MEDAN, KabarMedan.com | Saat ini masih banyak tenaga honorer di Lingkungan Pemko Medan yang mempertanyakan nasib mereka. Namun, hal itu tidaklah perlu dipikirkan. Pasalnya, kita harus menciptakan inovasi dan berkerja dengan rajin.
Staf Dispenda Medan, M. Taupik Hilmi Lubis mengatakan, sebelum menjadi PNS dirinya adalah tenaga honor di Pemko Medan.
“Saya bekerja di Pemko Medan tahun 1992, dan ditugaskan di Kantor Wali kota,” katanya beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, bekerja menjadi tenaga honor karena orangtuanya juga bekerja di Pemko Medan sebagai pengantar surat.
“Waktu itu saya baru tamat SMA. Saya dulu sering ikut orangtua untuk mengantarkan surat. Karena dilihat mereka (bos saya) aku rajin, makanya disuruh bekerja di Pemko Medan sebagai tenaga honor,” ujarnya.
Setelah orangtuanya pensiun pada tahun 1992, Taufik pun diangkat menjadi tenaga honorer menggantikan ayahnya.Tugas pertamanya saat itu adalah menjaga pompa air dan mengantar surat di bagian umum.
“Saya pun giat dalam bekerja. Sampai-sampai aku dapat pujian kecil dari pimpinan, dan itu yang membuat saya menjadi semangat,” ungkapnya.
Sebagai tenaga honorer ia pun sempat putus ada karena pekerjaan yang diterima tidak sesuai dengan gaji yang diberi.”Sempat putus asa dan perpikir apakah akan terus menjadi tenaga honorer,” ucapnya.
Tak hanya itu, dirinya pun juga patah semangat saat membaca surat perjanjian yang isinya bahwa tenaga honorer tidak menuntut jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Namun, jika Taufik terus memikirkan jal itu maka impiannya menjadi seorang PNS akan menjadi angan-angan. “Di dalam hati saya berniat harus berubah dan menjadi PNS,” cetusnya.
Dalam perjalanannya menjadi tenaga honorer, Taupik diajak seorang teman untuk mengikuti salah satu organisasi Partai Politik. Ia pun menjadi sekretaris PKPI Kota Medan pada 2004 silam.
“Saat itu saya diajak teman yang menyatakan jika ingin menjadi PNS harus ada gebrakan dan harus ada masuk di satu organisasi. Teman saya lalu menyuruh untuk gabung di PKPI, dan disitu saya menjadi sekretaris,” jelasnya.
Saya gabung di PKPI, Taufik sempat menjadi caleg pada Dapil 5 nomor urut 1. “Saat itu saya masih tenaga honor,” tambahnya.
Berkat banyak gebrakan yang dilakukannya di Lingkungan kerja dan banyak teman yang mensupport, membuat Taufik akhinya menjadi PNS di Lingkungan Pemko Medan.”Jia tidak salah saya jadi PNS pada pak SBY terpilih menjadi presiden untuk periode kedua,” akunya.
Taufik mengatakan, di tahun pertama kerja setiap bulan Taufik hanya digaji Rp75 Ribu. pada tahun kedua naik menjadi Rp100 Ribu, hingga pada tahun 2006 gajinya Rp1,5 Juta.”Pada tahun 2007 tepatnya di bulan Januari saya jadi CPNS dan resmi menjadi PNS pada tahun 2008,” jelasnya.
Untuk itu, dirinya berharap kepada tenaga honorer yang berada di Lingkungan Pemko Medan, jika ingin menjadi PNS haruslah bekerja dan berkarya. “Jangan mengeluh. Bekerjalah dengan ikhlas. Apa yang kita lakukan pasti ada nilai dan hasilnya,” pungkasnya. [KM-03]














