Setelah Jatuh 6 Persen, Minyak Dunia Kembali Menguat

Foto: Ist

JAKARTA, KabarMedan.com | Harga minyak dunia kembali menguat di sesi Asia pada awal perdagangan Senin (20/6/2022) karena investor kembali fokus pada pasokan yang terbatas, meskipun sentimen masih rapuh setelah merosot hampir enam persen di sesi sebelumnya di tengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan bahan bakar.

Minyak mentah berjangka Brent untuk Agustus naik 20 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 113,32 US Dolar per barel pada pukul 01.05 GMT, setelah naik sebanyak 1,0 persen di awal sesi.

Harga bulan depan jatuh 7,3 persen, Minggu lalu, penurunan mingguan pertama dalam lima.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Juli berada di 109,55 US Dolar per barel, turun satu sen setelah naik lebih dari satu US Dolar dalam transaksi pagi hari.

Harga bulan depan turun 9,2 persen minggu lalu, penurunan pertama dalam delapan minggu.

Baca Juga:  Dukung Kebijakan WFH, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50 Persen

“Untuk saat ini, gangguan pada pasokan minyak mengurangi kekhawatiran akan melemahnya permintaan,” ucap Analis ANZ dalam sebuah catatan.

“Gambaran fundamental tetap menjadi salah satu keketatan di tengah perlambatan yang sedang berlangsung dalam produksi Rusia.”

Minyak Rusia tetap di luar jangkauan sebagian besar negara karena sanksi Barat. Dampaknya sebagian telah dimitigasi oleh pelepasan cadangan minyak strategis, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan peningkatan produksi dari OPEC meskipun hal itu menipiskan penyangga dunia terhadap gangguan pasokan lebih lanjut.

“Jika Washington tetap pada kecepatannya saat ini, cadangan strategis AS akan mencapai level terendah 40 tahun di 358 juta barel pada Oktober,” ucap ANZ.

Namun, produksi minyak dan gas AS meningkat.

Jumlah rig minyak dan gas, indikator awal produksi masa depan, naik tujuh menjadi 740 rig dalam seminggu hingga 17 Juni, tertinggi sejak Maret 2020, perusahaan jasa energi Baker Hughes Co mengatakan dalam laporannya.

Baca Juga:  Penghematan Energi, Puluhan Ribu Insan PLN Serentak Terapkan Clean Energy Day

Di Libya, produksi minyak tetap bergejolak menyusul blokade oleh kelompok-kelompok di timur negara itu.

Menteri Perminyakan Libya Mohamed Oun mengatakan kepada Reuters bahwa total produksi negara itu sekitar 700 ribu barel per hari (bph).

Pekan lalu, produksi minyak Libya berada pada 100 hingga 150 ribu per barel per hari, ucap juru bicara Kementerian Perminyakan.

Ekspor produk minyak dari China, yang pernah menjadi eksportir utama, terus menurun, membuat pasokan global tetap ketat.

Ekspor bensin negara itu pada Mei anjlok 45,5 persen dari tahun sebelumnya dan ekspor solar terjun 92,7 persen meskipun permintaan domestik melambat, karena perusahaan kekurangan kuota ekspor, data bea cukai China menunjukkan. [KM-07]