Babi yang Mati di Sumatera Utara Mencapai 27 Ribu

MEDAN, KabarMedan.com | Ternak babi yang mati di Sumatera Utara hingga 11 Desember 2018 mencapai 27.070 ekor, atau sekitar 2,7 persen dari total populasi 1.229.742 ekor.

“Kalau sebelumnya ada 25 ribu ekor ternak babi yang mati di 16 kabupaten/kota di Sumut,” kata Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia, Kamis (12/12/2019).

Ia menjelaskan, angka tersebut merupakan angka yang terlapor. Namun, pihaknya yakin masih ada warga yang tidak melaporkan kematian babinya, karena faktor jarak atau lokasi dan menguburnya secara swadaya.

Agustia mengatakan, 16 kabupaten/kota itu adalah Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Tebing Tinggi, Siantar dan Langkat. “16 kabupaten/kota itu memang kantong ternak babi atau populasi babi yang ada di Sumatera Utara,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemprov Sumut Hentikan Aktivitas Tambang Ilegal di Deliserdang dan Sergai, Pelaku Usaha Diminta Urus Izin

Agustia mengatakan, kematian ternak babi itu telah dilaporkan ke Direktur Kesehatan Hewan dan Dirjen Peternakan. Selain itu, juga telah dilakukan analisis menyeluruh dari beberapa komponen, pertama hasil uji lab. Di mana, terdapat reaksi terhadap Afrikan Swine Fever (ASF).

Kedua kajian secara epidemologi, terkait dengan mulai kapan terjadi, berapa yang mati dan sakit, dan ketiga terkait pola dan kecamatan penyebarannya.

Agustia mengatakan, untuk menyatakan (mendeclare-red) apakah kematian babi di Sumut diakibatkan ASF, keputusannya ada di Jakarta.

“Declare atas penyebab kematian babi di Sumut dampaknya besar, dan tidak bisa dilakukan secara serta merta dikeluarkan. Sumut punya 33 kabupaten/kota. Kematian babi hanya terjadi di 16 kabupaten. Jadi kita fokus menjaga 16 ini, jangan sampai bertambah,” ungkapnya.

Baca Juga:  Bobby Nasution Dukung Penataan Kota dan Penguatan Pelayanan Publik di Tanjungbalai

Disinggung apakah jumlah ternak babi yang mati akan terus bertambah, Agustia tidak menampiknya.

“Berdasarkan ilmunya, ini akan habis semua karena pemain di case ini hog cholera ada, penyakit bakterial ada ASF juga terindikasi,” ungkapnya.

Kematian babi pernah terjadi pada tahun 1993-1995 yang disebabkan virus hog cholera. Saat itu, populasi babi di Sumut habis. Seorang tua di Dairi, katanya, mengaku saat itu untuk pesta adat masyarakat menggunakan babi hutan.

“Artinya masyarakat itu menerima sebagai musibah. Yang kita harapakan sekarang ini, yang mati jangan dibuang sembarangan,” pungkasnya. [KM-05]