JAKARTA, KabarMedan.com | Berbeda dengan Indonesia, ternyata Jemaah haji Malaysia tidak mendapatkan program Arbain, yaitu salah 40 waktu berjamaah di Masjid Nabawi, Madinah.
Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Ketua Tabung Haji Malaysia Dato’ Sri Syed Saleh Syed Abdul Rahman saat bertemu Misi Haji Indonesia di Daker Makkah Arab Saudi, dilansir dari Suara.com, Jumat (22/7/2022).
“Sudah 10 tahun Arbain kita hilangkan dari buku-buku panduan haji di Malaysia,” jelas Dato’ Sri Syed Saleh Syed Abdul Rahman.
Menurut Syed Saleh, program tersebut dihapuskan oleh pihak Malaysia dengan alasan Sunnah serta efisiensi waktu selama penyelenggaraan ibadah haji.
Disamping itu, warga Indonesia dinilai lebih beruntung dari Malaysia. Mengingat masa tunggu haji paling lama 43 tahun untuk kuota 100 persen atau 86 tahun untuk kuota 50 persen.
“Di Malaysia 141 tahun masa tunggu. Kalau kuota 50 persen (seperti tahun ini) masa tunggu bisa hampir 300 tahun,” tutur Dato’ Sri Syed Saleh Syed Abdul Rahman.
Selain karena terbatasnya kuota, lamanya waktu tunggu di Malaysia dikarenakan aturan ketat yang diterapkan di negara tetangga itu.
Misalnya, Malaysia melarang penderita penyakit tertentu berangkat haji. Bahkan jemaah obesitas atau kegemukan juga menjadi salah satu syarat yang pantang dilanggar.
Misi Haji Indonesia, menerima kedatangan Tim Tabung Haji Malaysia. Hadir Ketua Tabung Haji Malaysia Dato’ Sri Syed Saleh Syed Abdul Rahman beserta dua wakil dan jajarannya.
Kehadiran mereka di Daker Makkah diterima Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hilman Latief beserta jajaran Eselon II. Hadir juga Konsul Haji KJRI Jeddah, Nasrullah Jasam.
Baik Hilman maupun Syed Saleh sepakat untuk terus menjalin komunikasi. Dalam beberapa waktu ke depan, keduanya berencana menggelar pertemuan untuk menjalin kerja sama agar pelayanan haji makin di masa mendatang. [KM-07]















