MEDAN, KabarMedan.com – Tiga kabupaten sentra produksi jagung di Sumatera Utara sudah memasuki musim panen sejak awal Januari lalu. Saat ini petani merasa senang karena harganya tinggi. Mereka juga berharap agar tidak ada impor jagung karena surplus hingga 500.000 ton dari kebutuhan untuk pakan ternak sebesar 1,2 juta ton/tahun.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, M Juwaini mengatakan, produksi jagung berkisar 1,7 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan jagung untuk perusahaan yang tergabung dalam asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan Ternak sebesar 1,2 juta ton per tahun. Dengan begitu, masih tersisa 500.000 ton yang disebutnya sebagai angka surplus.
“Kemana 500.000 ton itu? Itu yang kemudian ada di pasaran dijual oleh petani, pedagang, dimanfaatkan oleh pembuat pakan ternak skala kecil dan lain sebagainya,” katanya, Kamis (28/2/2019).
Dikatakannya, realisasi tanam komoditas jagung di Sumut periode Oktober 2017 – September 2018 seluas 293.200 hektare dengan realisasi panen seluas 247.112 hektare dengan produktifitas sebesar 61,10 kwintal per hektare. Dengan angka produktifitas sebesar 61,10 kwintal per hektare (6,1 ton per hektare) dikalikan dengan luas lahan 293.200, maka diperoleh angka 1.788.520 ton.
Bethman Siagian dari Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) mempertanyakan, kenapa harga jagung justru tinggi jika disebut produksi jagung mengalami surplus. Dalam bisnis, kata dia, hanya ada satu hukum, penawaran. Di saat penawaran sedikit, maka harga tinggi. Di saat penawaran banyak, maka harga rendah.
“Seminggu yang lalu harganya Rp 4.000-an. per kg, itu belum ada sejarahnya. Baru ini sejarahnya, sudah 30 tahun di peternakan harga bisa sebegitu besarnya. Cuman kalau klaim tidak cukup, data kita tak seakurat mereka,” katanya.
Selama ini, kata Bethman, kebutuhan jagung di pabrikan sekitar 800.000 – 900.000 ton per tahun. Jika ditambah dengan peternak mandiri, maka totalnya menyentuh angka 1,2 juta ton per tahun. Dia mengaku tidak sedang membantah data yang muncul bahwa produksi jagung di Sumut mengalami surplus karena pasti menggunakan metodologi tertentu dan tidak mungkin menyalahkan datanya.
Ketua Komunitas Petani Jagung Karo, Amin Sebayang mengatakan, panen kali ini petani diberkati oleh Tuhan dengan datangnya hujan. Harga jual jagung pun saat ini sedang menggembirakan, yakni Rp 4.000-5.000/kg. “Kita berharap lah agar pemerintah melihat kami para petani. Jangan impor karena bisa memengaruhi harga di petani,” katanya. (KM-05)














