Satwa di Kebun Binatang pun Tak Luput dari Dampak COVID-19

MEDAN, KabarMedan.com | Pandemi virus corona atau COVID-19 tidak hanya membuat manusia saja yang terancam kehidupannya.

Satwa-satwa yang ada di dalam kebun binatang saat ini dalam masalah besar. Pemerintah sudah seharusnya turun tangan untuk membantu.

Demikian dikatakan Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI), Rahmat Shah, Kamis (30/4/2020).

Ia mengatakan, anggota PKBSI di seluruh Indonesia ada 57 kebun binatang/taman hewan dengan koleksi 4.912 spesies/jenis dan 98.933 ekor/individu.

“Saat ini kebun binatang dalam masalah besar, betul-betul krisis. Tidak hanya di Medan, atau Indonesia, tapi seluruh dunia,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini semua kebun binatang mengalami dilema dengan masalah berat yang tidak mudah teratasi kalau pemerintah tidak ikut campur tangan atau membantu. Misalnya, membebaskan pajak tahun ini dan mungkin juga tahun depan.

“Membantu biaya, di mana kami itu 1 bulan seluruh kebun binatang itu, kira-kira Rp 60 miliar. Di sana ada lebih dari 22 ribu pekerja,” ujarnya.

Satwa-satwa yang ada umumnya titipan pemerintah. Sebagai lembaga konservasi (LK), berfungsi untuk memberi edukasi, konservasi, rekreasi yang layak, sehat, mendidik dan terjangkau bagi berbagai kalangan.

“Dalam 1 tahun tamu kami itu lebih kurang 50 juta orang. Jadi betapa pentingnya itu,” ungkapnya.

Selain itu, LK juga juga berperan dalam penyelamatan satwa langka, pelepasliaran di daerah dan masih banyak perbuatan bermanfaat lainnya.

Kondisi seperti saat ini, katanya, belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mengaku, ada perbedaan mendasar antara LK dengan dengan perusahaan apapun di dunia.

“Tutup pun satwa harus makan, tetap harus dirawat, keepernya harus membersihkan kandangnya dan tetap dihitung pekerja masuk,” jelasnya.

Dia menambahkan, income kebun binatang berasal dari tiket, game yang ada di dalam, restoran. Dengan penutupan kebun binatang, maka nol income, tapi perawatan dan lain-lain harus teetap jalan.

Karena itu pihaknya sudah menyurati Presiden juga ke Ketua Palam Merah Indonesia (PMI), paling tidak untuk penyemprotan disinfektan di mana-mana maupun bantuan dana.

“Saya mohon dukungannya. Satwa ini kan warisan anak cucu yang tak ternilai. Kebetulan Indonesia itu kan satwanya luar biasa,” katanya.

Ia menjelaskan, ada beberapa plan atau rencana yang bisa dilakukan. Pertama, bantuan pemerintah dan bertahan sebisanya. Kedua, kalau yang pertama tidak bisa, maka terpaksa binatang-binatang yang banyak atau sudah tua terpaksa dikorbankan untuk karnivora.

Baca Juga:  Bobby Nasution Pastikan Sumut Berkomitmen untuk Pengembangan Industri dan Ekonomi

“Dipotong, dikasih daging. Mungkin itu plan B,” jelasnya.

Jika tidak bisa dari sana-sini, maka ada pilihan lain, yang juga dibenarkan secara internasional. Catatannya, jika sudah tidak ada pilihan lain atau pilihan terakhir.

“Kalau minta bantu sana sini tak bisa, sudah sangat gawat, ya euthanasia. Suntik mati, itu langkah terakhir karena tidak bisa melihat satwa tersiksa dan menderita,” katanya.

Euthanasia, kata dia, belum dilakukan di mana pun. Namun hal tersebut hanyalah bayangan jika Covid-19 ini berlarut.

“Untuk diketahui, dalam 1 tahun itu, income pemerintah dari sektor pajak, hiburan, dan lain-lain itu, hampir Rp 500 miliar. Jadi ya, keberadaannya (kebun binatang) itu cukup berarti,” katanya.

Rahmat Shah menambahkan, tanggung jawab kebun binatang sangat besar. PKBSI memiliki anggota 57 LK yang untuk masuknya sangat selektif dan mendapatkan pembinaan.

PKBSI juga kerjasama dengan IUCN, perpanjangan PBB untuk satwa, MoU dengan Jepang dan memiliki citra yang baik.

“Maka kalau ini tidak diselamatkan, ini terkait citra bangsa. Contoh terdekat Malaysia, zoo di negara itu, langsung pemerintah bantu sekian juta ringgit,” katanya.

Menurutnya, pemerintah tidak akan rugi karena itu akan balik paling lama 5 tahun. Mahatma Ghandi, katanya, pernah mengatakan bahwa moral suatu bangsa dapat dinilai dari bagaimana bangsa tersebut memperlakukan satwanya.

“Peran LK sangat berat dan besar manfaatnya untuk berbagai kalangan,” katanya

Terkait dengan kondisi Kebun Binatang Medan atau Medan Zoo yang saat ini kesulitan sehingga membuat koin donasi, menurutnya, kebun binatang yang baik adalah cuma Ragunan.

Medan Zoo, katanya, tidak pun ada masalah ini banyak yang komplain.

“Ini maaf kalau kita mau jujur. Dulu (kebun binatang) Surabaya bagaimana, numpuk-numpuk. Saya berulang bilang, kebun binatang itu bukan peternakan, perlu 1 jenis sampai 10-20 30. Tak perlu. punya 2 pasang 3 pasang cukup,” katanya.

Dia mencontohkan, Taman Hewan Pematang Siantar, luasnya hanya sektar 4,5 hektare. Dia mengaku tidak mau memelihara gajah karena tak layak lagi (untuk di lokasi tersebut). Namun saat lebaran, bisa dikunjungi sampai 28 ribu orang 1 hari.

“Ini yang menyedihkan bagi keluarga besar kebun binatang. Hari raya ini panen besar, income ini luar biasa. Ini lah harapan kita 1 tahun ini di lebaran. Tapi ini macam mana lah, ini bencana sudah internasional, force major,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemprov Sumut Hentikan Aktivitas Tambang Ilegal di Deliserdang dan Sergai, Pelaku Usaha Diminta Urus Izin

Saat ini, beberapa kebun binatang yang masih bisa bertahan 1-3 bulan. Karena sudah berlalu 1 bulan lebih, menurutnya, ini sudah mepet. Medan Zoo, menurutnya, Pemko Medan harus turun tangan.

“Saya coba jembatani. Kenapa jauh-jauh mereka pergi ke Jogja minta 100 kg, itu kawan anggota juga, kenapa tak ke saya, biar saya kasih 200, tapi tak ada yang datang. Nanti saya suruh orang saya ke sana apa yang bisa dibantu,” katanya.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi menjelaskan, pihaknya juga melaporkan mengenai perkembangan di Medan Zoo ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya yang sudah meminta data kesulitan yang dialami oleh LK-LK.

“Jadi bukan hanya Medan Zoo. Memang seluruhnya, kita diminta. Karena memang umumnya LK kan tutup tak ada pengunjung. Seperti apa kondisi di masing-masing provinsi tidak hanya Medan Zoo,” katanya.

Dalam situasi normal pun kondisi Medan Zoo memprihatinkan. Dia sudah pernah menegur dan mengancam akan menutupnya dengan alasan kesejahteraan satwa. Informasi yang diperolehnya, Medan Zoo tidak ditampung dalam APBD.

“Ini (Medan Zoo) satu yang akan kita laporkan juga. Yang jelas kalau di APBN ini kan pemotongan besar-besaran. Agak berat saya untuk alokasikan anggaran APBN di DIPA kami,” katanya.

Hal yang bisa dilakukan adalah dengan menggalang sumbangan-sumbangan dari berbagai pihak. Menurutnya,di Sumatera ini banyak perusahaan yang bisa diminta sumbangsihnya untuk mengatasi itu.

“Tapi harus digerakkan oleh pemerintah. Saya bisa mensupport tapi ini kan milik Pemda. Jadi situasinya seperti itu. Makanya celaka sekali dia tak ada APBD Pemko,” katanya.

Bantuan Masyarakat Mulai Berdatangan

Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Kota Medan, Putrama Al Khairy mengatakan, pihaknya sudah menerima bantuan langsung dari masyarakat yang peduli terhadap Medan Zoo. Bantuan itu dikirim langsung menggunakan mobil pick up.

Putrama kemudian mengirimkan foto-foto bantuan tersebut. Mulain dari ubi kayu, pisang, rumput, daging ayam hingga rumput.

“Yang memberikan bantuan ini ada yang dari dari masyarakat sekitar Medan Zoo, yang bersebelahan dengan areal pekuburan Covid-19 di Simalingkar dan ada juga Ibu Hesti dari Tanjung Morawa,” pungkasnya. [KM-05]