MEDAN, KabarMedan.com | Dari 22 kecamatan di Deli Serdang, Pagar Merbau merupakan kecamatan sentra produksi kedelai yang mampu melakukan perbenihan secara mandiri dan tersertifikasi. Deli Serdang tidak lagi harus mendatangkan benih dari Jawa sebagaimana terjadi dua tahun yang lalu.
Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Deli Serdang, Ronggur Aditya mengatakan, pertanaman kedelai dilakukan satu kali dalam setahun yakni sebelum memasuki musim tanam padi pada bulan Januari – Februari. “Kenapa satu kali itu karena pola tanam padi di Deli Serdang itu kedelai – padi – padi,” katanya, Selasa (19/3/2019).
Di kabupaten ini pertanaman kedelai juga dilakukan di Kecamatan Beringin dan Lubuk Pakam. Di Pagar Merbau kedelai ditanam di lahan seluas 400 hektare. Kecamatan Beringin seluas 12 hektare dan Lubuk Pakam seluas 5 hektare. “Dari tiga kecamatan sebagian ada yang panen ada yang belum. Kemarin ada 140 ton, dan di bulan Maret ini diperkirakan akan ada 100 ton,” katanya.
Ronggur mengatakan, petani di tiga kecamatan tersebut sudah mampu melakukan perbenihan dan labelnya tersertifikasi. “Dua tahun lalu kita masih ambil benih dari Jawa, sekarang sudah bisa mandiri untuk memenuhi kebutuhan benih di Deli Serdang,” katanya.
Tahun ini ada program pengembangan kedelai seluas 10.000 hektare dengan dukungan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Di sisi lain, petani harus disemangati dengan jaminan harga yang menguntungkan.
Kepala Seksi Aneka Kacang dan Ubi, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut Unedo Koko Nababan, mengatakan luasan program ini lebih besar dari tahun lalu, seluas 8.000 hektare.
Pihaknya sudah menyurati kabupaten/kota agar mempersiapkan Calon Petani Calon Lahan (CPCL) pada bulan Oktober 2018. Namun hingga kini, baru beberapa kabupaten kota yang menyerahkannya, misalnya Asahan, Deliserdang, Serdang Bedagai dan Langkat.
Pihaknya berharap kabupaten kota segera mengirimkan CPCL-nya. Pasalnya, dari CPCL yang sudah masuk jika dihitung masih hitungan 2.000-an hektare. “Padahal suratnya sudah bulan Oktober kemarin kita kirimkan ke kabupaten kota tapi baru sedikit yang mengirimkan,” katanya.
Dia menambahkan, tahun lalu petani bersemangat menanam kedelai karena ada surat dari Bulog yang mengatakan akan membeli kedelai petani dengan harga Rp 8.500 per kg. Surat tersebut keluar di bulan Juni. Namun ternyata hal tersebut tidak terjadi. Petani kecewa karena hasil panennya tak jadi dibeli Bulog. Petani kesulitan menjualnya.
Bahkan di Langkat, penangkar kedelai yang terpaksa membeli hasil panen petani. Namun belum menjawab masalah karena penangkar waktu itu tidak tahu harus menjual kemana. Akhirnya kedelai tersebut masuk ke pasar dengan harga yang rendah.
“Sekarang di Langkat harga kedelai cuma Rp 3.600 per kg. Rendah sekali,” kata Nababan. [KM-05]














