MEDAN, KabarMedan.com| Jangan menganggap remeh sesuatu yang kecil, karena di balik itu sesuatu yang besar menjadi nyata. Hal tersebut lah yang menggambarkan bagaimana seorang nelayan hidup dari kupang, kerang kecil yang tidak diperhatikan banyak orang.
Kupang adalah kerang kecil yang hidupnya di lumpur di antara mangrove. Kupang tidak dikonsumsi oleh manusia, melainkan bebek.
Di Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Juliadi (38), pria yang akrab dipanggil Adi menghidupi keluarganya dari kupang.
Sejak 12 tahun lalu aktifitasnya setiap hari adalah mengayuh perahu kecilnya menyusuri hutan mangrove. Kadang dilakukannya sendirian, kadang anaknya juga yang duduk di bangku SMP ikut dengannya.
Dia mengajarkan bagaimana mencari dan mengambil kupang untuk dijual ke pengumpul di Pasar 2 Barat Marelan.
“Ini (kupang-red) kalau segoninya Rp 15 ribu. Sehari kita bisa ngumpulin sampai 10 goni,” katanya, Senin (11/11/2019).
Cara mencarinya, Juliadi mengorek lumpur di mangrove. Lumpur itu disiramnya dengan air untuk memisahkan lumpur dari kupang. Saat pengambilan, dia harus masuk ke dalam air. Dalam satu jam, tumpukan kupang menggunung di papan berukuran sekitar 60×100 cm itu. Sesampainya di pinggir danau dia masukkan ke dalam karung.
“Setiap karungnya ini berapa ya, tak pernah ditimbang. Kalau perkiranya, 18 kg lah,” ujarnya.
Tidak sulit untuk mencari kupang. Nyaris tidak ada musim, kapanpun kupang itu selalu tersedia. Apalagi, saat ini hanya dirinya yang masih mencari kupang setelah tiga orang rekannya ‘undur diri’.
“Paling tantangannya kalau banjir, susah dapatnya,” ujar bapak dari tiga anak ini.
Ia mengatakan, kupang ini diperuntukkan sebagai pakan bebek, bukan untuk dikonsumsi manusia. Informasi yang diketahuinya, kupang ini sangat baik untuk membuat cangkang telur bebek tidak mudah pecah.
“Jadi kalau punya ternak bebek, bagus ini dikasihkan. Tak perlu diapa-apain, kasihkan langsung ke bebek, dimakannya ni. Selain untuk kuning telurnya, ini bisa membuat cangkang bebek kuat, tidak mudah pecah,” ungkapnya.
Juliadi mengaku bahwa dari kerang kecil ini lah ia bisa menghidupi keluarganya.
“Memang kecil, tapi dari sini lah keluarga saya hidup. Anak-anak bisa sekolah. Harapannya yang terbaik untuk ke depannya, untuk masa depan anak,” ujarnya.
Selasa siang tadi, Adi kembali membawa kupang dalam jumlah yang hampir sama. Namun dia tidak langsung mengarungkannya karena ada kegiatan lain.
Selain itu, aktifitas di lokasi dia menambatkan perahunya, masih ramai dengan lalu lalang boat milik BPBD yang menarik dan mendorong bangkai babi untuk dikuburkan di sekitar Sungai Bedera dan danau Siombak.
Heri, warga lainnya mengatakan, kupang memang menjadi salah satu penghidupan di Danau Siombak namun kini hanya sedikit saja yang masih mau melakukannya, salah satunya Adi.
“Mungkin karena ada kerjaan yang lain makanya ditinggalkan. Tapi kan, wallaupun kecil itu bermakna untuk masyarakat sekitar sini,” pungkasnya. [KM-05]














