PKPA Kenalkan Alternatif Livelihood Kepada Korban Erupsi Sinabung

MEDAN, KabarMedan.com | Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) kembali meningkatkan alternatif livelihood kepada korban erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, melalui peternakan puyuh. Program dikhususkan kepada masyarakat asal Desa Suka Meriah yang telah di relokasi di Permukiman Sihosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

Keumala Dewi, Direktur Eksekutif PKPA mengatakan, program pengembangan peternakan puyuh bagi korban erupsi Gunung Sinabung merupakan kali kedua dilaksanakan, setelah tahun 2015-2016 program serupa dilakukan keada masyarakat asal Desa Bekerah.

“Tahap kedua ini merupakan reflikasi program sebelumnya. Namun program tahap II ini dilakukan diversifikasi sehingga bukan hanya budidaya puyuh yang dikembangkan, tetapi juga penganekaragaman usaha dari puyuh, seperti pengolahan telur puyuh menjadi aneka makanan yang akan mereka jual serta diversifikasi puyuh afkir menjadi aneka makanan” kata Keumala, Senin (28/8/2017).

Baca Juga:  Dukung Industri Data Center, PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Program penguatan ekonomi kelompok perempuan penyintas yang direlokasi melalui model alternatif livelihood peternakan puyuh tersebut, diberikan kepada 30 kepala keluarga.

“Kita harapkan hal ini dapat direflikasi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan sampingan mereka sehari-hari. Apalagi, peternakan puyuh ini penghasilannya bersifat harian, sehingga sangat relevan bagi orang tua untuk menanggulangi keperluan sehari-hari anak-anak mereka seperti uang transport ke sekolah, uang jajan dan keperluan anak lain, termasuk meningkatkan gizi anak mereka,” ujarnya.

Baca Juga:  Dukung Industri Data Center, PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Tujuan lain program ini adalah untuk memperkuat posisi kelompok perempuan dalam penguatan ekonomi keluarga pada masa pemulihan serta menghubungkan masyarakat dengan stakholder lain terkait pemulihan masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Sinabung.

“Kita tahu bahwa lahan yang diberikan kepada penyintas yang direlokasi hanya 0,5 hektare, sehingga sangat urgent dikembangkan alternatif penguatan ekonomi kepada penyintas yang direlokasi dan perempuan dapat menjadi motor penggerak usaha alternatif tersebut,” ungkapnya.

Keumala menjelaskan, rangkaian kegiatan PKPA tersebut yaitu pelatihan budidaya puyuh, pembuatan kandang puyuh, pelatihan pengolahan telur dan daging puyuh serta pendampingan kelompok usaha yang akan dikelola keluarga. [KM-03]