Sisi Ekonomis Menanam Mangga di Pekarangan

MEDAN, KabarMedan.com | Lahan adalah investasi. Semakin luas, maka semakin besar pula investasinya. Namun efisiensi lahan juga investasi. Artinya, lahan kecil pun jika diolah dengan efisien akan memberikan hasil yang maksimal. Pekarangan rumah yang tidak luas pun bisa memiliki nilai ekonomis.

Bagaimana caranya? Mak Pak Kim, adalah seorang inovator. Dia tidak pernah merasa lahan kecil dan terbatas sebagai halangan untuk bertanam secara efisien dan menghasilkan nilai ekonomis. Lebih dari itu, dari lahan yang kecil dia bisa menyenangkan banyak orang dari efisiensi lahan yang terbatas yakni dari lahan di lantai lima rumah tokonya di Jalan Masjid, Medan.

Dia selalu ingin berinovasi dengan berbagai tanaman. Dia selalu berusaha memecahkan pertanyaan dengan tanaman yang ditanamnya. Dia pun menemukan jawaban sendiri tentang darimana asal usul bibit bawang merah yang ramai diperbincangkan. Bahwa biji bawang merah yang disebut-sebut diproduksi di luar negeri, ternyata bisa didapatkan petani setiap saat dari bunganya yang sudah mengering.

Dulu dia pernah bertanam bawang merah di dalam pot dengan hasil yang memuaskan. Dia pun pernah bertanam kacang tanah di tempat yang sama. Di lantai lima. Tentu saja tanpa atap dan terpapar langsung oleh matahari dan tak terhindar dari hujan.

Raungan kendaraan yang lalu lalang di bawahnya ataupun dari jejerang bengkel sepeda motor bisa didengarkan dari lantai atas. Namun, pemandangan hijau tanamah buah di antara gedung-gedung tinggi adalah sebuah kekontrasan.

Sebagaimana biasanya, dia selalu dengan senang hati memberikan pemahaman tentang  bertanam. Menurutnya, bawang merah sudah memberikan sesuatu yang berharga. Demikian pula dengan kacang tanah. dia menunjukkann lahan sempit yang dimilikinya di lantai lima rukonya bukan sebuah halangan untuk menyalurkan hobinya.

Setiap pagi dan sore dia selalu naik ke lantai lima untuk merawat tanamannya. Mendaki puluhan anak tangga adalah salah satu rutinitas yang membuatnya tetap bugar. Di lantai lima, terdapat empat pot mangga tongdam dan mangga apel. Hampir di tiap  batangnya sudah dicangkoknya dengan teknik cangkok susu.

Dikatakannya, bertanam mangga tidak lah sulit. Apalagi pada dasarnya mangga bukanlah pohon yang ‘rewel’ dan memerlukan perlakuan khusus untuk membuatnya berproduksi secara maksimal. Daripada bertanam di tanah, dia memilih bertanam di dalam pot. Alasannya, mudah untuk dipindah-pindahkan.

Dia pun lebih menyukai tanaman yang tidak begitu tinggi. Dia kerap memangkas batangnya ketika tampak semakin tinggi. Dia ingin ‘memastikan’ bahwa pohon mangga tidak akan lebih dari satu meter sehingga mudah dirawatnya. “Yang penting buahnya,” katanya sembari memetik daun-daun tua dan yang mengering, Selasa (26/3/2019).

Jika orang memiliki lahan pekarangan, menurutnya mangga bisa menjadi pilihan untuk ditanam. Mangga apel dan mangga tongdam yang ditanamnya, kini sudah berusia 3 tahunan. Kedua mangga tersebut sudah berbuah pada usia delapan bulan.

Pada usia tiga tahun, batangnya sudah semakin kuat. Pada masing-masing pohonnya, bisa banyak yaang bisa dicangkok. Dengan demikian, nilai ekonomisnya tidak hanya terletak pada buahnya semata. Dari batang, jika dicangkok dengan baik bisa menghasilkan uang.

“Tak jadi soal berapa luas lahan, di pekarangan kecilpun bisa. Contohnya saya, di lantai lima ruko ini, di atas, itu bisa saya lakukan,” katanya menyemangati.

Dari satu  pohon, kata dia, pada saat panen bisa menghasilkan sedikitnya 50 buah. Harganya, untuk saat ini, mangga apel atau tongdam bisa dijual Rp 30.000/kg. Apalagi jika matang di pohon. Menurutnya, mangga yang matang di pohon bisa dihargani dengan lebih mahal. “Jual lah sekalian sama pohonnya, pasti mahal sekali tu nanti,” ungkapnya.

Ditemui di rumahnya di Jalan Masjid, dengan antusias dia menceritakan yang dikerjakannya di lantai lima dengan tanaman mangganya yang berumur 3 tahunan. Dia menanam mangga tongdam dan mangga apel.

Mendengar nama kedua mangga tersebut sudah terbayang rasa manis dan lezatnya. Di lantai lima, tentu saja kedua tanamannya tidak berukuran besar. Tingginya pun tak lebih dari satu meter. Dia sengaja membuatnya pendek. Yang paling penting adalah, hasil panen dan rasa yang memuaskan.

Umumnya orang mencangkok tanaman untuk memperbanyak. Teknik yang dilakukan oleh seorang penangkar durian, misalnya dengan mencangkok di bagian batang dengan dua atau lebih batang lainnya sebagai kaki.

Teknik tersebut biasanya untuk memperkuat batang bawah pada pohon induknya. Prinsip yang sama dilakukannya dalam cangkok susu. Dia menggunakan bibit mangga yang masih muda untuk digabungkan dengan batang pohon yang hendak dicangkok.

Pada batang pohon tersebut dikupas kulitnya secara berkeliling. Bibit mangga tersebut dibiarkan tetap memiliki akarnya. Dia menggunakan dua bibit mangga untuk membuat satu cangkok susu. Bibit mangga bisa diambil dari jenis mangga apapun.

Untuk menggabungkannyapun dia tidak menggunakan tanah melainkan kelapa parut yang sudah dikeringkan karena lebih efektif dalam penyerapan air dan memudahkan akar baru tumbuh dengan baik.

Dibutuhkan beberapa minggu untuk menunggunya. Jika sudah memiliki akar dan dirasa kuat, maka batangnya bisa dipotong untuk dipindahkan ke pot atau tanah. Dirinya lebih memilih pot dibandingkan ke tanah karena lebih mudah dipindah-pindahkan.

Karena pohon asalnya sudah berusia produktif, maka pohon hasil cangkok susu tersebut juga bisa berbuah pada waktunya. “Ini pohon asalnya sudah sering berbuah. Keluarga dan tetangga-tetangga sudah merasakan buah ini. Nanti yang dari cangkok susu juga begitu, tak sampai satu meter sudah berbuah,” katanya.

Menurutnya, jika berhasil, pohon hasil cangkok susu tersebut sudah bisa dijual dengan harga tertentu. Apalagi jika dijual ketika sedang berbuah. Bibit atau pohon, akan lebih mudah dan mahal dijual ketika sedang berbuah.

“Yakin lah, kalau pohon pendek tapi berbuah, orang pasti lebih senang membelinya, dengan harga tinggi pun tak masalah, orang sudah berbuah, dilihatnya langsung,” katanya.

Pada pohon mangga apel miliknya, sudah berbuah dengan rasa yang sangat memuaskan. Ukurannya, bisa mencapai 1,3 kg/buahnya. Walaupun demikian, dia lebih menyukai ketika buah tersebut berukuran 500 – 600 gram saja. Musababnya, rasa buah lebih merata. Berbeda jika sudah berukuran besar, daging pada bagian dalam sudah lebih dulu ‘jemek’.

“Mangga apel punya kita ini rasanya lain. Ini buahnya mangga, tapi rasanya kuini. Kok bisa, ya begitu lah dia. Mangga, rasa kuini,” katanya mengulangi sambil tertawa.

Apalagi dengan buah mangga tongdam. Mangga ini termasuk mangga dengan rasa yang terkenal manis. Memiliki daging dengan tekstur lembut dan biji yang kecil. Dengan profil demikian, buah ini tidak kalah dengan mangga-mangga dengan profil mentereng lainnya seperti mangga arum manis, mangga manalagi, dan lain sebagainya.

Dikatakannya, kedua mangga tersebut dicangkok dengan berbagai jenis mangga lainnya. Setiap kali memakan mangga, dia selalu memperlakukan bijinya dengan serius tapi santai. Rajin memakan buah mangga, menurutnya lebih baik. Khususnya untuk mendapatkan calon bibit yang akan dicangkokkan.

Bukan perkara sulit untuk membuat biji mangga bertunas. Pada dasarnya biji mangga mudah untuk bertunas dan tumbuh menjadi pohon. Namun dia punya cara sendiri untuk membuatnya lebih cepat bertunas. Setiap kali memakan mangga, bijinya dibersihkan dan dikupas bagian pinggirnya kemudian dikupasnya pada satu sisi. Setelah itu dibungkusnya dengan tisu.

Dalam waktu seminggu, biji mangga sudah menunjukkan  tunasnya. Cara tersebut merupakan rekayasa untuk mempercepat tumbuhnya tunas. Jika tunasnya semakin besar, biji tersebut bisa dipindahkan ke pot agar tumbuh lebih maksimal.

“Kalau mau dapat bibit banyak ya, rajin makan mangga. Perlakukan dengan rekayasa tadi biar cepat tumbuh. Yang membikin lama itu kan karena dia harus menjebol kulit bijinya itu, rekayasa itu untuk memudahkannya keluar dan hasilnya tetap tumbuh dengan baik,” katanya. [KM-05]