Masyarakat Diminta Aktif Menawar Terkait Naiknya Harga Pangan Jelang Nataru

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Benjamin Gunawan. (Foto: Ist)

MEDAN, KabarMedan.com | Mendekati perayaan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 sejumlah harga pangan mengalami kenaikan. Misalnya harga daging ayam di tingkat pedagang pengecer sekitar 37 ribuan rupiah. Meskipun di pasar tradisional berkisar 35 ribuan rupiah.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Benjamin Gunawan menduga tren komsumsi yang naik menjadi salah satu pemicu kenaikan harga daging ayam.

Walau demikian, menurutnya, bukan tidak mungkin kenaikan harga di level pedagang pengecer tersebut dikarenakan momen ini menjadi saat yang tepat untuk meraup keuntungan berlebih.

Selain daging ayan, harga daging sapi juga mengalami kenaikan walaupun dari pantauan Benjamin Gunawan di tingkat pedagang tradisional tidak lebih dari 130 ribu rupiah per kilogramnya.

Baca Juga:  Anggota DPRD Medan Lailatul Badri Temui Pendemo di Tengah Hujan, Limbah Pabrik Kecap Jadi Sorotan

“Harga daging ayam memang terbilang mahal. Sedangkan harga daging sapi masih terbilang normal. Masih wajar kalau melihat pola konsumsi menjelang Natal ini. Mungkin memang saat ini momen meraup untung sebanyak-banyaknya,” jelasnya, Rabu (22/12/2021).

Selain harga daging ayam dan sapi, Benjamin Gunawan menyoroti adanya anomali harga telur ayam.

Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional, harga telur ayam masih dikisaran 24 ribu per kilogramnya dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, belakangan ditemukan beberapa pedagang pengecer khususnya di kedai sampah harganya kerap mengalami kenaikan.

“Telur dijual dalam satuan butir, dan harganya dalam sepekan ini naik dalam rentang 100 hingga 200 rupiah per butirnya. Jadi sarankan bagi para ibu rumah tangga untuk lebih rutin menawar harga,” paparnya.

Baca Juga:  Pegadaian Gelar Kuliah Umum dan Literasi Keuangan di Universitas Satya Terra Bhineka

Walau begitu, Gunawan menuturkan, harga yang disebutkannya itu tidak semuanya berlaku di wilayah Sumatera Utara. Beberapa daerah wilayah di Sumut khususnya di luar kota Medan.

“Karena di wilayah tertentu seperti Padang Sidimpuan apalagi Nias, itu harga telurnya jauh lebih mahal dari harga di Medan,” tambahnya.

Namun, Benjamin Gunawan menjelaskan momen seperti sekarang ini jadi momen yang tepat bagi pedagang untuk mengambil keuntungan.

“Walaupun saya menilai potensi keuntungan lebih yang didapatkan juga masih terbilang terbatas. Tapi tidak ada salahnya bagi para pelaku ibu rumah tangga untuk lebih aktif menawar harga dari pedagang,” sarannya. [KM-07]