Pertumbuhan Ekonomi di Sumut Dinilai Sia-Sia Karena Inflasi

Foto: Ist

MEDAN, KabarMedan.com | Realisasi inflasi Sumut pada April 2022 sebesar 0,44% terbilang cukup tinggi. Walaupun besaran inflasi tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan nasional.

Akan tetapi angka tersebut sudah membuat inflasi tahun berjalan Sumut mendekati 2% (1,99%). Padahal, inflasi sebesar itu baru dilalui selama 4 bulan dan menyisakan 8 bulan lagi hingga tutup tahun.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, besaran inflasi Sumut ini nantinya bisa ditutup di kisaran 3 hingga 4% atau berada di ambang batas atas target inflasi Bank Indonesia.

“Sementara yang akan kita hadapi ke depan adalah kenaikan bunga acuan global, harga energy yang mahal, harga pangan global yang juga bertahan mahal. Nantinya akan membuat sejumlah harga yang diatur pemerintah maupun harga-harga kebutuhan lain berpeluang menyesuaikan atau naik harganya,” jelas Gunawan, Selasa (10/5/2022).

Menurut Gunawan, sisa 8 bulan nanti akan benar-benar membuat ekonomi Sumut dalam tekanan, khususnya jika dikaitkan dengan pengendalian inflasi.

Baca Juga:  Pertamina Perkuat Sinergi dengan BIN, Dukung Kelancaran Distribusi Energi

Masalah lain muncul karena pertumbuhan ekonomi Sumut secara kuartalan (kuartal 1 2022 terhadap kuartal 4 2021) justru minus 0,13%.

Apabila membandingkan pertumbuhan ekonomi Sumut secara year on year memang naik sebesar 3,9%. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama (kuartal 1 2022) saat ini dengan tahun lalu menurutnya tidak relevan.

“Karena tahun laluu masih ada pandemi yang membuat aktivitas ekonomi masyarakat terkekang. Jadi lebih relevan kalau membandingkan kuartal 4 2021 dengan kuartal 1 2022. Terlihat sekali bahwa motor penggerak ekonomi yang membaik lebih didominasi oleh konsumsi selama hari besar,” katanya.

Gunawan menjelaskan, kuartal kedua tahun ini bisa saja ekonomi tumbuh 7% karena ada Ramadhan dan Lebaran. Namun, pertumbuhan tersebut tidak akan mampu dipertahankan di kuartal selanjutnya.

“Kalau nantinya pertumbuhan ekonomi 2022 di akhir tahun hanya berkisar 3 sampai 4 persen, sementara inflasi juga berada di kisaran 3 hingga 4 persen Sumut jelas tidak mendapatkan apa-apa. Buat apa ekonomi tumbuh tapi inflasi juga tinggi angkanya,” jelasnya.

Baca Juga:  Timsel KI Sumut Mulai Verifikasi 112 Berkas Calon Anggota

Gunawan menuturkan, pertumbuhan ekonomi Sumut akan sia-sia. Sumut akan mengalami laju pertumbuhan yang stagnan alias tidak bergerak.

Dampak resesi ekonomi ini yang diakibatkan pandemi masih saja dirasakan oleh masyarakat Sumut sampai detik ini.

“Untuk itu kita berharap pada pemerintah pusat maupun daerah agar sesegera mungkin membelanjakan anggaran pembangunannya. Kita juga mendesak agar Presiden Jokowi segera membuka keran ekspor CPO yang menjadi komoditas unggulan Sumut,” tuturnya.

Gunawan menambahkan, masyarakat saat ini juga masih berharap agar ada cara lain supaya kenaikan harga pangan dan energi dunia tidak lantas membuat harga BBM maupun kebutuhan di tanah air naik tajam.

“Saya yakin pemerintah masih akan mengandalkan bansos atau bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. Sayangnya, motor penggerak ekonomi lainnya setelah Idul Fitri ini diperkirakan akan terbebani dengan kemungkinan kenaikan biaya hidup hingga tutup akhir tahun,” tandasnya. [KM-07]