MEDAN, KabarMedan.com | Seiring dengan peringatan Hari Tuberkolosis Sedunia, Forum Multisektor Percepatan Eliminasi TB menyelenggarakan agenda skrining TB bagi masyarakat di Kecamatan Medan Area, Kota Medan pada Sabtu (26/3/2022).
Dokter Eva Oktavia Karolina Simatupang, selaku bagian dari Yayasan KNCV mengatakan, forum multisektor tersebut terdiri dari lima unsur yakni, pihak pemerintahan, swasta, akademisi/asosiasi profesi, komunitas, dan media.
“Kita dari awal, kolaborasi dari berbagai macam mitra di forum multisektor ini, dari berbagai macam lembaga, instansi, kita diskusi mengenai masalah tempat maupun pihak-pihak yang terlibat,” ujarnya.
Ia pun merincikan pihak-pihak yang terlibat dalam acara tersebut, antara lain Pemerintah Kota Medan, Dinas Kesehatan Kota Medan, Yayasan KNCV Indonesia, BPC HIPMI Medan, Sat Brimob Polda Sumut, Dr’s Koffie Foundation, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Bank Sumut, PKK Kota Medan, TB.RO Sumatera Utara.
Penyelanggaraan skrining TB hari ini, lanjut Eva, merupakan lokasi ketiga dari sebelumnya telah dilakukan di Kecamatan Medan Belawan dan Medan Maimun. Sebagaimana yang diketahui, Kota Medan menjadi daerah dengan tingkat Tuberkolosis paling tinggi di Sumatera.
Menargetkan sebanyak 150 orang masyarakat yang diskrining, sebelumnya pihak penyelenggara telah membagikan kupon ke pasien yang dinilai beresiko tinggi terkena TBC.
“Misalnya pasien yang kontak erat dengan pasien TBC, pasien yang serumah, dan juga yang mungkin dia tidak kontak tapi ada suspek, ada gejala TBC. Termasuk juga pasien-pasien yang dengan komorbid, pasien-pasien yang beresiko tinggi,” tutur Eva.
Masyarakat yang telah mendapatkan kupon tersebut wajib membawanya pada hari H, disertai dengan fotokopi KTP dan Kartu Keluarga. Setibanya di tempat, masyarakat diarahkan melakukan pendaftaran dan pemeriksaan gula darah.
“Lalu setelah itu mereka bawa kupon dan bawa fotokopi KTP dan kartu keluarga. Mereka datang, dimulai dari pendaftaran, lalu diperiksa kadar gula darahnya, karena TBC itu berkaitan erat dengan Diabetes Militus. Lalu diskrining TBC dengan menggunakan aplikasi SobatTB,” katanya.
“Lalu melakukan ronsen, dari ronsen itu nanti tim dokter melihat, ini dari gambaran ronsennya tadi itu gimana. Jadi di simpulkan sama dokter lalu pemeriksaan dahak dan diantar ke seluruh puskesmas yang memiliki alat pemeriksaan TCM (tes cepat molekuler),” imbuh Eva.
Masyarakat yang telah selesai melakukan skrining diberikan satu kotak sembako untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Eva mengimbau masyarakat untuk memahami bagaimana pentingnya menyadari dan mengobati penyakit TB tersebut.
“Kita berharap masyarakat semakin aware dan semakin tahu TBC itu apa dan tidak takut datang berobat jika gejalanya sudah diketahui, karena kan tadi sudah ada sosialisasi juga. Jadi kita berharap mereka tidak takut datang ke layanan, dan pengobatan TBC itu gratis, pemeriksaannya juga gratis di Puskesmas,” pungkasnya. [KM-06]














