Emas Alami Penurunan Ke Level Dibawah US$1100

JAKARTA, KabarMedan.com | Bulan Juli lalu untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lima tahun, menurut data ekonomi Amerika Serikat, emas akhirnya mengalami penurunan dan harganya jatuh ke level di bawah US$1100.

Hal ini mencerminkan kestabilan dalam pemulihan perekonomian negara tersebut, sebagaimana komentar berulang mengenai komitmen Federal Reserve bahwa mereka akan menaikkan suku bunga acuan di tahun 2015.

Selain keraguan yang cukup signifikan dari para trader dan investor untuk membeli emas, penurunan dalam permintaan logam tersebut dalam beberapa waktu terakhir juga menegaskan ramalan mengenai jatuhnya nilai emas, meskipun ada ketidakpastian terkait kenaikan Yunani ke tingkatan baru.

Hal terakhir yang semakin memupuskan harapan akan kenaikan emas adalah pengumuman bahwa kepemilikan emas Tiongkok, hanya setengah dari level yang dicadangkan.

Ditambah lagi dengan adanya fakta yang mengatakan bahwa emas telah jatuh di bawah level psikologis US$1100, pasar kini telah memasuki periode baru dalam pelemahan emas.

Negara-negara berkembang termasuk Brazil, Chile, Kolumbia, Indonesia, Malaysia, Meksiko, Afrika Selatan, Turki dan Rusia, merupakan pasar yang terkena dampak paling besar.

Saat ini kita tengah berhadapan dengan fenomena global di mana mata uang negara-negara berkembang tersebut terpukul oleh kombinasi ramalan akan suku bunga Amerika Serikat dan penjualan komoditas.

Sementara itu, kekhawatiran akan semakin dalamnya keterpurukan perekonomian Tiongkok, daripada sebelumnya terus terbayang akibat adanya penurunan bursa saham negara tersebut yang cukup signifikan, yang diikuti pelemahan data yang tidak terduga pada akhir bulan.

Hal ini sangat mempengaruhi sentimen investor dan membawa penurunan semakin jauh pada komoditas dan mata uang perekonomian yang terkait ekspor komoditas.

Sebagai salah satu mata uang yang terkepung tekanan gravitasi investasi sebagai dampak ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan tingkat suku bunga, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS terus merosot di rentang terendah 13249,3 dan tertingginya di 13509,8 per Dollar AS.

Tren tersebut dapat mendorong volume ekspor Indonesia sebagaimana harga barang akan menjadi lebih murah, namun ada resiko bahwa pelemahan harga emas dapat memukul performa PDB, di mana Indonesia adalah negara yang memasok sekitar 4 persen ekspor emas dunia.

“Sentimen investor terhadap Rupiah sedang tertekan dan terdorong oleh beberapa faktor, seperti ramalan bahwa tingkat suku bunga AS tetap kuat dan perekonomian Indonesia yang mengalami imbas negatif dari pelemahan harga komoditas. Selain itu, devaluasi Rupiah tengah menyelaraskan resiko inflasi karena nilai tukar yang lemah akan menjadikan harga produk impor semakin mahal. Tampaknya perekonomian Indonesia akan terus menghadapi resiko penurunan dan Rupiah terus mengalami tekanan sebagai akibatnya,” jelas Kepala Analisis Pasar FXTM, Jameel Ahmad, Kamis (6/8/2015).

Terkait perkembangan mata uang lain, pasangan Poundsterling dengan Dollar AS mengalami penguatan sebagai imbas peningkatan PDB di caturwulan kedua, dan Pound kembali meraih kekuatannya setelah sempat menurun terhadap Dollar AS dan kehilangan pesona terhadap investor.

“Pertumbuhan PDB Inggris sejalan dengan estimasinya di 2,6 persen per tahun. Walaupun kecepatan momentum perekonomian Inggris agak melambat, pertumbuhannya tetap menunjukkan penguatan dan ini semestinya dapat menaikkan sentimen investor terhadap Pound,” terang Jameel.

Perekonomian Inggris tetap terkendala inflasi, namun secara keseluruhan bulan Juli menjadi titik awal berbaliknya keberuntungan pasar mata uang. Perekonomian AS cukup mendominasi, yang menyebabkan meningkatnya agresivitas Bank of England; hanya Euro yang agak tertinggal di tengah-tengah halini dikarenakan bergolaknya krisis hutang Yunani. [KM-01]