MEDAN, KabarMedan.com | Kopi asal Sumatera Utara sudah terkenal hingga ke manca negara. Dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara, tercatat total ekspor kopi tahun 2018 mencapai 64.910,053 ton. Selama ini, ada 6 negara yang menjadi tujuan ekspor kopi Sumatera Utara.
Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Utara, Herawaty mengatakan, pasar ekspor kopi Sumatera Utara masih sangat terbuka lebar. Tercatat, 6 negara sangat berminat dengan kopi Sumatera Utara, yakni Amerika, Jerman, Jepang, korea, Belanda, China. Walaupun demikian, hingga kini belum mampu memenuhi seluruh permintaan ekspor.
Menurutnya, provinsi ini memiliki brand kopi yang sangat digemari konsumen luar negeri karena citarasa yang khas serta memiliki beraneka ragam single origin dan specialty. Dia kemudian menunjukkan data realisasi ekspor kopi melalui Belawan berdasarkan SKA 2018 (Januari – Desember) yang dicatat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara.
Berikut ini datanya, kopi Arabika sebesar 60.763,017 ton senilai 342.434 US$. Robusta sebesar 2.202,432 ton senilai 5.428,126 US$. Lain-lain, sebesar 1.944,604 ton senilai 8.314,727 US$. Jika ditotal jumlahnya 64.910,053 ton dengan nilai 356.177,408 US$.
Dia berharap, petani dapat meningkatkan mutu produknya. Sumatera Utara sendiri, sudah mengarah pada kopi organik dengan meminimalisir pupuk dan pestisida kimia karena negara tujuan ekspor sangat sensitif terhadap residu bahan kimia.
“Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut sudah mulai melakukan pelatihan-pelatihan dalam rangka meningkatan produk kopi dan menginisiasi generasi milenial untuk terlibat pd agribisnis kopi,” katanya, Jumat (1/3/2019).
Hanya saja, untuk individu eksportir, perannya masih belum terlihat secara langsung kepada petani. Ke depan, lanjut dia, diharapkan para eksportir dapat berperan serta dalam melaksanakan pendampingan petani sehingga dapat meningkatkan produksi dan mutunya.
“Dan yang tak kalah pentingnya, meningkatkan sinergitas dengan pemerintah daerah. Karena meningkatnya nilai ekspor kopi tidak terlepas dari kolaborasi stakeholder terkait seperti pemerintah, eksportir, pelaku usaha dan petani dalam rangka peningkatan kesejahteraan mereka,” katanya.
November 2018 kemarin, Ujiana Sianturi, PT Alpha Gemilang Sejahtera (AGS) mengekspor 3 ton kopi Arabika ke California, Amerika Serikat. Menurutnya, pemesanan kopi dari salah satu negara bagian di pesisir barat Amerika Serikat itu berawal dari sebuah pameran.
Ia menceritakan, awalnya buyer menyukai kopi dari Karo. Sejak perkenalan itu, ia diminta untuk mengirimkan sampel beberapa jenis kopi asal Sumatra. Setelah itu, sang buyer pun membantunya untuk urusan dokumen Food and Drug Administration (FDA).
“Pertama kali mengirimkan kopi Arabika sebanyak 600 kg pada 23 September lalu. Kali ini, eskpor kopi Arabika grade I peaberry sebanyak 3 ton ke Kalifornia, tepatnya di Palm Beach,” terangnya.
Untuk mendapatkan kopi sesuai permintaan, ia pun bekerjasama dengan Kelompok Tahun i Kahoowa di Karo. Kopi yang ia beli dari petani dihargai Rp 120.000 per kg (green bean). Menurutnya, sejak dulu kopi asal Sumatra sudah dikenal dengan kualitasnya, maka tidak heran jika harganya lebih tinggi dari kopi Toraja. Harga kopi Arabika dari Toraja sebesar paling tinggi Rp 100.000 per kg.
Dikatakannya, dalam berbisnis dia melakukannya secara transparan. Buyer, kata dia, jika pada pengiriman pertama dihargai US$ 7,6/kg, pada pengiriman kedua ini green bean dihargai US$ 7,9/kg. “Kita yakin keberlanjutannya karena buyer membuat gudang dan akan membuat kopi sachet,” katanya. [KM-05]














