Mahfud MD Sebut Tren Radikalisme Sasar Generasi Milenial

MEDAN, KabarMedan.com  | Menteri Koordinator Politik, Hukum dan HAM Mahfud MD menilai, tren persebaran radikalisme saat ini bergeser dengan menyasar generasi milenial, khususnya perempuan.

Ia mencontohkan beberapa kejadian terorisme yang melibatkan perempuan, seperti ledakan bom di Sibolga, bom bunuh diri Polrestabes Medan dan penusukan Wiranto.

“Dulu tindakan teror dilakukan oleh orang yang sudah tua, laki-laki dewasa biasanya. Tetapi sekarang perempuan ikut. Anak-anak juga terlibat,” kata Mahfud MD dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H dan Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut, Selasa (26/11).

Ia menjelaskan, radikalisme yang berkembang saat ini dapat dibagi dalam 3 wujud. Cara penindaknnya pun tidak sama satu dengan yang lain.

Baca Juga:  Gubernur Bobby Nasution Minta Realisasi Program Prioritas Daerah Dipercepat

Tiga wujud radikalisme tersebut, pertama ujaran kebencian yang selalu menganggap orang lain yang berbeda harus dilawan dan disalahkan. Kedua jihad teroris yang biasanya berisi aksi-aksi bunuh diri atau lainnya.

“Ketiga adalah wacana. Mungkin yang Anda maksud adalah untuk banyak anak milenial, karena ada kebijakan sendiri-sendiri. Untuk menindak ujaran kebencian sudah ada hukumnya,” katanya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H dan Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut, Selasa (26/11).

Ia menjelaskan, penanganan para millenial yang terpapar jihad teroris dan wacana, dilakukan melalui pendidikan, sosialisasi, pertemuan, diskusi dan melalui kurikulum di semua lembaga pendidikan.

Untuk mengatasi bibit-bibit radikalisme itu, perlu diterbitkan Surat Keputusan Bersama ( SKB) 11 menteri tentang penanganan radikalisme pada Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal ini dilakukan agar semua lini yang bisa menimbulkan radikalisme bisa diatasi.

Baca Juga:  Raih WTP ke-12 Berturut-turut, Bobby Nasution Minta Aparatur Tetap Jaga Integritas

“SKB ini tidak bisa dikatakan kembali seperti masa Orde Baru, melainkan upaya melakukan pengawasan. Artinya semuanya bisa terkontrol sekarang. Tidak bisa dong sekarang kembali ke zaman otoriterisme seperti itu,” jelasnya.

Mahfud menegaskan, selama ini narapidana teroris (napiter) sudah dilibatkan dalam upaya deradikalisasi. Misalnya Ali Imron. Ia selalu disuruh berpidato bahwa radikalisme berbahaya.

“Lalu ada Alif Fauzi juga dilibatkan oleh polisi berceramah sendiri bahwa terorisme itu berbahaya dan tidak menguntungkan siapapun jadi napiter ini dibina,” pungkasnya. [KM-05]