Farid Wajdi Luncurkan Buku “Menyambung Lidah Konsumen”

MEDAN, KabarMedan.com | Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK), Dr. Farid Wajdi, SH, M. Hum, mengkritisi berbagai persoalan pasar tradisional yang ada di Kota Medan melalui buku berjudul ‘Menyambung Lidah Konsumen’.

“Buku setebal 168 halaman ini merupakan kumpulan tulisan yang berusaha merekam berbagai pelayanan publik yang saat ini, telah roboh diterjang badai kekuasaan trio-pejabat, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif,” kata Farid disela-sela kegiatan peluncuran buku itu di pelataran parkir Pasar Aksara kawasan Jalan Aksara Medan, Jumat (24/7/2015).

Dalam buku itu, Farid mencoba menyuarakan kegelisahan para pedagang tradisional yang harus bersaing dengan pasar modern.

“Tulisan dalam buku ini merupakan upaya mempengaruhi kebijakan publik untuk ikut serta menyuarakan suara yang termarginalkan selama ini. Suara yang diharapkan mampu merekatkan suara warga menjadi opini publik,” papar mantan Dekan Fakultas Hukum UMSU itu.

Baca Juga:  PLN Tebar Semangat Berbagi Iduladha, Salurkan Lebih dari 2.000 Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia

Menurut Farid Wajdi, buku “Menyambung Lidah Konsumen” adalah kegenitan untuk melintasi waktu guna mengisi ruang peradaban agar proses advokasi tidak hanya mengandalkan perkataan.

Dia menambahkan bahwa peradaban butuh ditulis. Buku ini sebenarnya tak lebih dari sekadar menyuarakan suara konsumen akibat tidak munculnya pemimpin dan kepemimpinan yang peduli dengan realitas.

Buku Menyambung Lidah Konsumen berusaha menggelitik lewat percikan pemikiran yang dituliskan. Memungut suara konsumen baik dalam bentuk kritikan maupun gagasan-gagasan mereka ke pengambil kebijakan melalui media massa. Ada 4 bab uraian dalam buku yakni berisi Main Hakim Sendiri, Kepemimpinan dan Korupsi, Jagalah Akal Sehatmu, Menggugat Mal Administrasi, dan Menagih Hak Konsumen.

Akademisi yang selama ini getol menyuarakan hak konsumen atas pelayanan publik ini menjelaskan, tersumbatnya komunikasi antara masyarakat dengan pemerintahan yang terjadi selama ini membuat persoalan-persoalan sepele berubah menjadi persoalan besar. Beberapa di antaranya seperti kritiknya mengenai cara memproteksi pasar tradisional ditengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern.

Baca Juga:  Dukung Industri Data Center, PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Soal eksistensi pasar tradisional di halaman 94, Farid Wajdi memaparkan, pasar tradisional di Indonesia memiliki karakter khas yang takkan mampu digantikan pasar modern, sehingga tetap eksis hingga kini. Pasar tradisional memilik keunggulan yang tak dimiliki pasar modern sekalipun.

Peluncuran buku tersebut berlangsung dengan sederhana dengan dihadiri kalangan pedagang pasar tradisional yang tergabung pada Persatuan Pedagang Pasar Tradisonal (P3T) Sumatera Utara, Anggota DPD RI Asal Sumut Parlindungan Purba, tokoh masyarakat dan kalangan seniman. Peluncuran buku juga dibarengi dengan pencanangan gerakan Ayo Belanja ke Pasar Tradisional oleh Parlindungan Purba. [KM-03]