DELISERDANG, KabarMedan.com | Akses dalam memperoleh sarapan sehat dan bergizi sangat penting bagi kesehatan, dan kapasitas kognitif siswa sekolah dasar.
Sayangnya, sarapan sehat setiap hari masih tergolong mewah bagi banyak anak Indonesia, khususnya yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Hal ini membuat gizi buruk menjadi penyebab masalah kesehatan anak-anak seperti stunting yang mencapai 30,7 persen Indonesia.
Sebagai bentuk komitmen peningkatan ProGAS, Cargill selaku perusahaan yang bergerak di bidang pangan menggelontorkan dana sebesar 500 ribu Dolar Amerika. Dana tersebut akan digunakan untuk mengentaskan gizi buruk yang ada dengan memberikan suplai makanan bergizi bagi siswa SD.
“Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meningkatkan cakupan Gizi Anak Sekolan (ProGAS) di 39 kabupaten pada tahun 2019. Kami mendukung sepenuhnya inisiatif Cargill bersama WFP untuk memperluas program ke daerah dan sekolah lain,” kata Gesit Mulyawan, Kepala Seksi Kelembagaan, Sarana dan Prasarana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di SD Negeri 104251 Deli Serdang, Selasa (12/3/2019).
Agung Baskoro Corporate Responsibility Manager Cargill Indonesia mengungkapkan, di Deliserdang mereka memilik dua SD yang dijadikan pilot project ProGAS tersebut. Dua SD itu adalah Sekolah SD Negeri 102451 Jalan Pantai Labu, Karang Anyar, Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, dan SD RK Percut Seituan.
“Kami sangat termotivasi dengan hasil dari implementasi ProGAS dan WFP pada periode sebelumnya. Kami percaya dalam jangka panjang, ProGAS dapat terus berkontribusi secara positif untuk meningkatkan gizi, kesehatan, dan kapasitas anak-anak Indonesia,” ujarnya.
Pada periode 2017, ProGAS meraih hasil positif yang ditunjukkan oleh siswa-siswa sekolah dasar. Dimana, konsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari meningkat dari 24.7 menjadi 47.7 persen. Sedangkan rutinitas sarapan meningkat dari 59.2 menjadi 61.5 persen. Lalu pengetahuan tentang gizi meningkat dari 50.6 menjadi 66.1 persen.
“Kesadaran untuk cuci tagan sebelum dan sesudah makan, serta setelah menggunakan toilet meningkat dari 88.1 menjadi 91.7 persen. Kemudian kebiasan minum air matang di sekolah meningkat dari 15.1 menjadi 35.4 persen. Hasil di atas juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengurangan frekuensi siswa sekolah karena penyakit seperti deman, flu, dan diare,” jelasnya.
Anthea Webb, World Food Programme Representative Indonesia mengatakan, selain menyediakan sarapan yang seimbang dan bergizi untuk anak-anak sekolah dasar, ProGAS juga menciptakan peluang bagi penduduk lokal untuk memperoeh pemasukan tambahan.
“WFP mengapresiasi dukungan Cargill terhadap misi kami memperluas cakupan ProGAS. Dengan kerja sama ini, kami membantu siswa menjadi lebih sehat, lebih pintar, dan lebih kuat,” akunya.
Petani lokal memiliki kesempatan untuk menjual hasil pertanian mereka ke ProGAS dengan harga yang lebih baik. Sementara itu, penduduk lokal dapat memperoleh penghasilan hingga Rp 2 juta setiap bulan dengan menjadi anggota tim memasak ProGAS.
Penduduk lokal dan orangtua siswa juga sekaligus mendapat tambahan pengetahuan terkait prinsip-prinsip penting tentang kesehatan, nutrisi, dan persiapan makanan secara higienis. [KM-03]














