BPOM: Vaksin Booster Harus Diberikan, Antibodi Vaksin Primer Turun 30 Persen

JAKARTA, KabarMedan.com | Vaksin ketiga atau booster harus diberikan kepada masyarakat untuk membantu peningkatan kadar antibodi yang sudah menurun pasca pemberian vaksin primer.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM, Penny Kusumastuti Lukito dalam konferensi pers yang disiarkan YouTube BPOM RI, Senin (10/1/2022).

Penny mengungkapkan, penurunan kadar antibodi pasca pemberian vaksin pertama itu bisa sampai 30 persen.

Hal ini ditemukan berdasarkan hasil pengamatan uji klinik dari seluruh vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia.

“Penurunan kadar antibodi yang significantly menurun sampai di bawah 30 persen terjadi setelah 6 bulan pemberian vaksin primer yang lengkap,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurutnya diperlukan adanya pemberian vaksin booster lanjutan untuk meningkatkan immunogenitas masyarakat yang sudah menurun.

“Hingga saat ini sudah diperlukan pemberian vaksinasi booster lanjutan untuk mempertahankan efikasi vaksin terhadap infeksi Covid-19,” katanya.

Penny memaparkan bahwa pemberian vaksin booster juga telah menjadi rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia/WHO.

Sementara untuk pelaksanaannya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan akan mengatur soal pemberian vaksinasi booster.

Baca Juga:  Dukung Penurunan Angka Kematian Ibu, PLN Salurkan Alat Deteksi Dini Risiko Kehamilan

“Prioritasnya  tentunya didahulukan untuk populasi yang berisiko tinggi yaitu lansia, tenaga kesehatan dan kelompok individu yang selanjutnya tentunya akan diberikan juga untuk umum,” tuturnya.

Inilah daftar lima vaksin yang memperoleh izin dari BPOM:

  1. Coronovax

Coronovax menjadi booster homolog. Diberikan sebanyak 1 dosis setelah 6 bulan dari vaksinasi primer sebelumnya. Vaksin ini diberikan kepada masyarakat dengan minimal usia 18 tahun.

Untuk kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI yang muncul itu bersifat reaksi lokal seperti nyeri di tempat penyuntikan dan kemerahan. Umumnya tingkat keparahannya pada grade 1 hingga 2.

Immunogenisitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi hingga 21 sampai 35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada subjek dewasa.

  1. Pfizer

Diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksinasi primer kepada penduduk dengan usia minimal 18 tahun ke atas.

KIPI yang muncul bersifat umum yaitu nyeri di tempat suntikan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi dan demam dengan grade 1 hingga 2.

Baca Juga:  Amerika Serikat dan Indonesia Membongkar Jaringan Phishing Global

Untuk immunogenitasnya menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi setelah 1 bulan sebesar 3,3 kali.

  1. AstraZeneca

Vaksin tersebut bersifat homolog. KIPI yang akan terjadi bersifat ringan dan sedang. Kemudian immunogenitasnya menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi dari 1.792 menjadi 3.700 sekitar 3,5 kali.

  1. Moderna

Vaksin ini bersifat homolog dan heterolog . Heterolog artinya bisa diberikan kepada masyarakat yang sebelumnya sudah divaksin dengan merk berbeda.

Untuk vaksin primernya AstraZeneca, Pfizer, Jhonson & Jhonson dengan dosis setengah.

Pemberian vaksin Moderna menunjukkan respon imun antibodi netralisasi sebesar 13 kali setelah pemberian dosis booster.

Vaksin Moderna bisa diberikan untuk usia minimal 18 tahun ke atas.

  1. Zifivax

Vaksin Zifivax bisa diberikan secara heterolog dengan vaksin primer Sinovac atau Sinopharm. Diberikan 6 bulan ke atas pasca pemberian dosis primer.

 Pemberian dosis menunjukkan bahwa peningkatan titer antibodi netralisasi meningkat lebih dari 30 kali pada subjek yang telah mendapatkan dosis primer Sinovac atau Sinopharm. {KM-07]