Pengamat: Waspada Gelombang 3 Covid, Suku Bunga Acuan Harus Tetap Rendah

Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara. (Foto: Ist)

MEDAN, KabarMedan.com | Pekan ini Bank Indonesia menggelar rapat dewan gubernur dimana salah satu outputnya dalah penetapan suku bunga acuan (BI 7 Days Repo Rate/BI 7 DRR).

Sejauh ini, BI 7 DRR berada di level 3,5 persen. Ini merupakan level terendah sepanjang sejarah besaran suku bunga acuan di tanah air.

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin mengatakan besaran bunga di angka itu belakangan tidak membuat laju pertumbuhan ekonomi naik.

Menurutnya, karena Covid-19 yang ada justru pertumbuhan ekonomi sempat masuk ke ruang resesi dan mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,5 persen di kuartal ketiga 2021.

“Pada dasarnya disaat bunga turun seharusnya pertumbuhan ekonomi bisa digenjot. Baik di atas kertas maupun di tatanan prakteknya seperti itu,” jelas Gunawan Benjamin, Kamis (18/11/2021).

Menurut Gunawan, fakta berbicara lain, Covid-19 telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian sehingga upaya mendongkrak pertumbuhan dengan penurunan bunga acuan menjadi kurang terasa.

Baca Juga:  Golden Run 2026 Sukses Digelar, Pegadaian Kampanyekan Gaya Hidup Sehat dan Investasi Emas

Sementara itu, dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh Covid-19 jauh lebih besar, daripada kemampuan BI dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Namun jika sebelumnya BI tidak menurunkan bunga acuan, sudah bisa dipastikan kinerja ekonomi kian terperosok dan sulit untuk bangkit kembali.

Menurut Gunawan Benjamin, tantangan ke depan adalah kekhawatiran akan adanya gelombang ketiga Covid-19.

Sejauh ini, data menunjukkan kalau pengendalian Covid-19 di tanah air sangat terkendali.

Walau begitu, negara lain memang sudah ada yang mengalami gelombang ketiga Covid-19. Bahkan ada yang tengah berjibaku dengan gelombang keempat Covid.

Gunawan memaparkan, sekalipun Indonesia belum menuju ke gelombang selanjutnya, tetapi bersikap waspada dan antisipatif memang dibutuhkan.

Walaupun skenario buruknya harus kita siapkan mitigasinya sejak dini. Jika dikaitkan dengan upaya BI yang tetap melakukan kebijakan moneter longgar atau bunga murah, maka resikonya muncul manakala di tahun depan Amerika Serikat justru menaikkan suku bunga acuannya.

Baca Juga:  Pertamina Pastikan Kesiapan Avtur untuk Dukung Penerbangan Haji 2026

Saat ini, inflasi di AS mencatat angka 6,2 persen secara tahunan atau year on year. Sementara suku bunga acuannya masih bertahan dalam rentang 0 sampai 0,25 persen.

Dengan data seperti itu, menaikkan suku bunga acuan bagi Bank Sentral AS atau The FED hanya perkara waktu. Kemungkinan di tahun depan, bunga acuan The FED akan dinaikkan sangat terbuka.

Disitulah tantangan BI selanjutnya, jika seandainya Bank Indonesia dihadapkan dengan dua skenario terburuk yaitu kenaikan bunga acuan The FED dan gelombang ketiga Covid-19 di tanah air.

“BI akan dituntut untuk membuat kebijakan ekstra sulit dan ekstra hati-hati tentunya. Karena saya yakin BI akan habis-habisan mendorong pertumbuhan ekonomi, oleh karena itu pengendalian Covid-19 jadi kuncinya,” tandas Gunawan Benjamin. [KM-07]