Pengamat: Turunnya Pasokan Ikan Segar Memicu Kenaikan Harga Daging Ayam

MEDAN, KabarMedan.com | Melonjaknya harga daging ayam belakangan ini diperkirakan karena ketersediaan beberapa jenis ikan segar di pasar yang menurun bahkan langka.

Menurut Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Benjamin Gunawan, kelangkaan ikan segar di pasaran itu membuat masyarakat mengalihkan konsumsinya ke sumber protein lain khususnya ayam.

Sementara, langkanya ikan segar ini dipicu oleh tingginya gelombang laut yang membuat nelayan enggan melaut.

Hasil pantauannya di lapangan, 1 kilo gram ayam hidup dijual dikisaran angka 23 hingga 25 ribu rupiah.

Sementara khusus daging ayamnya saja, harganya berada dikisaran angka 35 hingga 37 ribu rupiah per kilo gramnya.

“Cukup mahal memang, dan pemulihan harga daging ayam ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar,” ujar Benjamin Gunawan, Jumat (24/12/2021).

Menurunkan harga daging ayam ini peternak harus menambah pasokannya dan baru bisa dipanen dalam kurun waktu 1 hingga 1,5 bulan kemudian. Akan tetapi, tidak lantas semua peternak akan menambah jumlah ternak ayamnya.

“Bagi peternak yang lantas menambah pasokan, ini risikonya ada bagi mereka. Disaat pasokan ditambah, yang dikuatirkan adalah kemungkinan harga kembali anjlok jika nantinya pasokan ikan kembali melimpah di pasar. Tetapi untuk peternak yang menjadi mitra (plasma) perusahaan tertentu, saya yakin mereka akan menambah pasokan yang nantinya akan membuat harga daging ayam mencapai titik keseimbangan baru atau turun harga,” jelasnya.

Baca Juga:  Timsel KI Sumut Mulai Verifikasi 112 Berkas Calon Anggota

Benjamin Gunawan menjelaskan dari hasil observasinya, ia juga menemukan beberapa responden yang ternyata mulai merubah pola konsumsinya.

Misalnya untuk masyarakat yang mengonsumsi daging babi, sejak ada flu babi Afrika yang sempat memicu kenaikan harga.

“Ternyata konsumen tersebut belum sepenuhnya kembali ke pola konsumsi semula. Padahal kejadian ini sudah berlangsung sekitar 2 tahun silam,” katanya.

Sementara, menurut Benjamin, saat ini tidak jarang masyarakat mengutarakan bahwa untuk acara adat tertentu lebih menggunakan daging ayam.

“Memang masih perlu didalami apakah stok daging babi yang memang belum kembali seperti sebelumnya, atau memang kebiasaan masyarakat itu sendiri yang telah berubah,” tambahnya.

Seiring dengan hal tersebut, daging ayam ternyata masih menjadi alternatif pengganti daging babi. Hal ini diduga juga membuat tren konsumsi daging ayam tetap tinggi.

Baca Juga:  Jadwal Seleksi KI Sumut 2026–2030 Disesuaikan, Tahapan Berubah Tanpa Ubah Substansi

Namun, Benjami mengutarakan jika berbicara harga, daging ayam yang bertahan mahal di atas 33 ribu rupiah per kilo gram itu biasanya tidak berlangsung lama. Hal ini kerap diimbangi dengan ketersediaan stok di pasar.

“Saya menyimpulkan bahwa, jika tren konsumsi daging masyarakat naik nantinya. Apapun itu pemicunya mulai dari faktor cuaca atau pemulihan daya beli. Saya yakin harga daging ayam akan kembali ke titik keseimbangan yang semula. Selama tidak ada kenaikan biaya produksi. Dan dengan sebaliknya, kalaupun nanti alternatif selain daging ayam membaik stok atau persediaannya. Bukan berarti harganya akan bertahan murah. Mungkin murah hanya sesaat dan selanjutnya kembali normal. Karena peternak akan menyeimbangkan stoknya,” terangnya.

Benjamin menyampaikan, saat ini sekalipun tren konsumsi daging ayam masyarakat tinggi, ia yakin harga akan menemui titik keseimbangan baru nantinya.

Menjelang Nataru, harga daging ayam akan bertahan di level sekarang. Tetap ada fluktuasi ringan, karena memang saat liburan stok di pasar juga kerap terganggu dan harga kerap naik turun. [KM-07]