Oleh: Dedy Hutajulu
Profesionalisme pengurus, keterlibatan anggota dan pemanfaatan teknologi informasi menjadi kunci keberhasilan koperasi di abad 21
TIGA kunci itulah yang ‘dipegang’ oleh Koperasi Syariah Nuri Jawa Timur (KSN Jatim), sehingga dalam sewindu asetnya mencapai ratusan miliar dan anggotanya membengkak hingga puluhan ribu orang. “Teknologi informasi sangat membantu pengembangan koperasi kami,” terang Abdul Wafi Jamal, pengurus KSN Jatim ketika diwawancarai sepekan lalu, Kamis (27/9).
Wafi menyebutkan, sebagai koperasi yang berbasis pesantren, KSN Jatim bekerja secara profesional. Koperasi ini mengedepankan kejujuran, transparansi dan akuntabilitas serta semangat berbagi hasil secara adil dan merata. Koperasi ini tumbuh besar dan kuat karena memegang prinsip-prinsip islami yang selalu dijalankan anggota dan pengurus, yakni syariah, jujur, transparan, inovatif dan semangat membantu kesejahteraan anggota.
Dibangun dengan modal Rp 45 juta, setahun kemudian, KSN Jatim sukses mendulang aset senilai Rp 450 juta. Aset itu terus bertambah seiring tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Tak sampai satu dekade, koperasi ini telah memiliki aset sebanyak Rp 200 miliar dan menghimpun 25 ribu anggota. Bahkan, dua tahun pasca berdiri, KSN Jatim sudah membuka cabang di Pamekasan. Modalnya cuma Rp 2 juta tapi setahun kemudian asetnya berkembang menjadi Rp 5,5 miliar. Kepercayaan masyarakat begitu tinggi. “Padahal, dulu kami mengawalinya hanya dengan keyakinan. Sekarang pun kami terus memiliki keyakinan itu,” ujar Wafi menceritakan awal pendirian koperasi syariah yang hingga saat ini eksis dan berkembang pesat di Jawa Timur.
Pertemuan alumni “Peradaban” di 2009 menjadi cikal-bakal berdirinya KSN Jatim. Peradaban adalah akronim dari Persatuan Alumni Darul Ulum Batunyanyar. Achmad Muchlisin menjadi dalang pembentukan koperasi berbasis syariah Nuri ini. Dialah yang membidani lahirnya gagasan koperasi di kalangan pesantren Batunyanyar. Tak hanya mencetuskan ide pendirian koperasi berbasis syariah. Muchlisin juga bertanggung jawab mewujudkan gagasannya itu.
Di hadapan seribuan alumnus yang hadir pada pertemuan, malam itu, Muchlisin meyakinkan semua peserta bahwa saatnya ekonomi gotong-royong dibangun. Ide itu pun seperti gayung bersambut. Peserta yang hadir urun dana sehingga terkumpullah dana Rp 45 juta. Dana urunan itulah yang dijadikan modal awal untuk memulai usaha koperasi. Tahun-tahun berikutnya anggota dan aset bertambah secara pesat.
Geliat Koperasi
Perkoperasian KSN Jatim semakin menggeliat sejak Muchlisin bertemu dengan Rahmadi, seorang programmer. Pertemuan itu berlangsung awal tahun 2012. Rahmadi ‘mengompori’ Muchlisin untuk menggeser arah koperasinya ke arah digital. Saat itu, Rahmadi langsung memperkenalkan software aplikasi koperasi bikinannya.
Sebagai lelaki yang visioner dan cepat menangkap langgam zaman, Muchlisin pun menerima tawaran dari Rahmadi. Ia membawa usulan itu ke dalam rapat raksasa dewan pengurus. Ternyata, selama dua tahun berjalan, dewan pengurus sudah sering mendengar uneg-uneg bahwa pelayanan koperasi KSN Jatim masih terkesan lamban. Dengan alasan itu makin kentaralah keputusan dewan pengurus untuk mendigitalisasi KSN Jatim.
Di 2012, KSN Jatim mengalami masa transisi dari model manual ke digital. Pertemuan dengan Rahmadi, menjadi awal transisi ke koperasi digital. Semua data dimutakhirkan. Anggota antusias menerima perubahan itu. Pelayanan menjadi optimal dan buka cabang lebih cepat.
Wafi menceritakan, sistem KSN dua tahun pertama menggunakan cara-cara konvensional, yakni memasukkan data ke komputer masih memakai Microsoft Excel. Data di lapangan ditulis tangan di buku besar. Sehingga pola pelayanan memakan banyak waktu. “Setelah berjalan dua tahun, kami evaluasi. Kami gelar rapat. Rupanya, banyak anggota menuturkan, pelayanan masih terlampau lambat. Sehingga ada usulan untuk beralih ke digital,” jelasnya.
Apalagi, saat itu, pengurus juga merasakan pelayanan banyak makan waktu karena harus turun ke pasar-pasar mengutip uang simpanan, mencatat di buku besar secara manual, kemudian membawa catatan itu ke kantor lalu mengentri data ke komputer. “Sungguh tak efisien. Buang-buang waktu. Tetapi setelah kami masuk ke digital, semua termudahkan,” ujar Wafi.
Setelah memulai menerapkan sistem digital, hasil yang dirasakan KSN Jatim sungguh di luar dugaan. Jumlah anggotanya meningkat tajam dan aset terus bertambah banyak, seiring pola layanan yang kian cepat, mudah dan transparan. “Sekarang hampir 90 persen anggota dan karyawan kami adalah generasi millenial. Hanya angkatan saya yang umur 30-an ke atas, selebihnya berumur 20 sampai 30 tahun,” terang Wafi.
Keamanan Data Terjamin
Wafi mengaku, digitalisasi memudahkan mereka untuk membuka kantor cabang. Tak hanya membuka, tetapi juga mengelola cabang. Jika dulu melaporkan data satu orang anggota membutuhkan waktu 5 sampai 10 menit. Sekarang hanya 20 detik. Untuk data simpanan tidak lebih dari 50 detik. Sehingga kantor sudah tutup paling lama pukul 15.00 WIB dan laporan beres. “Penggunaan software untuk koperasi sangat membantu kami,” sebut Wafi.
Dengan dukungan IT, laporan keuangan KSN Jatim menjadi lebih akuntabel dan akurat bahkan bisa real time layaknya media daring. Setelah merasakan penggunaan IT, KSN Jatim semakin tertantang untuk terus berkembang. Koperasi ini bahkan menargetkan di 2019, sistem pelayanan akan secanggih layanan Gojek. Serba canggih, efektif, efisien dengan pengelolaan data terjamin. “Kuncinya, kami nggak banyak janji. Yang kami tawarkan, keamanan layanan dan data serta anggota merasakan pembagian sisa hasil usaha secara merata,” imbuh Wafi.
Sebagai koperasi yang sukses berkembang, KSN Jatim kemudian menggelar berbagai kegiatan positif kepada masyarakat. Kegiatan bakti sosial berupa jalan-jalan santai, khitanan massal dan bedah rumah. Tujuannya, agar kehadiran KSN Jatim semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Wafi menganjurkan, jika hendak membesarkan koperasi, para pengurus harus jujur dan bekerja secara transparan. Jangan pernah berlaku curang, sebab sekali lancung dalam ujian selamanya tak dipercaya orang. Kejujuran dan transparansi, menurutnya, serupa lembaran-lembaran daftar riwayat hidup (CV). Dua hal itu adalah alat yang efektif untuk meyakinkan publik bahwa koperasi dikelola secara profesional dan mengedepankan kejujuran.
Sehingga sekalipun KSN Jatim berkompetisi dengan sejumlah bank komersial dan koperasi lainnya. Tetapi persaingan itu seperti tak terasa. “Sekarang ini, tanpa bermaksud bersombong diri, koperasi kami telah mengungguli semua bank-bank komersial di Jawa Timur,” imbuh Wafi bangga.
Wafi menerangkan, pembagian keuntungan secara merata dan terjaminnya layanan kepada anggota telah mendulang kepercayaan masyarakat terhadap KSN Jatim. Apalagi karena basis anggota koperasi ini alumni dari pesantren pondokan, yang berarti segmentasi anggotanya sangat spesifik. “Kami juga memberikan bantuan duit sebesar dua juta rupiah bagi anggota yang mau buka usaha. Itu bantuan cuma-cuma. Jadi banyak yang terbantu,” timpal lelaki lulusan sarjana ekonomi itu.
Keberadaan KSN Jatim terbukti telah sukses membantu ekonomi keluarga anggotanya, khususnya ekonomi menengah ke bawah, sehingga aktivitas koperasi terus menggeliat. Pola manajemen serupa kemudian mereka replikasi dalam membuka cabang. Saat ini sudah ada 20 cabang KSN yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Pertumbuhan cabang ini menandai besarnya kepercayaan dari anggota. Kepercayaan itu diperoleh seiring dengan mutu layanan. “Ketika anggota terlayani dengan baik, marwah koperasi pun membesar,” sambung Wafi.
Digitalisasi
Kini, KSN Jatim telah memiliki aplikasi digital bernama KSN Jatim mobile. Aplikasi ini bisa diunduh di playstore untuk dipasang di android. Memakai aplikasi ini, memudahkan anggota untuk beberapa layanan sepasti cek saldo, transfer antar sesama, pembelian pulsa/token, pembayaran tagihan BPJS, pembayaran PLN, pembayaran Telkom, dan lainnya.
Diakui atau tidak, KSN Jatim telah banyak membantu menekan angka pengangguran. Orang-orang muda bisa terus melanjutkan sekolahnya sembari belajar ekonomi kegotong-royongan melalui KSN Jatim. Bahkan, orang-orang yang lemah secara keuangan mendapatkan kesempatan untuk memulai bisnisnya dengan suntikan dana Rp 2 juta yang diberikan KSN Jatim secara cuma-cuma.
KSN Jatim juga menyadari betul, di abad 21 ini, kolaborasi menjadi satu dari tiga kunci sukses. Karena itu, sejalan dengan tingginya kepercayaan masyarakat, KSN Jatim berusaha menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dan perusahaan. Simbiosis mutualisme menjadi kerangka kerjasama dengan berbagai pihak. Salah satu perusahaan yang aktif bekerja sama dengan KSN Jatim adalah perusahaan air minum dalam kemasan. Kerja sama ini memberi banyak keuntungan bagi kedua belah pihak.
KSN Jatim memiliki satu unit usaha yaitu BMT, yang bergerak dalam bidang keuangan syariah. Jenis produknya ada dua yakni tabungan dan pinjaman. Tabungan terdiri dari tabungan syariah, tabungan berjangka, tabungan hari raya, tabungan ibadah qurban, tabungan pendidikan dan tabungan haji. Sedangkan pinjaman ada enam jenis produknya yakni Mudharabah, Murobahah, Musyarakah, Qordul Hasan, Rohn/Gadai dan Hiwalah.
Kontribusi
KSN Jatim menunjukkan besarnya aset yang dikelola. Jumlah aset itu tentu berdampak pada kesejahteraan anggota yang ujung-ujungnya juga berkontribusi terhadap negara. Data Kementerian Koperasi menyebut, angka Produk Domestik Bruto (PDB) koperasi Indonesia terhadap negara mencapai 1,7 persen. Meski persentase itu terbilang kecil mengingat Indonesia memiliki jumlah koperasi terbesar di dunia yaitu 209.000 unit.
Kita akui, geliat koperasi kita kalah unggul dari Denmark yang menyumbang 6,7 persen dari PDB-nya. Tetapi jika koperasi kita dikelola dengan modern berbasis digital, kata Wafi, bukan tidak mungkin sumbangsih koperasi kita terhadap negara meningkat mengalahkan negara-negara maju lainnya. “Saatnya koperasi dikelola dengan professional melalui dukungan software aplikasi yang membuat pengelolaannya lebih mudah, rapi dan cepat,” ajak Wafi.
Digitalisasi koperasi, menurut Rahmadi, programmer, semakin urgen karena menunjang perkembangan dan percepatan akses bagi masyarakat dalam membangun koperasi. Bagi masyarakat kecil dan menengah sendiri, digitalisasi koperasi akan memudahkan mereka mengembangkan usahanya.
Rahmadi meyakini, digitalisasi efektif membantu koperasi Indonesia dalam merespon tantangan era industri 4.0. Dengan digitalisasi, laporan keuangan dan sistem informasi manajemen koperasi menjadi mudah, murah dan handal. Ini sejalan dengan motto koperasi era millenial: Tiada koperasi tanpa teknologi informasi dan tiada koperasi tanpa bertransaksi dengan anggota. “Sistem online akan mampu menjangkau lebih banyak kalangan,” terang pembuat software khusus koperasi itu.
Peluang Tingkatkan Aset
Sebagai gambaran, kata Rahmadi memberi contoh, sejak ia mendesain software aplikasi koperasi bernama auliasoft, sudah ratusan koperasi memakai aplikasi tersebut. Para pemakainya tersebar di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua.
“Penggunanya bervariasi. Kalau dilihat dari aset dan jumlah anggota koperasinya. Aset pengguna mulai 50 juta dengan 10 anggota hingga aset ratusan miliar dengan puluhan ribu anggota,” ujar Rahmadi.
Dengan menerapkan digitalisasi, koperasi menjadi kompetitif di antara pengusaha keuangan. Seperti leasing, finance, bank dan lainnya. Sehingga koperasi berbasis digital bisa berkembang dari waktu ke waktu dan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Hal ini berpeluang besar untuk meningkatkan aset.
Di lain sisi, sehubungan dengan layanan koperasi online, anggota pun merasakan sejumlah manfaat. Mulai dari kemudahan mengakses fitur layanan aplikasi keuangan dan layanan teknologi informasi keuangan serta efisiensi waktu. Anggota mendapat informasi transparansi dan akuntabilitas keuangan serta mendapatkan layanan langsung seperti layanan mobile transaksi android, layanan pembayaran online atau ppob, layanan pembayaran non tunai berbasis mesin edc, layanan pembayaran QRCode, layanan transaksi ATM dan layanan transfer perbankan. “Semua jadi lebih mudah dan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja,” sambungnya.
Kembalikan Citra Koperasi
Menurut Rahmadi pengembangan koperasi ke arah digital membantu mengembalikan citra koperasi Indonesia yang selama ini dianggap kurang elegan bagi kaum millenial yang menikmati era industri 4.0. “Ke depan, citra koperasi kita akan lebih baik,” katanya.
Sesuai perkembangan zamannya, Rahmadi mengaku pengembangan aplikasi keuangan koperasi dimulai sejak tahun 2003 dan terus berkembang hingga saat ini. Ide itu muncul melihat fenomena masyarakat yang menikmati layanan mobile era millenial. Kemudian mulailah dikembangkan software untuk koperasi online.
Ide digitalisasi koperasi ini dinilai brilian melihat besarnya potensi koperasi di Indonesia. Tak tanggung, saat ini ada sekitar 150 ribuan koperasi yang aktif di tanah air. Jumlah itu patut untuk diberdayakan secara maksimal. Melihat potensi itu, Rahmadi dan para programmer lain berkreasi untuk membangun aplikasi keuangan dan teknologi keuangan untuk koperasi.
Rahmadi mensyukuri kepercayaan koperasi menggunakan aplikasi software terus bertambah dari bulan ke bulan. Ini satu peluang besar di masa mendatang mengingat koperasi yang berjumlah ratusan ribu itu akan bertambah jumlahnya jika menggunakan layanan aplikasi digital yang modern. Ia yakin prospek koperasi akan semakin membaik. “Prospeknya besar dan sekarang semua sudah ada di tangan kita,” kata Rahmadi dengan yakin.
Model koperasi dengan layanan mobile transaksi android akan menggaet anak millenial semakin respek terhadap potensi usaha berkoperasi. “Kita butuh sosialisasi ke anak millenial bahwa koperasi saat ini sudah berbasis teknologi dan sudah sesuai era millenial. Dengan demikian, mereka akan tampil percaya diri menggunakan koperasi era millenial,” pungkas Rahmadi.
Tuntutan Zaman
Programmer Isa Hamdan menambahkan, koperasi online menjadi jawaban bagi anak muda millenial yang belakangan ini tidak respek dengan koperasi versi jadul. Ia percaya, koperasi yang mengedepankan prinsip bergotong royong dalam usaha tetap bisa eksis asal dikemas sesuai langgam zaman. Sebab, koperasi tetap menjadi salah satu cara pamungkas untuk membangun kemandirian perekonomian bangsa kita.
Ide membangun koperasi berbasis digital efektif untuk mengembalikan citra koperasi yang selama tujuh dekade dicap buruk. Ide soal pengembangan koperasi digital ini patut direplikasi dan disebarluaskan ke publik.
Baik Wafi, Rahmadi maupun Isa Hamdan, ketiganya memprediksi koperasi berbasis digital akan berkembang pesat tahun-tahun mendatang. Kemajuan IT menolong kaum millenial untuk mewujudkan keinginan mereka mengurus koperasi lebih akuntabel dan transparan.
Sementara itu, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan, pemerintah terus mendorong agar koperasi bisa meningkatkan peranannya dalam pertumbuhan ekonomi nasional sehingga kemudian terjadi pemerataan kesejahteraan yang berkeadilan bagi masyarakat. “Ini akan memperkokoh NKRI,” ujar Puspayoga di Jakarta.
Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta menambahkan, penumbuhan kesadaran anggota penting untuk membesarkan koperasi. Kebersamaan dan pengelolaan yang tepat diyakini akan memampukan koperasi bersaing dan kian berperan bagi perekonomian.














