Hari Kesehatan Mental dan Konsep Mencintai Diri Sendiri

Psikolog, Juliana Irmayanti Saragih(Foto: KabarMedan.com)

MEDAN, KabarMedan.com | Hari peringatan kesehatan mental dunia jatuh pada hari Sabtu (10/10/2020) lalu. Tagar yang sempat jadi trending topik nomor satu di Twitter itu memperlihatkan banyak bahasan tentang kepedulian terhadap kesehatan mental.

Psikolog Klinis Juliana Irmayanti Saragih menyoroti bahwa kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mental, khususnya di Indonesia semakin meningkat.

“Semakin kemari kepedulian masyarakat semakin meningkat, keingintahuan terhadap kesehatan mental itu semakin meningkat,” ujarnya.

Juliana menyatakan bahwa belakangan semakin marak kegiatan-kegiatan daring mengenai kesehatan mental yang melibatkan banyak orang. Selain itu, kehadiran konsultasi secara online baginya sangat membantu bagi orang-orang yang membutuhkan.

“Kemudian ada gerakan-gerakan konsultasi online, yang mana ini mungkin bisa merambah orang-orang yang memiliki keterbatasan untuk melakukan layanan konsultasi,” ucapnya.

Kesehatan mental yang tak kalah penting dari kesehatan secara jasmani menurut Juliana diawali dengan lingkungan seseorang.

“Kita tidak bisa pungkiri bahwa lingkungan tempat kita berada itu mempengaruhi. Rumah adalah tempat kita belajar paling dasar, orang tua adalah guru yang pertama kali mengajarkan kita kehidupan, kata Juliana.

Rumah yang menjadi sekolah pertama bagi seseorang menjadi pengaruh paling mendasar terhadap perkembangan mental.

“Maka yang paling mempengaruhi pertama kali tentu saja adalah kondusifitas dan keharmonisan di dalam rumah, bagaimana pola asuh orang tua,” jelasnya.

Baca Juga:  Tim Peserta Mulai Berdatangan, Gubernur Bobby Nasution Sukses Bawa Sumut Jadi Tuan Rumah AFF U-19

Staf pengajar di Fakultas Psikologi USU tersebut juga mengatakan bahwa mental yang dari awal terbentuk oleh lingkungan tersebut pada akhirnya menjadi tanggung jawab diri sendiri seiring dengan bertambahnya usia.

“Ini memang bisa membentuk dari kecil mental yang kuat atau mental yang sehat dari seorang anak, akan tetapi semakin kita dewasa, kesehatan mental menjadi tanggung jawab kita sendiri,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa keputusan untuk kesehatan mental merupakan hak prerogatif setiap orang terhadap kehidupannya.

“Kita mau sehat mental atau kita tidak mau sehat mental, itu keputusannya pada kita sendiri,” tukas Juliana.

Juliana menjelaskan bahwa kesehatan mental menurut WHO merupakan bentuk kesadaran diri dan pengendaliannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Definisi sehat mental kalau menurut WHO kan suatu keadaan di mana seseorang itu sejahtera, menyadari potensinya, mampu mengatasi stress sehari-hari, produktif, dan bisa berkontribusi terhadap orang lain,” jelasnya.

Pentingnya niat dan kesungguhan dalam melindungi kesehatan mental diri sendiri begitu dibutuhkan dalam menghadapi dinamika keseharian. Menurur Juliana, seseorang harus mulai dengan peduli pada dirinya sendiri terlebih dahulu.

Baca Juga:  Sumut Terima Pengembalian TKD Terbesar, Tito Karnavian Ungkap Alasannya

“Mulai dari diri sendiri, kita harus aware kita punya masalah apa sekarang. Kemudian masalah sehari-hari yang kita hadapi, kita punya keterampilan mengatasinya supaya tidak menjadi masalah yang lebih besar,” ujarnya.

Konsep tersebut juga harus didasari oleh penerimaan dan kecintaan terhadap diri sendiri, agar dapat mengembangkan potensi diri dan menjadi pribadi yang utuh.

“Yang pertama kali yang sebenarnya harus dikembangkan bahkan sejak masa kanak-kanak itu adalah mencintai dan menerima keadaan diri. Dengan mencintai diri sendiri kita menyadari kita memiliki kelebihan apa, kita bisa mengembangkan kelebihan itu,” kata Juliana.

Selain kelebihan yang menjadi potensi, manusia seringkali gelagapan menghadapi kekurangan yang ada pada dirinya terutama jika hal tersebut tersebut dibandingkan dengan orang lain.

“Kita punya kelemahan juga harus kita terima itu, kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas kelemahan yang kita miliki. Fokusnya pada kelebihan, tidak dikekurangan,” terangnya.

Juliana menekankan konsep mencintai diri sendiri, untuk menerima diri sepenuhnya dan terus bertumbuh.

“Dengan mencintai diri sendiri kita akan menerima diri kita dan tidak akan membandingkan dengan orang lain”, pungkasnya. [KM-06]