinasi wisata, sudah ada beberapa yang menyiapkan protokol kesehatan.

“Kami sudah turun ke Bukit Lawang. Mereka sudah menyiapkan protokol kesehatan mulai dari untuk mencuri tangan, jaga jarak, mewajibkan masker dan tidak membolehkan masuk orang yang tak pakai masker dan lainnya,” katanya.

Pandemi Corona ini sangat berdampak kepada 1.085 pelaku wisata di Langkat. Mereka sudah mengajukan permohonan agar pariwisata kembali dibuka.

Mereka berharap agar pemerintah membuka kembali destinasi. Mereka juga bersedia mematuhi apapun peraturan yang diberikan pemerintah sekaligus bersedia ditutup kembali jika melanggar.

“Untuk membuka kembali, tentu yang putuskan Pemerintah Daerah, namun ada jenjangnya. Tidak serta merta pak Bupati. Harus melibatkan Kapolres, Dandim, Gugus Tugas kabupaten dan lainnya,” katanya.

Apalagi, sejak 2017 jumlah kunjungan wisatawan di Langkat terus meningkat sekitar 93.000 dan tahun 2018 naik menjadi 100.000-an.

“Itu baru dari 4 titik dan lainnya belum. Masih banyak dikelola oleh individu-individu yang sedang kita lakukan pendekatan agar bisa ada bagi hasil ke negara,” pungkasnya. [KM-05]