Himbara: Lambatnya Penyaluran Bansos Karena Data Tidak Lengkap

Hipunan Bank Milik Negara (Himbara) mengatakan data yang tidak lengkap penyebab lambatnya penyaluran bansos. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, KabarMedan.com | Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang terdiri dari BRI, Bank Mandiri, BNI dan BTN menegaskan telah menyalurkan berbagai bantuan yang ditugaskan pemerintah, sesuai peraturan yang berlaku.

Bahkan, sejak 2017, penyaluran bantuan sosial diklaim mendekati 100 persen.

Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Rohan Hafas menjelaskan terkait adanya bansos yang belum disalurkan karena data penerima manfaat yang tidak lengkap.

Inilah penyebab bank BUMN tidak bisa menyalurkan dana bansos kepada masyarakat.

“Data yang tidak clean mungkin rata-rata berjumlah 2 sampai 3 persen. Data yang tidak clean itu bukan territory bank,” jelas Rohan, Jumat (3/9).

Menurutnya, bank tidak memiliki wewenang untuk melengkapi atau memperbaiki data penerima manfaat sehingga bantuan tidak bisa disalurkan, selama data belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga:  Mendagri Apresiasi Sumut Bantu Hibah Rp260 Miliar Ke Aceh

Apabila bank dipaksa menyalurkan bansos tidak sesuai ketentuan, maka bank akan melanggar aturan. Dimana konsekuensinya tentu sanksi pidana.

“Yang terjadi adalah 2 ribu dan 3 ribu yang belum menerima itu dari data yang unclean. Sesuai di awal perjanjian kerjasama, hal itu jelas merupakan tugas Kementerian Sosial untuk memperbaiki data tersebut,” tuturnya.

Direktur Bisnis Mikro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Supari menyampaikan hal yang senada.

Data yang perlu dilengkapi dan diverifikasi oleh bank terdiri dari nama, NIK, tanggal lahir, nama ibu kandung dan alamat.

“Sepanjang lima data itu lengkap, maka oleh Himbara akan dieksekusi dengan cepat,” tegasnya.

Baca Juga:  PLN Rampungkan Infrastruktur Listrik Data Center Microsoft

Pengakuan Himbara ini terkait beredarnya sebuah video yang menunjukkan kemarahan Menteri Sosial Tri Rismaharini kepada pejabat sebuah bank BUMN di Kabupaten Jember, Jawa Timur, belum lama ini.

Video tersebut menunjukkan luapan emosi Risma, karena masih terdapat sejumlah masyarakat yang belum menerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH).

“Banyak sekali, ini enggak jalan ini yakin aku. Kalau jalan, enggak mungkin segitu, enggak jalan, sudahlah percaya omonganku. Ayo taruhan ini, ayo taruhan Rp100.000. Enggak jalan ini, masak 3.000 sama 5.000 yang belum tersalur. Kalau jalan, enggak mungkin sebesar itu,” kata Risma dalam video tersebut. [KM-07]