Tiga Wanita Tangguh Tapakan Kaki di Puncak Gunung Lauser

MEDAN, KabarMedan.com | Sebanyak 7 orang pendaki dari Sangkala menapakkan kaki di puncak gunung tertinggi di Aceh pada Jumat 20 Desember 2019.

Informasi ini menggembirakan semua pihak yang memonitor perjalanan tim setelah 5 hari tidak terjadi kontak, melalui smartphone dan handy talky. Pendakian mereka dimulai tanggal 13 Desember 2019 lalu dari Desa Kedah Blangkejeren.

Ekspeditor Sangkala yang berhasil mencapai puncak Gunung Leuser adalah Sutrisno Sitorus (24), Evandi Muslim Sitepu (23), Juandi Barutu (26), Malikul Yahya (20), Ramadani Siagian (56), Lim Yani (43), dan Alin (36).

“Setelah 5 hari kehilangan kontak akhirnya kami mendapat kabat mereka telah berhasil sampai di sana,” kata Ketua Sangkala, Hafifudin Arif, Senin (23/12/2019).

Arif menjelaskan, pendakian ini merupakan latihan rutin bagi anggota Sangkala untuk memelihara standar kapasitas personal anggota dan spirit komunal organisasi.

Pendakian ke Gunung Loser dengan ketinggian 3.404 meter dari permukaan laut (mdpl) merupakan pendakian standar, selain pendakian gunung Perkisson-Bendahara (3.011 mpdl) dan Gunung Lembu (3.050 mpdl).

Selain proses pendakian ke puncak Gunung Leuser, puncak tertinggi di TNGL harus melewati puncak-puncak gunung seperti Pucuk Angkasan (2.891 mpdl), Gunung Pepanyi (2.440 mpdl), Gunung Tanpa Nama (2.945 mpdl), Gunung Bivak III (3.000 m), Gn Loser (3404 m) dan Gunung Leuser (3111 mpdl).

“Karena lintasan tempuh yang jauh dan waktu tempuh lama, maka pendakian Leuser ini tergolong pendakian yang seram, namun menantang untuk dilakukan oleh para pendaki gunung,” jelasnya.

Baca Juga:  Pegadaian Kanwil I Medan Jajaki Kerja Sama dengan Polbangtan Medan

Saat melakukan pendakian rintisan 32 tahun lalu, atau sekitar tahun 1.987, tim Sangkala membutuhkan waktu 19 hari unttk mencapai puncak Leuser dan 11 hari untuk turun ke Desa Kedah.

“Kini, waktu pendakian hanya butuh waktu tercepat 7 hari dan turun 4 hari. Karena itu, disiplin dan kompak menjadi kunci keberhasilan pendakian,” ungkapnya.

Koordinator tim Pendukung Sangkala Hardinas menuturkan, pendakian dengan jarak mendatar sekitar 45 Kilometer di peta ini seharusnya sudah berjalan efektif sejak tanggal 10 Desember 2019.

Namun, pada hari pertama pendakian 3 ransel yang berisikan logistik dan perlengkapan raib saat tim berbivak di dalam hutan, masih di dekat Desa Kedah.

“Peristiwa tak biasanya ini segera dilaporkan ke Pos Polsek Belangkejeren untuk diusut. Peristiwa ini tak menyurutkan semangat tim pendaki, karena secepatnya segera mendapat dukungan pengganti logistik dan perlengkapan dari Medan,” tuturnya.

Tiga Perempuan Ikut Pendakian

Tiga orang wanita yang dapat dikatakan tidak muda lagi ikut dalam pendakian tersebut. Ketiganya ikut terkait dengan peringatan Hari Ibu di Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 22 Desember.

Adalah Alin, wanita berusia 36 tahun yang tinggal di Jakarta, Yani Lim (44) yang tingal di Malaysia, dan Dani (56) yang juga pendiri Sangkala.

Baca Juga:  Branding Kopi Tapsel Menguat, Konsep "Huta Kopi" Jadi Gerbang Ekspor Komoditas Berbasis Hutan

Bersama mereka ada Sutrisno sebagai komandan tim dan wakilnya, Evandi beserta Malikul Yahya/Asep, dan Juandi Barutu.

“Bagi masyarakat kita, pendakian yang dilakukan peserta perempuan ini menjadi bukti kaum perempuan memang dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya, tanpa mengingkari kodratnya sebagai perempuan, yang berfungsi sebagai istri yang baik dari suaminya dan ibu teladan bagi anak-anaknya, dengan melakukan pendakian gunung yang mengandung risiko,” jelas pendiri Sangkala Zahedi.

Bagi Dani pendakian ke puncak Gunung Leuser merupakan pendakian nostalgia sebagai perempuan pertama dari Sumatera yang berhasil mencapai puncak Gunung Leuser pada tahun 1987 yang lalu bersama sahabat-sahabatnya sesama mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

“Kali ini, Dani setelah 32 tahun kembali mencapai puncak Gunung Leuser bersama ‘anak-anaknya’ dari Sangkala,” cetusnya.

Ia mengaku, Dani bisa dibilang sebagai pendaki perempuan berusia paling tua yang bisa mencapai puncak Gunung Leuser.

Keberhasilannya mancapai Gunung Leuser kali ini tidak terlepas dukungan dari anak-anak serta suaminya, Fachrurrozi, yang juga pendiri Sangkala serta Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Medan (ITM).

“Kenyataan ini menjadi bukti bahwa yang tersisa tak akan menjadi sia-sia, dan juga bukti bahwa yang sedikit namun mampu menembus langit,” pungkasnya. [KM-03]