Anak Imigran Rohingnya dan Cita-citanya Menjadi Dokter

MEDAN, KabarMedan.com | Suasana sepi di Hotel Top Inn. Di hotel melati di Jalan Tanjung Selamat, Sunggal, Deli Serdang, tampak beberapa anak berhidung mancung dan kulit coklat bermain kejar-kejaran serta seorang perempuan menjemur kain. Dengan bahasa asing dia berbicara kepada seorang anak sembari masuk ke dalam rumah.

Di tempat ini, tinggal beberapa kepala keluarga imigran asal Rohingnya, Iran, Afganistan, Somalia, dan lainnya. Sebagian rumah berdinding triplek, sebagian lainnya berpenutup kain lebar. Di dinding pembatas antar kamar, terdapat selembar kertas bertuliskan nama-nama penghuninya.

Seorang pria bersarung kotak-kotak dan berkemeja putih keluar dari salah satu rumah dan menyapa dengan ramah. Namanya Wahid (33). Sudah tujuh tahun tinggal di situ dengan seorang istri dan enam anaknya yang fasih berbahasa Indonesia. Dua di antaranya lahir di Myanmar dan empat lainnya lahir di Medan.

Berbicara tentang kehidupan dan pendidikan anaknya, dia merasa beruntung lantaran tiga anaknya sudah bisa bersekolah. Anak pertamanya berusia 12 tahun sudah kelas 6. Anaknya berusia 11 tahun sudah kelas 5 dan yang berumur 6 tahun sudah kelas 1. Mereka bersekolah di
Sekolah Dasar Negeri (SDN) 104186.

International Organization of Migration (IOM) dan  United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) turut membantu membuat anak-anak imigran bisa bersekolah. “Mereka sudah bantu cakap ke sekolah untuk membuat anak-anak bisa bersekolah,” katanya, Kamis (11/7/2019).

Baca Juga:  Rayakan HUT ke-125, Pegadaian Salurkan Bantuan untuk Dhuafa di Medan

Guru pesantren saat di Rohingnya ini mengatakan, saat masih di negaranya, dia memiliki cita-cita agar anak-anaknya menjadi orang pintar dan bermanfaat bagi orang banyak. “Dengan menjadi master, insinyur atau dokter, tapi yah,” katanya, tak menyelesaikan kalimatnya.

Menurutnya, satu hal penting yang paling diinginkan adalah kewarganegaraan sehingga anaknya memiliki identitas. Dengan memiliki identitas, menurutnya kesempatan untuk menggapai pendidikan tinggi terbuka lebar. Saat ini, dia masih belum tahu akan tinggal di mana lagi ke depannya.

“Di sini saya benar-benar berterima kasih kepada Indonesia karena anak-anak saya bisa bersekolah dari 2014 yang lalu,” katanya.

Kewarganegaraan, sangat diharapkan lantaran menurut dia, tak mungkin kembali lagi ke tanah kelahirannya di Myanmar. Wahid kemudian bercerita, untuk meninggalkan negaranya dan menghindari konflik dia mengeluarkan Rp12 juta membawa istri dan dua anaknya.

Selama dua Minggu di atas kapal milik orang Bangladhes bersama 73 orang warga Rohingya lainnya. Saat itu yang terpikirkan olehnya adalah melarikan diri agar tidak menjadi korban. “Mudah-mudahan cita-citanya bisa diraihnya kelak,” katanya sembari menawarkan faratha (serupa roti cane) makanan khas Rohingnya yang dimakan dengan pasir.

Baca Juga:  Penjaringan Calon Anggota Komisi Informasi Provinsi Sumut 2026-2030 Dibuka

Putri Malahayati, salah satu anak Wahid yang kini duduk di bangku kelas 1 SD mengaku sangat menyukai mata pelajaran berhitung. Ibu guru yang mengajarnya bernama Penjas. “Saya suka berhitung. Enak ngajarnya. Cita-cita saya nanti mau jadi dokter,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Medan, Masrul Badri mengatakan awal mula anak-anak migran bisa belajar di beberapa sekolah dasar di Medan setelah IOM beraudiensi ke Pemerintah Kota Medan.

Dari situ kemudian dibangun kesepakatan memorandum of understanding (MoU) antara Disdik Medan dengan IOM yang  intinya bahwa anak-anak imigran mendapatkan kesempatan belajar di sekolah dan berinteraksi dengan teman-teman seusianya sehingga menjadikannya terdidik.

“Kalau anak imigran di daerah kita tidak diberi pendidikan, pada gilirannya nanti akan jadi masalah di masyarakat. Kalau pandangan pribadi saya, setiap orang harus terdidik,” katanya.

Dalam MoU tersebut, anak-anak imigran diberi kesempatan belajar di beberapa SD namun tidak ada raport, ijazah dan lainnya sebagaimana murid pada umumnya.

“Tentu ada perbedaan antara ekspatriat dengan imigran. Kita memfasilitasi belajar mereka di beberapa sekolah. Tapi kami tak memiliki data ada berapa anak imigran yang belajar di sekolah kita maupun di mana saja,” katanya. [KM-05]