Asap dan Limbah PT SJA Dikeluhkan Warga Kampung Bawah

Asap Hitam yang Keluar dari Cerobong Asap PT. SJA/Jaka Novriandy

SERDANG BEDAGAI, KabarMedan.com | Warga Kampung Bawah Dusun IV, Desa Sei Buluh, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), mengeluhkan dugaan pencemaran asap dan limbah yang diduga bersumber dari aktivitas Pabrik PT Surya Jaya Agung (SJA).

Asap berwarna hitam hingga kecokelatan serta limbah cair yang mengalir ke saluran permukiman dinilai mengganggu kesehatan dan mencemari lingkungan.

Keluhan warga menyebutkan, asap yang keluar dari cerobong pabrik kerap menyesakkan dada dan menimbulkan bau menyengat, terutama saat pabrik beroperasi.

Selain itu, limbah cair diduga dialirkan melalui gorong-gorong menuju kawasan Kampung Bawah. Kondisi tersebut semakin parah ketika musim hujan dan banjir, karena air limbah meluap ke lingkungan warga.

Seorang warga berinisial SM (61) mengatakan, awalnya pabrik tersebut hanya beroperasi sebagai pabrik batu bata dengan persetujuan masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas pabrik diduga berubah dengan mengolah batu bata hitam dari limbah batu bara, bahkan disebut-sebut juga mengelola limbah sawit tanpa sepengetahuan warga.

“Dulu izinnya hanya pabrik batu bata. Tapi sekarang asapnya hitam dan kecokelatan, abunya beterbangan ke rumah warga. Bau menyengat dan sangat mengganggu pernapasan,” ujar SM, Kamis (8/1/2026).

Baca Juga:  Kejari Sergai Terima Pengembalian Uang Kerugian Negara Rp.450 Juta dari Keluarga Selamet

Menurutnya, asap berwarna cokelat kehitaman yang keluar dari cerobong pabrik kerap menempel pada pakaian yang dijemur.

“Kalau jemur pakaian, abu dan baunya lengket di kain. Kalau terhirup, dada terasa sesak,” katanya.

Tak hanya polusi udara, SM juga menyoroti pembuangan limbah cair yang diduga mengalir ke kawasan Kampung Bawah melalui saluran terowongan. Saat banjir, air yang meluap disebut berwarna hitam pekat.

“Kalau banjir, airnya hitam semua. Itu jelas bukan air biasa,” ungkapnya.

Dampak lainnya dirasakan pada sumber air bersih warga. Sumur gali milik warga dilaporkan berbau dan tidak lagi layak digunakan, sehingga sebagian warga terpaksa beralih menggunakan sumur bor.

“Sumur biasa sudah tidak bisa dipakai, baunya terasa. Sekarang pakai sumur bor, tapi ke depan kami juga belum tahu aman atau tidak,” ujarnya.

SM juga mengaku mengalami kerugian materi akibat dugaan pencemaran tersebut. Ikan cupang hasil budidayanya mati massal setelah terendam banjir yang diduga bercampur limbah pabrik.

“Kerugian saya sekitar Rp35 juta sampai Rp45 juta. Diduga besar akibat limbah itu,” katanya.

Ia menambahkan, warga pernah dimintai tanda tangan dengan alasan akan diberikan bantuan. Namun, warga khawatir tanda tangan tersebut disalahgunakan. Keluhan juga telah berulang kali disampaikan ke pemerintah desa, namun belum membuahkan solusi.

Baca Juga:  Kejari Sergai Terima Pengembalian Uang Kerugian Negara Rp.450 Juta dari Keluarga Selamet

“Kalau ke desa, sudah capek ngomong. Sampai sekarang belum ada penyelesaian. Kami merasa diabaikan,” tegasnya.

Warga Kampung Bawah berharap Pemerintah Kabupaten Sergai dan instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan, memeriksa perizinan operasional, serta pengelolaan limbah PT SJA demi melindungi kesehatan dan lingkungan masyarakat.

Keluhan serupa disampaikan warga lain berinisial SO (61). Ia menyebut, saat angin bertiup ke arah permukiman, asap dari cerobong pabrik menyelimuti Kampung Bawah.

“Diduga PT SJA bukan hanya mencetak batu bata hitam, tapi juga mengelola limbah sawit yang menjadi Palm Acid Oil (PAO) atau minyak kotor,” ujarnya.

Sementara itu, pihak PT. SJA hingga saat ini belum dapat dikonfirmasi terkait hal ini. Saat ditemui ke perusahaan tersebut, salah seorang petugas keamanan berinisial RB mengatakan agar membuat janji terlebih dahulu.

“Kalau mau konfirmasi, buat janji dulu bang. Biar saya sampaikan ke kantor,” ucapnya.[KM-04]

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.