Tantangan Pers Semakin Berat di Era Disrupsi Digital

JAKARTA, KabarMedan.com | Memperingati 25 tahun kelahirannya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar seminar konferensi regional dan nasional dengan tema besar “The Biggest Challenge of Journalism in Digital Era”.

Kedua seminar ini membahas tentang tantangan jurnalis maupun media serta kondisi pers dan bisnis media secara keseluruhan yang menghadapi era disrupsi digital. Kondisi yang membawa dampak yang besar terhadap media dan jurnalisme saat ini.

Seminar Regional  bertajuk The  Challenge of Journalist and Media in Southeast Asia Region menghadirkan para pembicara Nonoy Espina (NUJP Filipina), Steven Gan (Pemimpin Redaksi Malaysiakini.com, Malaysia), Jane Worthington (Direktur IFJ Asia Pasific berbasis di Sydney, Australia), Adam Portelli (Victorian Branch of Media Entertainment and Art Alliance, Australia) dan Asep Setiawan (Anggota Dewan Pers, Indonesia).

Sementara, Seminar Nasional disampaikan para pemimpin redaksi media, stakeholder pers, dan termasuk empat pemenang call paper yang diharapkan memberikan masukan baru untuk media dan pers di Indonesia.

Ketua Umum AJI Abdul Manan menjelaskan, ada banyak kegelisahan mengenai pers dan praktek jurnalisme hingga model bisnis di era digital.

Hal ini tak hanya terjadi di Indonesia dan Asia Tenggara tetapi mengalami perubahan cukup signifikan di berbagai negara di seluruh dunia.

Era digitalisasi juga mendatangkan kekhawatiran terhadap iklim kebebasan pers.

“Diskusi ini mengemuka  dalam Kongres IFJ di Tunisa Juni lalu. Hampir 50 persen peserta mengkhawatirkan tentang ancaman terhadap kebebasan pers,” katanya saat pembukaan konferensi di Hotel JS Luwansa, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (6/8/2019).

Komisioner Dewan Pers, Asep Setiawan mengatakan, tantangan nyata di era digitalisasi ini adalah  adaptasi jurnalis dan media terhadap beragam bentuk platform digital.

Realitanya adaptasi menuntut lingkungan dan kemampuan kerja baru bagi jurnalis. Di era digitalisasi, media di Indonesia dan Asia Tenggara berhadapan dengan kecepatan serta memanfaatkan big data. Karena itu Jurnalis harus lebih profesional dan dilatih kembali untuk memenuhi kebutuhan publik.

“Salah satu solusi yang ditawarkan  oleh Dewan Pers untuk meningkatkan kualitas jurnalis ini dengan menerapkan sertifikasi kepada jurnalis dan media” ujar Asep.

Digitalisasi, katanya, juga membawa dampak bagi kebebasan pers. Banyak media di sejumlah negara masih menghadapi masalah seperti penyensoran, kekerasan dan hingga pembunuhan terhadap jurnalis. Bahkan ancaman terhadap kebebasan pers menunjukkan trend meningkat.

Jane Worthington mengatakan tantangan media dan jurnalis saat ini tidak mudah. Agar dapat bertahan  hidup, salah satu satu caranya dengan bekerja sama, berjejaring dan memperkuat serikat.

Adam Portelli dari MEAA,  khusus menyinggung masalah industri pers sebagai dampak dari digitalisasi. Dia menjelaskan, pengalamannya untuk mengadvokasi  masalah ketenagakerjaan para pekerja lepas dan pekerja media digital. Ia menekankan pentingnya  kesepakatan kolektif.

“Pentingnya serikat kerja kepada  para jurnalis muda yang bekerja di outlet digital  karena meningkatnya tantangan jurnalisme,” ucapnya.

Adapun Nonoy Espina membagi kondisi pers Filipina yang mengalami tantangan berat. Salah satu ancaman terbesar di negara ini adalah ancaman kekerasan terhadap jurnalis.

Sejumlah orang terbunuh ketika menjalankan tugas mereka. Setidaknya 13 jurnalis tewas selama pemerintahan Durterte, memperburuk situasi pers sejak tragedi pembunuhan masal para jurnalis pada 2009 .

Perkembangan media sosial  juga  menjadi momok ancaman bagi para jurnalis. Pemerintah setempat, katanya, menggunakan media sosial untuk  menyebarkan fakenews.

“Facebook disebut sebagai tool yang paling populer untuk menyebarkan fakenews dan hal itu dipercaya oleh masyarakat,” jelasnya.

Pemimpin redaksi  Malaysiakini.com Steven Gan menekankan perlunya dukungan semua pihak,  saling support antar jurnalis se Asia Tenggara menjadi sangat penting. [KM-03]