MEDAN, KabarMedan.com | Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada triwulan IV 2016 tumbuh stabil, akibat kuatnya permintaan domestik khususnya konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan yang terus membaik. Namun, terbatasnya dukungan dari konsumsi Pemerintah menyebabkan perbaikan tersebut masih belum optimal. Sementara sisi eksternal tumbuh terbatas.
“Perekonomian Sumatera Utara triwulan IV 2016 tumbuh stabil sebesar 5,25% (yoy), dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 5,28% (yoy). Capaian ini sesuai dengan perkiraan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, yaitu 5,2%-5,6% (yoy). Dengan perkembangan ini, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada tahun 2016 tercatat sebesar 5,18% (yoy), atau meningkat dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 5,10% (yoy),” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Arief Budi Santoso, Senin (6/2/2017).
Menurut Arief, pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan IV 2016 terutama didorong oleh permintaan domestik yang cukup kuat khususnya di sektor swasta. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di triwulan terakhir 2016 mencapai 5,56%, meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,35%. Adanya perayaan hari besar keagamaan nasional, liburan akhir tahun, dan peningkatan daya beli masyarakat yang didorong oleh perbaikan harga komoditas global mampu memperkuat permintaan domestik pada triwulan IV 2016.
“Selain konsumsi, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara di triwulan IV 2016 ditopang oleh investasi yang tumbuh sebesar 4,11% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,36% (yoy). Pertumbuhan investasi tersebut ditopang oleh membaiknya harga komoditas yang mendorong investor melakukan investasi,” papar Arief.
Di sisi eksternal, lanjut dia, ekspor Sumut tumbuh sebesar 3,82% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya sebesar 9,31% (yoy). Perlambatan tersebut diduga disebabkan oleh pembatasan ekspor komoditas karet akibat implementasi Agreed Export Tonnage Scheme (AETS), atau perjanjian yang dilakukan oleh tiga negara eksportir karet utama dunia yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand; untuk memperbaiki harga karet yang terus menurun yang baru berlaku di tahun ini.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori informasi dan komunikasi (9,65% yoy), dan kategori pengadaan air (9,05% yoy). Sementara itu, kinerja sektor utama di triwulan IV 2016 juga masih cukup baik, yaitu kategori pertanian 2,56% (yoy) dan kategori industri pengolahan 4,85% (yoy).
Sementara itu, kinerja kategori pertanian menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 9,31% (yoy), terutama disebabkan oleh faktor musiman dan kendala hama dan virus di beberapa sentra produksi pertanian. Pertumbuhan industri pengolahan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 1,36% (yoy), terutama ditopang oleh perbaikan harga CPO di saat periode puncak panen raya.
Pada tahun 2017, trend positif perbaikan ekonomi Sumatera Utara diperkirakan akan terus berlanjut. Permintaan domestik diperkirakan masih menjadi pendorong utama, khususnya investasi sejalan dengan peningkatan kinerja realisasi belanja infrastruktur Pemerintah. Konsumsi rumah tangga akan tetap kuat dan membaik sejalan dengan terjaganya daya beli masyarakat.
“Optimisme perbaikan ekonomi di triwulan I 2017 tercermin dari hasil Indeks Tendensi Konsumen (ITK) BPS sebesar 101,09. Selain itu, upaya Pemerintah dalam memberikan stimulus pada perekonomian dan kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi diharapkan dapat memberikan ruang bagi momentum pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,” pungkas Arief. [KM-01]














