Denny Sumargo dan Caitlin Halderman Kisahkan Ujian Kehidupan di Film Baby Udon

MEDAN, KabarMedan.com | Perjuangan pasangan suami istri dalam menghadapi ujian kehidupan menjadi cerita utama yang diangkat dalam film Baby Udon. Terinspirasi dari kisah nyata, film ini menghadirkan cerita tentang cinta, keluarga, perjuangan memiliki buah hati, hingga bagaimana pasangan tetap bertahan ketika dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah.

Kisah tersebut mendapat respons positif dari penonton Kota Medan saat acara Meet and Greet dan Screening Film Baby Udon yang menghadirkan Denny Sumargo dan Caitlin Halderman di Plaza Medan Fair, Minggu (23/8).

Penonton memenuhi studio dan tampak larut mengikuti perjalanan Fanny dan Hajime. Sejumlah adegan dalam film bahkan membuat suasana screening berlangsung haru.

Denny Sumargo yang berperan sebagai Hajime Kondoh mengatakan, Baby Udon membawa pesan tentang bagaimana seseorang memandang perjalanan hidup dan berbagai persoalan yang datang di dalamnya.

Menurutnya, manusia terkadang keliru memaknai sebuah ujian dan menganggap sesuatu yang terjadi dalam hidup sebagai hal buruk. Padahal, terdapat makna lain yang dapat ditemukan dari setiap perjalanan tersebut.

“Film ini untuk menyampaikan pesan yang luar biasa dari hati, dari pemilik cerita ini kepada semua orang bahwa Tuhan itu Maha Baik. Tapi kadang-kadang kita suka berburuk sangka atau salah dalam menafsirkan apa yang Tuhan mau dalam hidup kita,” ujar Denny.

Ia menilai kisah dalam Baby Udon menjadi gambaran tentang besarnya kuasa Tuhan dalam kehidupan pasangan Hajime dan Fanny yang menghadapi berbagai persoalan dalam perjalanan rumah tangga mereka.

Tak hanya menghadirkan sudut pandang perempuan, film ini juga memperlihatkan perspektif laki-laki dalam menjalani peran sebagai suami dan ayah.

Denny mengatakan karakter Hajime memberikan gambaran mengenai bagaimana seorang pria menghadapi persoalan keluarga dan berusaha tetap berada di sisi orang yang dicintainya.

“Film ini sebenarnya bukan POV-nya hanya dari POV wanita, tapi ada POV laki-laki yang melihat sebagai seorang ayah, sebagai seorang pria dan sebagai seorang suami,” katanya.

Menurut Denny, keberagaman sudut pandang tersebut membuat cerita Baby Udon dapat dirasakan dari berbagai sisi, mulai dari pasangan, suami, istri, ayah hingga anak.

Ia juga merasakan respons yang berbeda dari penonton Medan. Menurutnya, masyarakat Medan memiliki karakter yang lebih berani dan ekspresif dalam menangkap berbagai pesan yang disampaikan melalui film.

“Hari ini di Medan aku merasa laki-lakinya lebih berani. Karena memang orang Medan itu lebih berani-berani ya,” ujar Denny.

Denny bahkan menyebut Medan menjadi salah satu kota dengan jumlah bioskop terbanyak yang menggelar special screening Baby Udon. Setelah Bandung membuka special screening di empat bioskop, Medan menggelarnya di lima bioskop.

“Kalau istilah aku sih Medan ini emang paten kali sih. Dan bioskop terbanyak yang dibuka untuk special screening itu ada di Medan sekarang posisinya,” katanya.

Respons penonton Medan juga membuat Denny sempat terdiam. Ia mengaku bertemu seorang perempuan yang memiliki pengalaman hidup serupa dengan kisah dalam film, terutama setelah kehilangan suaminya.

“Kita sempat speechless ya, nggak tahu mau ngomong apa. Karena ada seorang wanita tadi yang memang mengalami kisah yang sama, setelah suaminya meninggal dunia,” ungkapnya.

Denny berharap kehadiran Baby Udon di Medan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk memberikan penilaian dan kritik terhadap film tersebut.

“Harapannya sederhana, kita datang ke Medan, sama halnya ke kota lain, menitipkan Baby Udon ini untuk dibesarkan, di-review, jadi kritik kalau memang ada yang kurang, dan dinikmati pastinya,” tuturnya.

Film Baby Udon disutradarai Fajar Bustomi dan ditulis Oka Aurora. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 3 September 2026.

Melalui kisah Fanny dan Hajime, Baby Udon menghadirkan cerita keluarga yang emosional sekaligus mengajak penonton melihat kembali arti cinta, keteguhan, dan keyakinan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Film ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua hal yang dianggap sebagai ujian buruk harus berakhir dengan keputusasaan. Di balik perjalanan yang sulit, selalu ada kemungkinan untuk menemukan makna dan kebaikan dari rencana Tuhan.

Berkomentarlah secara bijaksana, komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator.

Please enter your comment!
Please enter your name here