MEDAN, KabarMedan | Pulihnya fungsi Jembatan Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen membawa dampak langsung bagi masyarakat Sumatera Utara. Jembatan yang sempat putus total akibat banjir bandang ini merupakan bagian dari ruas Jalan Nasional Banda Aceh–Medan, jalur utama penghubung Aceh dan Sumut yang selama sebulan terakhir mengalami gangguan serius.
Bagi warga Sumut, khususnya pelaku usaha logistik, transportasi antarprovinsi, hingga masyarakat yang rutin melintas menuju Aceh, terputusnya jembatan ini sempat memperpanjang waktu tempuh, meningkatkan biaya distribusi, dan memicu kemacetan di jalur alternatif.
Berfungsinya kembali Jembatan Krueng Tingkeum menjadi titik balik normalisasi arus lalu lintas lintas provinsi.Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjelaskan bahwa pemulihan cepat jalur strategis ini merupakan bagian dari strategi besar penanganan infrastruktur pascabencana di Aceh.
Melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, pemerintah memprioritaskan konektivitas antarwilayah agar dampak ekonomi tidak meluas hingga ke provinsi tetangga seperti Sumatera Utara.
Direktur Pembangunan Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Rakhman Taufik, menegaskan bahwa kecepatan menjadi kunci utama dalam fase awal penanganan bencana. Jalur yang terputus harus segera difungsikan kembali meskipun dengan infrastruktur sementara.

“Tentu yang pertama kita harus menangani secara darurat terlebih dahulu. Apapun itu yang kita lakukan bisa dengan jembatan kayu atau dengan timbunan atau dengan boks atau misalnya dengan jembatan panel-panel darurat seperti di sini,” jelas Rakhman, Sabtu (28/12/2025.
Pendekatan ini dinilai krusial untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat lintas Aceh–Sumut, termasuk distribusi bahan pokok, hasil pertanian, dan logistik industri yang bergantung pada jalur darat.
“Yang penting jalan segera terhubung kembali. Kemudian kita juga mencari jalur-jalur alternatif,” tambahnya.
Saat Jembatan Krueng Tingkeum putus total, dampaknya langsung terasa hingga wilayah Sumatera Utara. Arus kendaraan dari Medan menuju Banda Aceh dialihkan ke jalur alternatif yang lebih sempit dan memakan waktu.
Untuk meminimalkan gangguan, Kementerian PU tidak hanya membangun jembatan darurat di lokasi utama, tetapi juga memperkuat jalur pendukung.
“Sebagai contoh waktu jembatan Krueng Tingkeum ini putus, kita juga memperbaiki jalan kabupaten dan kita memasang jembatan panel darurat di Awe Geutah,” ungkap Rakhman.
Upaya ini dilakukan secara paralel agar arus lalu lintas lintas provinsi tetap berjalan meski dalam kondisi terbatas. Kolaborasi lintas sektor pun menjadi kunci percepatan pemulihan.
“Kemudian selain itu strategi kita adalah kita mencari sumber daya. Sumber daya itu artinya ada dari penyedia jasa, ada dari TNI juga kita sama-sama berkolaborasi. Sehingga konektivitas untuk masyarakat bisa segera tersambung,” tegasnya.
Jembatan darurat Krueng Tingkeum tipe bailey sepanjang 66 meter resmi difungsikan pada Sabtu, 27 Desember 2025. Sebelum dibuka, struktur jembatan menjalani uji beban sebagai standar keselamatan, mengingat tingginya volume kendaraan dari dan menuju Sumatera Utara.
“Ya, tadi malam kita selesaikan semua panel-panelnya kemudian kita lakukan uji beban dengan beban sekitar 38 ton ya. Memenuhi syarat, tetap harus ada pembatasan. Ya. Ini namanya juga jembatan panel darurat. Jadi kita batasi beratnya. Mungkin akan kita umumkan besok beratnya,” paparnya.
BPJN Aceh memprioritaskan pembukaan akses ini karena perannya sebagai jalur utama distribusi logistik Aceh–Sumut. Selama jembatan terputus, keterlambatan pengiriman barang menjadi keluhan utama pelaku usaha di kedua provinsi.
Pembangunan jembatan darurat ini melibatkan kolaborasi pemerintah pusat, BUMN, dan kontraktor lokal. PT Adhi Karya (Persero) Tbk menjadi pelaksana utama dengan dukungan PT Krueng Meuh serta pendampingan Direktorat Jenderal Bina Marga dan BPJN Aceh.
Bupati Bireuen, Mukhlis, menyebut pembukaan jembatan ini membawa dampak langsung pada kelancaran lalu lintas regional.
“Alhamdulillah kami tinjau jembatan Krueng Tingkeum. Dan ini mudah-mudahan kepada pengguna jalan juga tidak bermasalah nanti dan tidak akan terjadi kemacetan lagi seperti yang kita lihat pada hari ini,” ujarnya.
Bencana banjir bandang dan longsor di Aceh pada akhir November 2025 memang berdampak luas. Data Kementerian PU per 17 Desember 2025 mencatat 38 ruas jalan nasional dan 16 jembatan terdampak, termasuk jalur yang menjadi penghubung utama ke Sumatera Utara.
Selama masa darurat, jalur desa dan jalan kabupaten dimanfaatkan sebagai akses tembus sementara menuju lintas timur yang mengarah ke Sumut.
“Ya, kita terus mendukung dan bekerja sama sampai hari ini. Juga jalur-jalur yang kita gunakan untuk tembus ke lintas timur juga banyak menggunakan jalan-jalan desa yang hari ini dan kita ikut membantu untuk apa namanya memperlancar jalur lalu lintas ya,” tambah Mukhlis.
Meski jembatan darurat kini telah beroperasi dengan batas beban maksimal 30 ton, pemerintah menegaskan bahwa solusi permanen sedang disiapkan.
Kementerian PU memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi akan segera dilakukan agar jalur strategis Aceh–Sumut memiliki infrastruktur yang lebih kuat dan tahan bencana.
“Ya, tentu setelah tanggap darurat tanggap darurat ini selesai termasuk pekerjaan darurat ini, kita segera melakukan rehab dan rekonstruksi. Termasuk kita akan membuat jembatan permanen insyaallah. Kita sekarang dalam tahap desain dan kita akan segera membangun jembatan-jembatan secara lebih permanen untuk memulihkan kondisi infrastruktur kita,” tandasnya. [KM-07]














