Zifivax Menjadi Salah Satu Vaksin Booster yang Digunakan, Ini Faktanya

JAKARTA, KabarMedan.com | Pemerintah mulai melaksanakan vaksinas dosis ketiga atau booster kepada masyarakat seiring meningkatnya kasus Covid-19 varian Omicron. Salah satu vaksin yang digunakan adalah Zifivax.

Nama vaksin ini masih kurang akrab didengar di telinga masyarakat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat atau EUA untuk vaksin Zifivax pada Oktober 2021.

Vaksin Zifivax menjadi vaksin Covid-19 ke-10 yang digunakan di Indonesia dan diizinkan oleh BPOM RI. Zifivax digunakan sebagai salah satu vaksin booster heterologous.

Heterologus berarti pemberian vaksin dosis ketiga berbeda dengan pemberian vaksin dosis pertama dan kedua (vaksin primer).

Vaksin Zifivax akan disuntikkan pada orang yang sebelumnya telah mendapat vaksin Sinovac dan Sinopharm sebagai vaksin primer.

Inilah faktar vaksin Zifivax:

  1. Suhu Indonesia cocok untuk penyimpanan Zifivax

Sebagaimana vaksin pada umumnya, Zifivax juga memerlukan kondisi khusus untuk penyimpanannya, yaitu pada suhu 2 hingga 8 derajat celcius.

Menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Lukito, karakter penyimpanan ini tidak menyulitkan pemerintah dalam distribusi ke seluruh wilayah Indonesia.

“Jadi saya kira ini, dalam rentang yang cocok untuk negara tropis seperti di Indonesia,” katanya.

  1. Efikasi Zifivax di atas 80 persen
Baca Juga:  Jadwal Seleksi KI Sumut 2026–2030 Disesuaikan, Tahapan Berubah Tanpa Ubah Substansi

Berdasarkan hasil uji klinis fase 1, 2 dan 3 ditemukan jika vaksin Zifivax berhasil memenuhi syarat aspek keamanan, imunogenitas dan efikasi.

Berdasarkan hasil studi interim, peneliti mendapati bahwa vaksin Zifivax punya efikasi sebesar 81,71 persen, yang didapatkan setelah 7 hari setelah subjek mendapatkan vaksinasi lengkap.

Vaksin ini mampu merangsang antibodi maksimal setelah 14 hari vaksinasi lengkap dengan kadar antibodi 102,5 atau meningkat 83,22 persen mampu melawan Covid-19.

  1. Uji Klinis dilakukan di Jakarta dan Bandung

Dari total 28.500 subjek uji klinis fase 3, sebanyak 4 ribu subjek uji berasal dari Indonesia yang tersebar di Jakarta dan Bandung.

Uji klinis fase 3 di Jakarta bekerjasama dengan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo atau RSCM Jakarta.

Sedangkan di Bandung, bekerjasama dengan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran atau FK UNPAD di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

  1.   Diberikan dalam 3 kali dosis suntikan

Berbeda dengan kebanyakan vaksinasi Covid-19 yang diberikan dalam 2 kali dosis suntikan. Vaksin Zifivax ini memerlukan 3 kali dosis suntikan, dengan masing-masing dosis diberikan sebanyak 0,5 mililiter yang artinya dosis lengkap didapatkan 1,5 mililiter.

Baca Juga:  Sekda Provsu Lepas Kloter 1 Jemaah Haji Sumut

Masing-masing dosis diberikan dalam rentang waktu minimal 1 bulan. Sehingga untuk mendapatkan vaksinasi lengkap butuh waktu selama tiga bulan.

Vaksin disuntikan di bagian otot lengan untuk orang berusia 18 tahun ke atas. Umumnya keluhan yang didapatkan setelah penyuntikan yaitu nyeri di bekas suntikan, dan untuk efek sistemiknya keluhan sakit kepala, demam dan keluhan setelah divaksinasi.

  1. Buatan perusahaan asal Beijing, China

Vaksin Zifivax adalah vaksin yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical yang berpusat di Beijing, China menggunakan platform rekombinan proteit subunit.

Sedangkan untuk distribusi dan pengembangannya di Indonesia, bekerjasama Anhui Zhifei dengan perusahaan swasta nasional PT Jakarta Biopharmaceutical Industry atau PT JBio.

Rekombinan protein subunit adalah teknologi protein yang membuat sel berkembangbiak mengembangkan antibodi untuk melawan virus tertentu.

Vaksin ini juga menjalani uji klinis fase 3 di berbagai negara seperti Indonesia, China, Uzbekistan, Ekuador dan Pakistan dengan total subjek penelitian mencapai 28.500 orang. [KM-07]