10 Tahun Berlalu, Pembunuhan Munir Masih Jadi Misteri

munirKABAR MEDAN | Sepuluh tahun sudah kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir berlalu. Aktor utama pembunuhnya hingga kini belum juga terungkap.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) meminta, agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera membuka laporan Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengungkap motif dibalik pembunuhan tersebut.

“Divonisnya tiga orang yang terlibat tidak cukup membuka atau menarik tanggung jawab orang-orang dilevel tertinggi sebagai otak atau dalang pelaku pembunuhan Munir,” kata Koordinator Kontras, Haris Azhar, melalui siaran pers yang diterima KabarMedan.com, Minggu (7/9/2014).

Menurutnya, berdasarkan keputusan Presiden No 111 tahun 2004 tentang pembentukan TPF kasus meninggalnya Munir, butir ke 9 yang menyebutkan Pemerintah mengumumkan hasil penyelidikan Tim kepada masyarakat. Namun hal itu tak kunjung dilakukan.

Baca Juga:  Kurang dari 25 Menit Pelaku Pencurian Sekaligus Pembunuhan Berhasil Dibekuk Polisi

“TPF hingga kini belum juga diumumkan meskipun ada kewajiban,” ujar Haris.

KontraS menilai, mengumumkan hasil TPF tidak hanya dalam rangka menjalankan kewajiban berdasarkan Keppres. Namun, secara khusus untuk memberikan informasi kepada Masyarakat apa yang menjadi temuan dari TPF kasus meninggalnya Munir.

“Baik dari segi motif pembunuhan dan para pelaku pembunuhan serta menjadi pintu masuk untuk dilakukannya proses hukum yang lebih mendalam,” kata Hariz.

Secara khusus, dalam masa transisi pemerintahan SBY, yang akan digantikan oleh Jokowi sebagai Presiden terpilih, adalah untuk membuktikan pernyataan bahwa kasus Munir merupakan “test of our history“. Sehingga menuntaskan kasus Munir termasuk mengumumkan hasil TPF merupakan ujian terakhir terhadap HAM.

Baca Juga:  Kurang dari 25 Menit Pelaku Pencurian Sekaligus Pembunuhan Berhasil Dibekuk Polisi

Diketahui, pada 7 September 2004 silam, Munir ditemukan meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Belanda. Sebuah otopsi yang dilakukan pihak berwenang Belanda menunjukkan bahwa Munir telah diracun dengan arsenik.

Munir selalu dalam keadaan bahaya sebagai akibat dari kerja-kerjanya soal HAM. Pada 2002 dan 2003, kantornya diserang, dan pada Agustus 2003, sebuah bom meledak di luar rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.  [KM-01]

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.