Peluncuran Rendang Goes to Europe di Bali Tuai Protes dari Masyarakat Sumatera Barat

MEDAN, KabarMedan.com | Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mencanangkan pemasaran masakan khas asal Sumatera Barat yakni rendang ke pasar Eropa.

Ia pun telah melakukan launching “Rendang Goes to Europe” di Bali pada 24 Maret 2022 lalu. Menurutnya, hal tersebut merupakan sebuah langkah konkret pemerintahan untuk membangkitkan ekonomi negara dan masyarakat melalui program Indonesia Spice Up The World.

“@kamenparekraf.ri melalui program pengembangan produk ekonomi kreatif akan bekerja sama dengan Bulgaria, sebagai Hub Trade untuk memasarkan rendang di Eropa,” ujar Sandi, dilihat di akun instargamnya pada Minggu (27/3/2022).

Namun hal itu ternyata menuai polemik. Bukan persoalan mengenai ide pemerintah ingin membawa rendang ke pasar internasional, melainkan launching yang diadakan tidak diadakan di daerah makanan tersebut berasal yakni di tanah Minangkabau.

Seorang ahli kuliner yang juga penulis dari Sumatera Barat, Reno Andam Suri menyampaikan pertanyaan terbuka terhadap langkah Sandiaga Uno beserta jajarannya.

Baca Juga:  Kunjungi Pusat Pengatur Beban Sumatra, Dirut PLN Pimpin Upaya Percepat Pemulihan Sistem Kelistrikan Sumatra

“Aku bangga kalau rendang yang dikenal dari Minangkabau, Sumatera Barat dikenal banyak orang bahkan sampai ke luar negeri. Sampai satu waktu… Ada langkah luar biasa dari Duta Besar Iwan Bogananta dan William Wongso membuat pabrik rendang di Bulgaria. Namun.. Langkah luar biasa itu kemudian diluncurkan dengan GAGAP GEMPITA di BALI, bukan di Sumatera Barat,” tulisnya di akun @renoandamsuri.

“Bapak Menteri Sandiaga Uno dengan bangga meresmikan dan mendukung acara ini. Malu kah bikin launching itu di daerah kelahiran rendang? Kurang bergengsi? Kurang greget? Komunitas perendang Minang kurang asik diajak kerja bareng?” imbuhnya.

Permasalahan tersebut menuai pro kontra oleh netizen. Ada yang bependapat bahwa langkah tersebut tidak tepat, namun ada juga yang mewajarkan launching tersebut wajar digelar di Bali, sebagai lokasi pariwisata paling terkenal di Indonesia.

“Jika nanti ada produk lain dari provinsi lain akan dinaikkan di pentas internasional, saya berharap yang naik itu dirayakan di Provinsi masing-masing dan yang mendapatkan investasi itu adalah pejuang-pejuang lokal tersebut yang sedari dulu menjaga dan melestarikan resep budaya masakan asli provinsi, sehingga impactnya benar-benar untuk untuk warga lokal,” ujar akun @udadiananugrah.

Baca Juga:  Dukung Asta Cita Pemerintah, Pegadaian Kukuhkan Posisi sebagai Wajah Utama Bank Emas Indonesia

“Menurut saya rendang itu bukan hanya sekedar makanan, tapi mewakili identitas daerah, khas dan budaya dari Sumatera Barat,” tutur akun @moro_seneng_indie.

“Positif thinking aja, kenapa di Bali karena ada kaitannya dengan KTT G20, lebih banyak masyarakat/media internasional di sana. Kalau di Padang belum tentu orang minat mau datang kalo cuma  mau liput, kalo pemerintah yang provides, ada biaya lagi untuk boyong mereka semua, cukup seneng aja sih rencananya bagus, toh untuk Indonesia juga,” kata akun @pacinkow.

“Harusnya bersyukur makanan khas Sumatera dilaunching @sandiuno di Bali. Ini menunjukkan kepedulian dan kebanggaan beliau terhadap makanan khas Sumatera,” sebut akun @idabagusanggapurana. [KM-06]