Film Cahaya Cinta Pesantren Berikan Pesan Positif Kepada Masyarakat

MEDAN, Kabarmedan.com |  Para pemeran Cahaya Cinta Pesantren menggelar meet and greet di Kota Medan, Senin (26/12/2016) malam. Meet and greet yang diadakan di XXI Hermes Place, Jalan Mongonsidi ini diawali dengan nonton bareng para bintang seperti Yuki Kato, Febby Blink, Sivia Blink, Vebby Palwinta, Fachri Muhhamad, dan sang sutradara Raymond Handaya.

Dalam nonton bareng itu, film Cahaya Cinta Pesantren yang akan diputar secara serentak di seluruh bioskop-bioskop tanah air pada 12 Januari 2017 sukses menghibur ratusan penonton. Film yang juga dibintangi Elma Theana, Wirda Mansur, Zee Zee Shahab, Tabah Penemuan ini juga menggugah hati dan inspiratif untuk ditonton. Tak hanya itu, keindahan danau Toba pun tersaji dalam film ini.

Usai nonton bareng, para pemeran film bercerita tentang kesan yang mereka dapat saat memerankan karakter masing-masing. Dimana, film tersebut memberi dampak positif dalam kehidupan mereka.

Yuki Kato yang berperan sebagai Shila mengaku, berbagai pengalaman baru terutama pengalaman religi ia dapatkan selama berada di pesantren. “Setelah syuting film Cahaya Cinta Pesantren ini, jujur banyak perubahan, terutama perubahan dalam ibadah. Saya jadi semakin rajin ibadah, karena saat syuting kita memang benar-benar memposisikan diri sebagai santri dan sering diingatkan santriwati lainnya untuk ibadah,” katanya.

Selain itu, Yuki juga jadi nyaman menggunakan hijab. “Memang saat awal syuting agak gerah dan suka sering buka hijab. Namun semakin lama semakin nyaman. Malah beberapa kali istirahat sudah tidak pernah buka jilbab lagi,” ujarnya.

Berada di pesantren selama empat hari tiga malam merupakan waktu yang cukup singkat untuk Yuki Kato untuk memahami budaya dan kebiasaan yang ada di pesantren. “Sebenarnya ini merupakan waktu yang sangat singkat untuk saya memahami budaya dan lainnya di pesantren. Jadi hal ini benar-benar menjadi Pekerjaan Rumah (PR) setiap hari untuk mencari tahu lagi,” jelasnya.

Baca Juga:  Dukung Industri Data Center, PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Berperan sebagai seorang santriwati di pesantren, Yuki juga mendapatkan tantangan untuk memerankan sosok Shila yang merupakan anak seorang nelayan yang tinggal di sekitar Danau Toba. “PR kedua adalah saya harus menggunakan dialek Medan. Jujur ini pengalaman pertama saya berlogat Medan. Awalnya cukup sulit karena silsilah saya tidak ada darah Sumatera,” ungkapnya.

Namun, banyak melakukan latihan dan mencari tahu kata-kata yang sering digunakan anak muda Medan serta belajar dari beberapa orang membuat ia sukses memerankan karakter Sila tersebut. “Setiap hari saya latihan terus. Sebelum take saja kita latihan reading. Seru banget memerankan karakter yang memang bukan kita,” terangnya.

Febby (Blink) yang berperan sebagai Manda mengaku, sangat berbeda dengan apa yang biasa dilakukannya sehari-hari. Sebab, ia harus menggunakan dialeg Malaysia. “Sangat bebeda dengan kehidupan asli saya. Saya seperti nonton Upin Ipin. Saat adegan ketika ingin kabur, saya rasa memang benar-benar ingin kabur dari pesantren,” akunya.

Berbeda dengan Via (Blink). Baginya berperan sebagai anak pesantren tidak lagi asing. Meskipun tidak pernah menuntut ilmu di pesantren, namun ibunya selalu mengajarkannya dengan cara-cara pesantren. “Saya sempat merasa aneh. Awalnya tidak nyaman, namun akhirnya terbiasa dengan situasi dan kondisi di pesantren. Ibu saya selalu ngajarkan tentang apa yang didapatnya di pesantren. Ibu saya merupakan lulusan pesantren,” sebutnya.

Sutradara Raymond Handaya, mengaku film Cahaya Cinta Pesantren berawal dari ketidak sengajaannya saat mencari buku. Ia menemukan tiga buku, yang satu diantaranya novel karangan Ira Madan.

Raymond kemudian tertarik dan membuat film itu untuk mengangkat cerita-cerita yang ada di pesantren. Sebab, selama ini film-film yang ada sangat jarang mengangkat tentang kehidupan pesantren. “Kesulitannya saat cari pemain. Tidak mudah mencari pemain dengan di rentang usia 16 hingga 17 tahun untuk bermain di film seperti ini,” akunya.

Baca Juga:  PLN Tebar Semangat Berbagi Iduladha, Salurkan Lebih dari 2.000 Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia

Pada awal Januari, ia kemudian melakukan casting dan akhirnya menemukan beberapa pemain. Saat itu, Yuki masih berada di Jepang dan dihubungi untuk terlibat dalam film ini. “Saya sudah tahu kemampuan akting Yuki, karena kita pernah syuting bareng. Jadi saya sudah tahu Yuki seperti apa. Kesulitan lain mencari pemeran yang memang benar-benar bisa reading, karena setiap peran gunakan dialog yang berbeda-beda,” tambahnya.

Untuk target penonton, Raymond tidak berpatokan kepada angka. Sebab, baginya targetnya adalah mencari sebanyak-banyaknya penonton agar pesan dari film sampai, dan akan muncul film-film religi sejenis. “Film ini fun dan selera anak muda. Kita menawarkan pesan-pesan positifnya kepada masyarakat,” pungkasnya.

Film Cahaya Cinta Pesantren ini bercerita tentang seorang anak nelayan, Shila Silalahi (Yuki Kato) yang tinggal di sekitar Danau Toba. Sebagai bungsu dari tiga bersaudara, tak heran kalau ia jadi anak kesayangan Bapaknya. Ia bercita-cita melanjutkan sekolah ke sebuah SMA swasta favorit di Medan. Namun ia menjadi patah hati tatkala Mamak malah ingin memasukkannya ke pesantren.

Kehidupan pesantren yang padat dan disiplin, membuat Shila tidak betah. Walau begitu Shila masih memendam sebuah impian lainnya untuk menjadi seorang penulis novel. Bersama Manda (Febby Blink), Aisyah (Via Blink) dan Icut (Vebby Palwinta), ia menemukan makna persahabatan yang sesungguhnya. Film akan diputar secara serentak di seluruh bioskop-bioskop tanah air pada 12 Januari 2017. [KM-03]