Tak Perlu Cemas, Beli Gas 3 Kg Belum Pakai MyPertamina

Foto: Ist

MEDAN, KabarMedan.com | Pertamina belum akan menerapkan syarat pembelian elpiji bersubsidi kepada masyarakat melalui platform MyPertamina.

“Kami masih dalam pengembangan sistem, jadi belum akan kami lakukan registrasi,” ujar Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, dilansir dari Suara.com, Sabtu (2/7/2022).

Irto meminta masyarakat agar tidak khawatir mengenai isu pembelian elpiji bersubsidi menggunakan MyPertamina dalam waktu dekat, karena sejauh ini pengaturan belanja bahan bakar melalui platform digital MyPertamina hanya dikhususkan untuk BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar yang dijual di SPBU.

Mulai 1 Juli 2022, Pertamina membuka pendaftaran bagi konsumen yang hendak membeli BBM bersubsidi dengan platform MyPertamina di 11 Kabupaten dan Kota, antara lain Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat, Kota Bandung, Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis di Jawa Barat, Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Kota Jogja di Yogyakarta dan Kota Manado di Sulawesi Utara.

Baca Juga:  Penghematan Energi, Puluhan Ribu Insan PLN Serentak Terapkan Clean Energy Day

Syarat pembelian BBM bersubsidi melalui MyPertamina bertujuan agar penyaluran BBM bersubsidi bisa lebih tepat sasaran dan diharapkan dapat menekan kuota agar tidak melebihi batas yang sudah ditetapkan pemerintah.

Pada 2022, prognosa realisasi Pertalite mencapai sekitar 28 juta kiloliter, sedangkan tahun ini kuotanya sudah mencapai 23,05 juta kilo liter dan hingga Mei 2022 realisasi penyaluran Pertalite telah melebihi kuota sebesar 23 persen.

Baca Juga:  Dukung Kebijakan WFH, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50 Persen

Sementara prognosa Solar bersubsidi mencapai 17,2 juta kilo liter pada 2022, sedangkan tahun ini kuota yang diberikan 14,91 juta kilo liter.

Hingga Mei 2022, realisasi subsidi telah melebihi kuota sebesar 11 persen.

Pertamina menyatakan bahwa BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar saat ini masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat golongan menengah ke atas dengan komposisi hampir 60 persen terkaya menikmati hampir dari 80 persen dari total konsumsi BBM bersubsidi.

Sedangkan masyarakat miskin dan rentan atau 40 persen terbawah hanya menikmati sekitar 20 persen dari BBM bersubsidi tersebut. [KM-07]