MEDAN,KabarMedan.com | Kerusuhan yang terjadi pada laga PSMS Medan kontra PSM Makassar, Senin (23/07/2018) malam berimbas kepada dua orang reporter yang sedang bertugas untuk mengabadikan berita tersebut.
Kedua repoter tersebut, menjadi korban kekesalan petugas Polisi yang tak ingin aksi anarkis kepada supporter direkam saat peritiwa terjadi usai laga PSMS vs PSM Makassar.
“Hapus rekaman itu, saling menghargai profesi masing-masing kita,” bentak beberapa petugas sambil merampas handphone Jurnalis dan memaksa hapus video yang direkamnya
Sementara itu, salah seorang reporter media online nasional yang juga menjadi korban perampasan pemaksaan untuk menghapus video tersebut, menyesalkan sikap petugas dan merampas haknya dalam bertugas.
“Kita kecewa dengan sikap puluhan petugas yang mirip dengan preman.
Tugas pers itu melaporkan kejadiaan yang riil di lapangan tanpa ada rekayasa,” sebut reporter yang minta namanya dirahasiakan.
Pantauan di lapangan, sejumlah suporter yang dianggap sebagai provokator sempat dipukuli dan diamankan ke markas polisi terdekat.
Sedangkan beberapa suporter juga menjadi korban penembakan gas air mata dan sempat mendapatkan perawatan.
Sementara itu, puluhan petugas TNI turut menjaga keamanan dan mencoba melerai situasi agar tidak semakin memanas
Perlu diketahui, sebelumnya ratusan massa dari salah satu pendukung PSMS memaksa masuk ke dalam lapangan usai laga.
Ratusan aparat kepolisian yang coba mengamankan suasana di seputar stadion pun tepancing emosi dan sempat terjadi aksi saling lempar.
Bahkan, Polisi sempat melepaskan tembakan gas air mata ke arah salah satu suporter. Situasi semakin memanas saat salah sejumlah suporter dikepung dan dipukuli puluhan petugas hingga berdarah.[KM-04]














