MEDAN, KabarMedan.com | Sebuah perjalanan dedikasi seperempat abad dalam menjaga paru-paru dunia dan menyelamatkan satwa endemik Sumatra mencapai tonggak sejarah baru. Yayasan Orangutan Sumatra Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) merayakan hari jadinya yang ke-25 sekaligus meluncurkan buku otobiografi sang pendiri, Panut Hadisiswoyo, yang bertajuk “Panut Hadisiswoyo: Berdiri di Garis Terakhir”.
Acara yang berlangsung hangat ini digelar di Kantor YOSL-OIC, Jalan Bunga Sedap Malam XVIII C No.10, Sempakata, Medan, pada Jumat sore (17/7/2026). Momentum ini dihadiri oleh jajaran keluarga, tokoh akademisi, perwakilan perbankan, instansi pemerintah, serta para aktivis lingkungan di Sumatera Utara.
Dalam pidatonya yang diselingi canda gurau, Panut Hadisiswoyo menegaskan capaian luar biasa OIC selama 25 tahun ini bukanlah kesuksesan pribadinya semata, melainkan buah dari kerja keras dan kesetiaan seluruh tim.
“Perjalanan 25 tahun ini bukan perjalanan saya, tapi adalah perjalanan kita semua, tim OIC (YOSL-OIC). Yang sudah berdedikasi tak henti-henti. Suka duka, gaji gak naik-naik tapi masih setia terus membersamai,” seloroh Panut disambut tawa dan tepuk tangan meriah dari para staf yang hadir.
Panut mengenang masa-masa awal berdirinya lembaga ini, di mana mayoritas anggotanya adalah mahasiswa yang bergerak murni atas dasar kepedulian lingkungan tanpa menuntut materi.
Seiring waktu, lembaga ini terus berkembang dan bahkan melahirkan lembaga-lembaga pendukung lainnya seperti GJI, PT. BAS, hingga LCP yang berfokus membantu pendanaan NGO lokal di Sumatra.
Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para mentor yang menginspirasinya, seperti Profesor Edy Ikhsan dan Soekirman (Ashoka Fellow), serta dukungan finansial jangka panjang dari BNI yang telah menemani perjalanan OIC membangun infrastruktur kantor barunya.
Mengawal Kelangsungan Orangutan Sumatra dan Tapanuli
Dikatakannya, OIC tetap konsisten berada di garda untuk menyelamatkan dua spesies penting orangutan di Sumatra, yaitu Orangutan Sumatra di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) serta Orangutan Tapanuli di lanskap Batang Toru.
Upaya penyelamatan ini dilakukan lewat kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Herianto, serta aliansi erat dengan organisasi non-pemerintah lainnya seperti Walhi, Bitra, WCS, dan lainnya yang hadir dalam acara tersebut.

“OIC terus konsisten mengusung penyelamatan orangutan. Bagian penting untuk mengawal kehidupan ini adalah mengamankan kawasan hutan terlebih dahulu, barulah kita bisa mengamankan yang lainnya, termasuk ekonomi masyarakat,” jelas alumni Sastra Inggris USU yang kini mendedikasikan hidupnya untuk kelestarian hutan ini.
Filosofi “Berdiri di Garis Terakhir”
Buku otobiografi “Berdiri di Garis Terakhir” digarap selama hampir tiga tahun oleh sahabat karib Panut sejak masa kuliah, Tikwan. Judul buku ini menyimpan filosofi mendalam mengenai peran organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam peta konservasi di Indonesia.
Panut menceritakan ide judul tersebut lahir dari diskusi mendalam dengan Tikwan mengenai di mana posisi para pejuang lingkungan seharusnya berdiri saat ini.
“Saya selalu bilang kalau saya di garis depan (front line). Tapi Tikwan bilang, kalau di depan itu ranahnya pemerintah. Kita para CSO mengawal di belakang. Artinya, kita harus berdiri di garis terakhir untuk menjaga pertahanan agar kawasan hutan, ekosistem, dan spesies ini jangan sampai jebol. Ketika pemerintah dengan segala upayanya masih mengalami kebocoran, kitalah yang berada di belakang untuk mendorong dan memperkuat mereka,” terang Panut.
Melalui momentum 25 tahun ini, Panut berharap perjuangan YOSL-OIC tidak berhenti di sini. Ia berkomitmen membawa yayasan ini terus bergerak dinamis mengawal masa depan lingkungan Sumatra hingga generasi-generasi berikutnya.
Rahasia di Balik Layar Peluncuran Otobiografi Pendiri OIC Panut Hadisiswoyo
Tikwan Raya Siregar, selaku penulis buku otobiografi tersebut, secara blak-blakan mengungkapkan tantangan besar yang dihadapinya. Di hadapan para tokoh lingkungan, akademisi, dan media, Tikwan mengaku sempat diselimuti kekhawatiran mendalam saat awal mula menyanggupi proyek penulisan ini.
Bukan tanpa alasan, Tikwan mengaku memiliki pengalaman “traumatik” dengan tokoh-tokoh yang hendak ditulisnya terdahulu.
“Sekitar lima tahun lalu, saya menulis biografi seorang konglomerat Tionghoa terkemuka di Kota Medan. Baru tiga perempat jalan, beliau meninggal dunia di Singapura. Setelah itu, saya diminta menulis biografi keluarga prominent lainnya, keluarga Pak Pinayungan Pasaribu. Pak Panusunan datang kepada saya dan mengatakan saya ingin kisah keluarga saya dituangkan dalam autobiografi. Saya menyanggupi. Baru sepertiga penulisan, beliau juga meninggal dunia dan proyek tidak berlanjut,” kenang Tikwan.
Ketakutan itu sempat muncul kembali ketika Panut Hadisiswoyo mendatanginya untuk menuliskan kisah hidupnya selama 25 tahun berkiprah di dunia konservasi. “Waktu duduk minum kopi, saya tatap dia agak lama. Saya membatin, kalau saya tulis biografi kawan ini, apakah dia akan ‘titik-titik’ juga (meninggal)? Hampir-hampir saya ragu. Tapi alhamdulillah, Bang Panut terbukti berkali-kali lolos dari masa kritis sejak masa kecilnya, dan hari ini kita bisa meluncurkan buku ini dalam keadaan sehat walafiat,” kelakar Tikwan.
Tiga Syarat Mutlak dan Tantangan Menembus Batas Negara
Selain faktor psikologis penulis, Tikwan membeberkan tiga tantangan utama dalam merampungkan buku ini, yaitu masalah penulis, sang tokoh, dan lingkungan sekitar tokoh. Sejak awal, Tikwan mengajukan syarat ketat kepada Panut agar buku ini tidak sekadar menjadi media pemujaan.
“Saya tegaskan, ini bukan buku untuk memuji-muji atau membaik-baikan beliau. Saya tidak tertarik menulis biografi seperti itu. Saya minta Bang Panut memberikan waktu dan harus berterus terang tanpa ada yang ditutupi agar perspektifnya kuat,” jelasnya.
Namun, mengikat komitmen waktu dengan seorang aktivis lingkungan internasional ternyata bukan perkara mudah. Proses wawancara kerap tertunda karena mobilitas Panut yang sangat tinggi ke berbagai penjuru dunia.
“Setiap kali saya hubungi untuk wawancara, beliau sedang di NTT, minggu depannya lagi sudah di Prancis memberikan kuliah, lalu ke Jepang, dan keliling Asia Tenggara. Itulah mengapa butuh waktu hingga tiga tahun lamanya untuk memadupadankan data sampai buku ini rampung,” tambah Tikwan.
Tantangan terakhir yang tidak kalah pelik adalah sensitivitas lingkungan. Sebagai tokoh konservasi yang sering berhadapan dengan konflik dan advokasi lingkungan, kisah Panut bersinggungan dengan banyak orang yang saat ini masih hidup. Tikwan harus meramu narasi dengan sangat hati-hati agar konflik masa lalu tetap terungkap secara jujur tanpa merugikan atau mencemarkan nama baik pihak lain.
Acara refleksi dan peluncuran buku ini juga menghadirkan empat penanggap utama yang membedah isi buku dari berbagai sudut pandang, yakni Prof.Dr. Edy Ikhsan, SH.,MA, Syafrizaldi Jpang (atau akrab disapa Aal Jpang), Yulhasni, dan Rizanul Arifin sebagai perwakilan media.
Hadir pula para senior gerakan lingkungan seperti Soekirman (mantan Bupati Serdang Bedagai dan pendiri Bitra Indonesia, akademisi, serta jajaran aktivis hijau lainnya yang selama ini bahu-membahu melindungi satwa liar dan habitatnya di Sumatra. Acara ini dimoderatori oleh Wanasari, Kepala Biro (Kabiro) tvOne wilayah Medan dan Sumatera Utara














