MEDAN, KabarMedan.com | Persoalan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) yang terjadi belakangan ini di Sumatera Utara menyebabkan terjadinya benturan antar masyarakat.
Seperti yang terjadi di Perumnas Mandala. Di mana, masyarakat saling serang karena adanya Mesjid yang dilempar oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Pelemparan ini diduga dampak dari penggusuran kedai tuak.
Selain itu, di Kabupaten Batubara viral adanya plank parkir khusus muslim. Hal ini menjadi polemik seluruh masyarakat di Sumatera Utara.
Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) HMI Sumatera Utara, M Alwi Al Hasbi Silalahi meminta agar masyarakat menanggapi hal ini dengan tenang. Ia menilai persoalan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.
“Ini sebenarnya persoalan sederhana, kita saja yang terlalu membesar-besarkan sehingga terjadi keributan. Untuk itu, baiknya kita melihat ini dengan tenang,” kata Alwi dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (28/1/2020).
Alwi mengatakan, persoalan ini harus dijadikan pelajaran. Namun, hal yang paling penting adalah tetap menjaga perdamaian.
“Jadikan pelajaran agar tidak terulang. Yang terpenting perdamaian sesama masyarakat harus terjaga. Ini untuk kepentingan kita semua masyarakat Sumut,” ujarnya.
“Penting untuk menjaga keberagaman. Sejak nenek moyang kita hidup rukun dengan beragam perbedaan ini, lalu kenapa sekarang kita harus ribut?. Perbedaan ini harus jadi anugrah, bukan malah jadi konflik,” tambahnya.
Alwi meminta agar seluruh masyarakat untuk dapat menahan diri jika terjadi permasalahan.
“Kita perlu menjaga kamtibmas di Sumut, saling menahan dirilah jika ada masalah sosial di masyarakat. Baiknya kita lebih banyak melihat keuntungan perbedaan ini daripada masalah-masalah yang akan terjadi,” pungkasnya. [KM-03]














