BI : Tekanan Inflasi Sumut Menurun

Ilustrasi

MEDAN, KabarMedan.com | Pada bulan Januari 2015, harga barang dan jasa secara umum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, mengalami penurunan sehingga tercatat deflasi sebesar -0,34% (mtm), lebih dalam dibanding nasional (-0,24 mtm). Dengan perkembangan tersebut, inflasi di Sumatera Utara secara tahunan menurun dari 8,17% menjadi 6,63% pada Januari 2015.

“Penurunan tekanan inflasi terutama terjadi pada kelompok administered prices. Secara tahunan, inflasi kelompok ini menurun dari 17,71%% menjadi 13,14% pada Januari 2015. Selain disumbang oleh penurunan harga BBM (-0,73%) dan tarif angkutan dalam kota (-0,21%), penurunan tarif angkutan udara juga memberikan dampak yang relatif signifikan (-0,04%),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Difi A. Johansyah, dalam siaran pers yang diterima KabarMedan.com, Senin (9/2/2015).

Ia menambahkan, penurunan inflasi juga didukung oleh membaiknya pasokan. Harga cabai merah yang sempat melonjak tinggi mengalami koreksi harga sejalan dengan membaiknya pasokan. Kondisi tersebut sesuai dengan hasil survei pemantauan harga Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara.

Berdasarkan data BPS, secara rata-rata, harga cabai merah di Sumatera Utara menurun sebesar 13,42% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya dan memberikan andil inflasi sebesar -0,27% (mtm). Komoditas lainnya yang mengalami penurunan harga yang cukup signifikan adalah tomat buah (18,52% mtm).

Sementara komoditas yang masih mengalami kenaikan antara lain daging ayam ras dan subkelompok ikan segar khususnya dencis dan ikan kembung, sehingga menahan laju penurunan inflasi Sumatera Utara. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile foods turun dari 7,46% menjadi 5,56% pada Januari 2015.

Tekanan inflasi kelompok inti masih terkendali.

Secara tahunan, inflasi inti mencapai 4,44% pada Januari 2015, sedikit mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya (4,07%). Kondisi tersebut didukung oleh ekspektasi inflasi yang membaik paska kebijakan penurunan harga BBM dan masuknya panen untuk beberapa komoditas pangan. Sementara itu, pelemahan nilai tukar tidak memberikan dampak yang signifikan ditengah penurunan harga komoditas internasional.

Dilihat dari komoditasnya, inflasi bulanan pada kelompok inti disumbang oleh kenaikan tukang mandor, terutama di Pematangsiantar yang naik sebesar 11,11% (mtm). Selain itu, kenaikan harga emas perhiasan memberikan andil inflasi Sumut sebesar 0,01% (mtm). Peningkatan harga emas diperkirakan dipengaruhi oleh minat investor ke emas sebagai safe haven yang semakin tinggi.

“Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan terus menurun. Inflasi Sumut pada Februari 2015 diperkirakan masih mengalami deflasi sejalan dengan dampak lanjutan penurunan BBM dan angkutan umum serta panen raya. Perkembangan harga minyak dunia yang cenderung menurun saat ini berpotensi untuk mengurangi tekanan inflasi,” jelas Difi.

Namun, risiko inflasi diperkirakan terkait dengan dampak penyesuaian tarif tenaga listrik untuk 10 golongan pelanggan di bulan Januari yang akan dibayarkan pada Februari serta kemungkinan kenaikan TTL golongan rumah tangga serta ketidakpastian cuaca yang akan menyebabkan gangguan pasokan diantaranya ikan segar.

“Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan TPID Kab/Kota di Sumatera Utara akan terus meningkatkan koordinasi untuk menjaga pasokan dan meminimalkan dampak lanjutan administered prices,” kata Difi.

Beberapa rekomendasi penting yang dihasilkan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) antara lain mendorong penurunan tarif angkutan dalam kota dengan mengundang Dinas Perhubungan seluruh kabupaten/kota, melakukan inspeksi mendadak pelaksanaan penurunan tarif, dan menghimbau pedagang besar untuk menurunkan harga komoditas pangan.

Sejumlah daerah seperti Kota Medan dan Kota Pematangsiantar bahkan telah menurunkan tarif angkutan dalam kota sebagai respons dari penurunan harga BBM. Rekomendasi lainnya memfokuskan pada pengendalian harga LPG melalui perumusan Harga Eceran Tertinggi (HET), koordinasi dengan Dinas Perhubungan dan instansi terkait lainnya untuk mengawasi kelancaran arus distribusi bahan pangan, serta penguatan peran Bulog untuk mendukung pengendalian pasokan cabai merah dan komoditas tambahan lainnya, selain operasi pasar beras dan menjaga ekspektasi pasar. [KM-01]

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.