Dipecat Karena Gagal Menjadikan Prabowo Presiden, Taufik: Masa Cuma Saya Doang

Foto: Ist

JAKARTA, KabarMedan.com | Kader Gerindra Mohammad Taufik dipecat oleh Majelis Kehormatan Partai (MK) Gerindra dengan alasan dianggap gagal memenangkan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Namun, M Taufik menanyakan kenapa hanya dirinya yang dipecat dengan alasan tersebut.

Menurut Taufik, bukan hanya dirinya yang berjuang memenangkan orang nomor satu di Partai Gerindra untuk mengalahkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada 4 tahun lalu.

“Maaf nih, kalau apa yang saya lakukan tidak sesuai dengan ekspektasi kawan itu (gagal memenangkan Prabowo). Masak karena Pilpres kalah cuma saya doang?” ucap Taufik, dilansir dari Suara.com, Rabu (8/6/2022).

Terlebih ia memiliki argumen sendiri terkait usahanya dalam memenangkan Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Taufik menerangkan kalau saat itu menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta.

Untuk wilayahnya sendiri, Taufik berhasil mendongkrak kursi yang didapat selama Pemilihan Legislatif jadi 19 orang.

“(Pemecatan) ini bukan soal adil atau tidak. Ini berarti mengada-ada argumennya. Begitu loh,” katanya.

Taufik sendiri mengaku baru mengetahui kabar dirinya dicopot dari konferensi pers yang dilakukan Majelis Kehormatan Partai Gerindra. Ia sendiri belum menerima surat pemecatan dirinya.

“Saya baru mendengar bahwa terjadi pemecatan pada diri saya oleh majelis mahkamah partai. Sampai dengan hari ini saya sampaikan saya belum menerima surat itu,” ujar Taufik di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (7/6/2022).

Baca Juga:  Amerika Serikat dan Indonesia Membongkar Jaringan Phishing Global

Menurut Taufik, seharusnya yang berhak memecat anggota partai adalah Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Majelis Kehormatan Partai hanya memberikan rekomendasi.

“Sepengetahuan saya, majelis itu tidak ada kewenangan memecat, yang berhak memecat adalah Dewan Pimpinan Pusat,” jelasnya.

Walau begitu, Taufik mengaku akan menerima jika nantinya DPP memutuskan untuk memecat dirinya.

Ia hanya menyayangkan mekanisme dari pihak Majelis Partai telah menyimpang karena mengumumkannya sepihak.

“Saya kira bila itu benar terjadi, maka saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Gerindra yang telah membuat saya menjadi besar. Dan saya memohon maaf bila dalam perjalanan ternyata belum seperti apa yang diharapkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Majelis Kehormatan Partai Gerindra memutuskan untuk memecat Politisi Partai Gerindra yaitu M Taufik dari partai.

Keputusan tersebut diambil usai Taufik salah satunya dianggap tidak loyal dengan Gerindra.

“MKP yang ini saya ada lima majelisnya sepakat untuk memutus saudara Taufik memecat sebagai kader Gerindra mulai keputusan itu disampaikan pada hari ini,” ungkap Wakil Ketua Majelis Kehormatan atau Mahkamah Partai Gerindra, Wihadi Wiyanto di Kantor DPP Gerindra, Jakarta Selatan, Selasa (7/6/2022).

Baca Juga:  Dukung Penurunan Angka Kematian Ibu, PLN Salurkan Alat Deteksi Dini Risiko Kehamilan

Wihadi menjelaskan, pada hari ini, Majelis Kehormatan Partai Gerindra menggelar sidang terkait Taufik. Sidang hari ini merupakan lanjutan usai pihaknya melakukan panggilan terhadap Taufik pada 21 Februari.

Menurut Wihadi, pada 21 Februari tersebut Taufik sudah memberikan surat pernyataan, bahwa dia tidak akan mengulangi lagi perbuatannya dan mengakui kesalahannya.

Namun, ternyata Taufik tetap melakukan manuver.

“Kemudian setelah ada kabar bahwa pergantian ketua DPRD DKI, saudara Taufik ternyata banyak melakukan manuver-manuver. Kemudian, dari situ kita juga mendengar saudara Taufik akan mengundurkan diri. Atau keluar dari Gerindra. Kemudian, kita kembali hari ini menyidangkan bahwa apa yang dilakukan saudara Taufik itu menyalahi apa yang sudah ada di sidang pada tanggal 21 Februari,” jelasnya.

Wihadi menyampaikan, Taufik sempat memberikan keterangan berbelit-belit dengan menyatakan tetap setia dengan Gerindra. Namun kenyataannya Taufik terendus tidak loyal terhadap partai.

“Melihat itu dan melihat ketidakloyalan saudara Taufik dan juga menyalahi apa yang sudah disampaikan pada 21 Februari dia mengatakan akan tetap dengan Gerindra, tapi pada kenyataannya dengan manuver-manuver dia mengatakan akan mundur,” tandasnya. [KM-07]