
MEDAN, KabarMedan.com | Untuk kesekian kalinya terjadi konflik harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kecamatan Bahorok, Langkat. Kali ini, seekor lembu dewasa di daerah Sinar Alas, Desa Bukit Lawang ditemukan mati dengan luka diduga akibat gigitan harimau. Tercatat, dari 2014 sudah terjadi 9 – 10 konflik. Salah satu solusi yang dilakukan adalah menyiapkan kandang anti serangan harimau.
“Kejadiannya di daerah Sinar Alas. Itu berbatasan langsung dengan TNGL dengan kebun warga. Bangkai lembunya kita temukan di parit kebun, hanya 15 meter dari batas TNGL,” ujar Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah V Bohorok, Palber Turnip, Kamis (12/11/2020) siang.
Dikatakan Palber, pihaknya menerima laporan dari warga masyarakat adanya bangkai lembu di dalam parit kebun dan langsung turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) serta mitra lainnya pada Senin (9/11/2020) pagi. Diketahui, pada tubuh lembu terdapat luka diduga kuat akibat gigitan harimau. Di lokasi juga ditemukan jejak dan bekas cakaran harimau.
Tim, kata dia, sudah memasang camera trap di sekitar lokasi namun tidak ditemukan tanda-tanda kemunculan harimau. Kemungkinan besar, harimau tersebut enggan datang kembali lagi karena posisi bangkai lembu berada di dalam parit yang dalam menyerupai jebakan. Begitu pun tim juga sudah membakar bangkai lembu tersebut di lokasi ditemukan.
“Itu kita gagas untuk membakarnya agar nyalinya ciut dan tidak datang lagi. Dan secara ilmiah, itu bisa menghilangkan jejak yang ditinggalkannya, misalnya cakaran, air liur, dan lainnya sehingga harimau itu tidak bisa lagi mendapatkan lokasi mangsanya. Di sisi lain, dia juga sudah mengendus keberadaan manusia di lokasi,” katanya.
Dikatakannya, pada bangkai lembu tersebut hanya ada bekas luka gigitan dan belum sempat dimakan oleh harimau. Pihaknya menduga bahwa harimau yang hendak memangsa lembu tersebut masih remaja. “Itu pola harimau remaja. Pertama dia lakukan adalah mematikan mangsanya dulu karena kemungkinan kecapekan mengingat mangsanya lebih besar dan akan didatanginya keesokan harinya,” katanya.
Pihaknya akan berada di lokasi hingga 5 hari ke depan untuk membunyikan petasan atau mercon untuk menghalau harimau itu agar masuk ke dalam kawasan. Selain itu, keberadaannya adalah untuk memberi rasa nyaman dan aman kepada masyarakat yang resah dengan kehadiran harimau tersebut.
Konflik Sejak 2014
Palber menambahkan, konflik harimau sudah sering terjadi di sekitar perbatasan TNGL sejak tahun 2014. Hingga sekarang, diperkirakan sudah terjadi sebanyak 9 – 10 konflik. Di mana harimau keluar dari TN memasuki areal warga dan memangsa ternak.
“Dari kamera trap, itu adalah individu berbeda dan remaja. Satu sisi ini konservasi kita berhasil, mungkin populasi sudah meningkat di situ. Tapi mungkin faktor lain, kondisi Covid-19 dengan kunjungan manusia ke hutan tidak ada jadi harimau merasa leluasa untuk keluar, tak merasa ada ancaman,” katanya.
Hal lain yang membuat masih terjadinya konflik adalah masyarakat masih menggembalakan ternaknya di perbatasan dengan TNGL yang menjadi habitat asli harimau. “Kita dari dulu mengajak masyarakat agar mengandangkan ternak lembunya. Kita sudah fasilitasi kelompok atau individu. Sudah dibangunkan 3 atau 4 kandang anti harimau,” katanya.
Menurutnya, bisa jadi keengganan masyarakat mengandangkan ternaknya karena akan menambah aktifitas dengan mencari rumput sebagai pakan. “Harus ada win-win solution. Kita siapkan kandangnya. Urusan kita adalah agar konservasi menjaga ketersediaan pakan hewan misalnya rusa, babi hutan dan lainya. Kita missed, menganggap babi hutan tidak penting padahal itu sumber pakan harimau. Sudah ada keluar aturan membatasi perburuan babu hutan tapi praktiknya belum ada,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi wilayah II BBKSDA Sumut Herbert Aritonang mengatakan pihaknya masih melakukan patroli dan sosialisasi ke masyarakat agar pola beternak lembunya tidak lagi dilepaskan begitu saja di lahan. Menurutnya, sebaiknya ternak lembu tersebut dikandangkan. “Hari Senin di beberapa desa sekitar bersama dengan mitra WCS mencoba membuat kandang anti serangan harimau. Dekat dengan lokasi itu, biar menjadi contoh ke masyarakat,” katanya.
Ketika ditanya berapa kapasitas kandang tersebut, menurutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat atau kelompok. “Di sana juga akan koordinasi dengan pihak perkebunan agar mereka ada responsibility jika ada konflik di dekat atau di areal kerja mereka. (lokasi konflik) berbatasan dengan lokasi LNK, Langkat Nusantara Kepong,” katanya. [KM-05]













