Peran Tenaga Kesehatan Faktor Keberhasilan Ibu Menyusui

MEDAN,KabarMedan.com| Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sekitar 8.8 juta anak berusia dibawah lima tahun yang pendek, 3 juta balita kurus serta sejumlah balita kelebihan bobot menunjukkan masalah gizi cukup serius di Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi masalah gizi balita adalah asupan makanan yang kurang tepat, khususnya pemberian ASI yang tidak optimal.

Di Indonesia, hanya 42 persen bayi berusia di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif dan menikmati manfaat ASI secara optimal. Faktor protektif dan nutrient yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik, juga menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.

Faktor penghambat pemberian ASI secara optimal antara lain, rendahnya pengetahuan ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan, persepsi – persepsi sosial budaya yang menentang pemberian ASI, kondisi yang kurang memadai bagi para ibu bekerja, serta pemasaran agresif oleh perusahan – perusahan susu formula yang tidak saja mempengaruhi para ibu,namun juga petugas kesehatan.

“Promosi ASI eksklusif wajib dilakukan tenaga kesehatan. Menurut PP Nomor 33 tahun 2012, pemberian susu formula hanya atas indikasi medis. Jadi, tidak boleh ada di Sumatera Utara tenaga kesehatan menawarkan susu formula, karena hal itu melanggar hukum,” kata Kepala Dinas Sumatera Utara, Drs. Agustama, Apt. M.Kes dalam seminar Laktasi Nasional di Aula Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

Baca Juga:  Dukung Industri Data Center, PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Mengambil tema “Peranan Tenaga Kesehatan Membantu Keberhasilan Ibu Menyusui”, seminar ini menghadirkan pembicara Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumatera Utara, dr. RA Dwi Pujiastuti, MKed (Neu) SpS, Dosen dan Ketua Prodi S2/S3 IKM FKM USU Etty Sudaryati, M.K.M, Ph.D, Ketua Umum AIMI Pusat Mia Sutanto, SH, LL.M, Sentra Laktasi Indonesia-Laktivis Senior Indonesia dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM.

Seminar Laktasi Nasional ini diikuti sekitar 250 orang yang terdiri dari bidan, perawat, sarjana kesehatan masyarakat,dan kalangan mahasiswa. Ia menyakini seminar ini memberikan informasi yang tepat tentang pemberian ASI kepada tenaga kesehatan. “Saya harap amanah ini dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Ketua AIMI Sumut, dr. RA Dwi Pujiastuti, MKed (Neu) SpS mengatakan, menyusui cukup kompleks bagi seorang ibu, karena melibatkan faktor fisik dan psikologis dan tidak dapat diabaikan.”Kegagalan seorang ibu menyusui merupakan masalah kesehatan, sehingga tenaga kesehatan perlu dibekali ilmu yang tepat untuk mencegah hal tersebut,” ungkapnya.

Baca Juga:  Dukung Industri Data Center, PLN Siap Suplai Listrik Andal untuk Ekspansi BDx

Di Sumatera Utara, masih minim fasilitas kesehatan yang menerapkan layanan pro ASI. “Semoga dengan seminar ini, para tenaga kesehatan semakin meningkat kandukungan dan pendampingan sejak dari masa kehamilan sampai pasca melahirkan ibu,” jelasnya.

Salah seorang perawat yang juga peserta seminar Natalius Bago mengaku, seminar tersebut sanggat bermanfaat bagi dirinya. “Tantangan dan masalah menyusui yang didiskusikan pada seminar ini tepat sekali dengan pengalaman saya bekerja di masyarakat. Informasi yang saya dapat sangat bermanfaat dan memberikan banyak solusi untuk dapat saya terapkan,” tambhanya.

Selain kegiatan seminar ini, secara regular AIMI Sumut kerap melakukan kegiatan dalam upaya mensosialisasikan mengenai pentingnya ASI, seperti kelas edukasi bagi masyarakat, konseling menyusui oleh konselor bersertifikas, sosialisasi di kantor pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam rangka melakukan advokasi untuk mendukung keberhasilan ibu menyusui. [KM-03]